Bercerai dan menikah kembali secara sipil – mengapa tidak boleh dan kapan boleh menyambut Komuni”

6 09 2012

Sumber:http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Puisi&table=issi&id=1221

 Oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli

Tidak dapat dipungkiri bahwa kasus-kasus perceraian di Indonesia ditemukan juga di kalangan umat Kristen dan Katolik. Masalah perceraian di dalam lingkungan Gereja, khususnya Gereja Katolik di Indonesia di mana umat kebanyakan masih memiliki rasa hormat dan patuh terhadap ajaran Gereja Katolik dan meyakini kesucian dari Sakramen Pernikahan, menjadi masalah yang  pelik karena melibatkan seluruh aspek kehidupan. Gereja Katolik mengajarkan bahwa di dalam Sakramen Pernikahan terletak hubungan cinta-kasih yang tak terpisahkan baik antara pria dan wanita yang disatukan oleh sakramen itu, namun yang jauh lebih penting hubungan cinta-kasih antara Allah dan manusia. Melalui pernikahan yang diresmikan oleh Gereja itu tercipta sebuah kehidupan menggereja yang lengkap, yang melibatkan pasangan suami istri (pasutri).

Di Indonesia, tema perceraian di dalam lingkungan gereja ini jarang diangkat ke permukaan, sehingga menyebabkan banyak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman di antara umat akan pandangan Gereja dan penilaian umat kebanyakan terhadap orang-orang yang menderita perceraian itu.

Lalu di dalam kenyataannya, saat kehidupan pernikahan meretak dan perceraian tak terelakkan, bagaimanakah sesungguhnya sikap Gereja Katolik terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya? Apakah pasutri yang berpisah dan bercerai masih dapat menerima Komuni? Dan apabila tidak, mengapa? Di Eropa dan negara-negara Barat, ini adalah beberapa hal yang banyak ditanya orang terhadap aturan Gereja Katolik, yang sering didengungkan, dan bahkan di antara umat sendiri banyak keraguan dan luka yang menyakitkan hati nurani. Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi suatu hal yang sangat aktual.

Di dalam wawancara yang dilakukan oleh Avvenire, surat kabar CEI (Konferensi Waligereja Italia) dengan Monsignor Eugenio Zanetti, selaku pemimpin Pengadilan Gerejawi di wilayah Lombardia, Italia dan penanggungjawab dari kelompok “La Casa”, yang di bawah keuskupan Bergamo melakukan bimbingan rohani dan konsultasi kanonik bagi pasutri yang bepisah, bercerai atau menikah kembali secara sipil, artikel ini hendak mengajak umat Kristen dan Katolik di Indonesia untuk mencoba memahami dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hangat yang timbul di dalam tema perceraian. Read the rest of this entry »





Merenungkan EKARISTI DAN PERKAWINAN

11 05 2012

Beberapa calon pengantin ketika ditanya tentang kebanggaannya terhadap perkawinan kristiani mengungkapkan bahwa mereka bersyukur karena perkawinan kristiani bercirikan kesetiaan seumur hidup. Hal ini memberi jaminan bagi keutuhan keluarga. Mereka tidak perlu khawatir akan ditinggalkan atau diceraikan pasangannya. Pandangan ini mendapat peneguhan dari makna perkawinan kristiani itu sendiri, yaitu sebagai persekutuan hidup  antara seorang pria dan seorang wanita yang terjadi karena persetujuan pribadi dan bersifat tetap atau tidak dapat ditarik kembali sehingga menuntut kesetiaan sempurna.

Tetapi mengapa perkawinan kristiani menuntut kesetiaan seumur hidup alias sampai mati? Jawabannya amat mengharukan dan sekaligus kudus: hubungan kasih antara suami dan isteri melambangkan hubungan kasih yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Suami-isteri yang manusia rapuh boleh melambangkan dan menghadirkan hubungan kasih tak terceraikan antara Kristus dan Gereja. Hal ini hanya mungkin dan sinar kekudusan Kristus dan Gereja-Nya tetap terpancarkan dalam perkawinan dari pasangan kristiani ini apabila sumber kekuatannya didasarkan pada Ekaristi. Read the rest of this entry »





Merenungkan EKARISTI DAN PENGURAPAN ORANG SAKIT

10 05 2012

Dalam perayaan Ekaristi Hari Orang Sakit sedunia, suatu paroki memberikan pelayanan pengurapan orang sakit kepada umat yang sudah lanjut usia. Pada mulanya, yang menerima minyak suci hanya yang sudah lanjut usia dan yang sakit saja. Tetapi lama kelamaan pada tahun-tahun berikutnya, ada umat yang masih sehat, dewasa, bahkan kaum muda dan anak-anak remaja, yang ikut maju antri menerima sakramen pengurapan orang sakit ini.

Ketika ditanya, mereka yang masih sehat ini berkata: “Ingin merasakan, kayak apa ya menerima minyak suci ini”. Praktek penerimaan sakramen pengurapan orang sakit yang asal-asalan, artinya juga diberikan kepada orang yang jelas masih sehat walafiat, padahal tidak ada bahaya kematian yang konkret, tentulah tidak dianjurkan sama sekali. Namanya saja sakramen pengurapan orang sakit, maka yang berhak dan semestinya menerima sakramen ini ialah orang sakit. Read the rest of this entry »





Merenungkan: Ekaristi dan Penguatan

7 05 2012

Pada suatu ketika, Rama Paroki mengadakan penyelidikan kanonik kepada calon pengantin. Satu persatu dari calon itu diminta omong-omong  dengan  pastor. Ternyata didapati bahwa salah satu calon pengantin tersebut belum menerima sakramen penguatan. “Sudah mau jadi manten, kok belum penguatan ta mas?” tanya Rama Paroki. “Lha tidak ngerti kapan harus menerima je, Rama” jawabnya. “Sudah menerima komuni belum?”, tanya Rama itu lagi. Jawabnya, “Sudah Rama, saya baptis dewasa, tapi penguatan kok ndak mudheng (tidak paham) kapan diterimakannya. Tahu-tahu saya lulus sekolah, kerja dan dapat calon bojo (jodoh)”. Inilah kejadian yang sering terjadi. Ada orang Katolik yang tahunya sudah menerima baptis dan sudah boleh komuni. Sementara sakramen lain, termasuk penguatan tidak masuk dalam hitungannya.

Sakramen krisma atau penguatan termasuk sakramen inisiasi, selain baptis dan Ekaristi pertama. Krisma (dari bahasa Yunani: chrisma = pengurapan) atau penguatan (terjemahan kata Latin: confirmatio) diterimakan oleh Bapa Uskup sebagai pemimpin Gereja yang resmi di keuskupan kita. Sakramen ini diterimakan dengan urapan minyak krisma oleh Bapa Uskup pada dahi penerima Krisma dengan kata-kata: “NN, terimalah tanda karunia Roh Kudus”. Dengan penerimaan sakramen krisma ini, seorang Katolik dilantik melalui pencurahan Roh Kudus menjadi warga Gereja yang penuh dan harus siap ikut bertanggungjawab dengan segala tugas dan kewajiban Gereja sebagai saksi Kristus di tengah masyarakat! Read the rest of this entry »





Dimana Minyak Narwastu Kita?

2 04 2012
“Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu”
Sebulan sudah saya tidak posting renungan di blog ini. Bukan hanya itu, ribuan emailpun terlewatkan tidak sempat terbaca. Beberapa teman sampai SMS saya minta dibalas. Mohon maaf ya, memang lebih baik telp/SMS saja sementara ini. Apalagi alasannya kalau bukan sibuk. Tiga project berjalan secara simultan menuntut enersi yang membuat saya sering jatuh tertidur dengan laptop masih menyala. Hhmm… siapa lagi kalau bukan suami dan anak-anak yang mematikannya.Bangun tidur tiba-tiba sudah menjelang pagi, hanya sempat merenungkan Firman Tuhan dan meneduhkan diri berdoa sejenak untuk kemudian lanjut dengan berbagai jadual yang padat. Bukan hanya jadual meeting yang padat, tapi juga jadual flight yang padat. Koper saya bisa teriak kalau dia bisa bicara karena diseret kesana-sini. Belum cukup istirahat  sudah diangkut lagi ke kota-kota lain. Menjelang Tri Hari Suci, hari inipun saya memulai jadual perjalanan seminggu yang cukup padat : Medan – Batam – Surabaya.
Ini bukan April Mop, tapi memang baru kemarin saya meminta waktu khusus untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi menjelang Paskah. Ini bukan masalah pengakuan dosa bisa dimana sajasal ketemu romo. Tapi bagi saya komitmen untuk sakramen tobat saya upayakan selalu bertemu romo paroki, sebagai pendamping rohani saya. Komitmen untuk menerima Sakramen Tobat setiap dua bulanpun dilanggar. Duuh… Gusti, nyuwun ngapuro. Gak heran kalau emosi sering tak terkendali sebulan ini. Begitulah kalau komitmen yang sederhana tidak bisa dilakukan, mana bisa diberikan tugas yang lebih besar. Damai sejahtera saya hilang hari itu jika pagi-pagi sudah marah pada supir gara-gara dia salah ambil jalan. Biasanya saya salahkan dia, tapi sesudahnya saya juga yang menyesal kenapa harus marah karena urusan sepele. Gara-gara marah pada hal kecil, suasana hati sehari itu sungguh tidak damai sejahtera. Buntutnya saya juga yang rugi, tidak bisa merasakan damai sejahtera yang Allah sediakan hari itu. Kalau sudah hilang damai sejahtera, susah sekali membuat suasana hati siap untuk menulis berbagi pengalaman akan kasih Tuhan.




Lakukan Apa Yang Kita Ajarkan

22 08 2011

“Celakalah kamu hai ahli Taurat dan orang Farisi”

Biasanya saya sudah merencanakan hari Sabtu dan Minggu untuk diisi dengan kegiatan bersama keluarga.  Tetapi ternyata sabtu ini anak-anak sudah punya acara sendiri, dan  saya diminta menjadi ketua kelompok pada Seminar Hidup Dalam Roh yang diselenggarakan PDKK. Awalnya cuma hari jum’at malam, tapi karena kekurangan ketua kelompok akhirnya keterusan sampai sepanjang sabtu dan minggu siang. Eh masih ditambah lagi, saat sakramen pengampunan dosa, saya diminta membantu sebagai konselor bagi beberapa peserta yang masih menjadi katekumen sehingga tidak dapat mengikuti sakramen pengakuan dosa.

Sedih mendengarkan kisah masing-masing orang yang begitu dilukai oleh tindakan dan perkataan orang-orang disekitranya, khususnya anggota keluarganya sendiri. Begitu tajamnya perkataan tersebut hingga melukai perasaan mereka, bahkan ada yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Saya seperti diingatkan Tuhan pada saat konseling tersebut untuk melihat kembali perkataan dan perilaku saya pada anggota keluarga dirumah. It’s not easy to teach and to show what you preach.

Betul sebagai pewarta Kabar Baik, kita harus siap membagikan pengalaman kita akan cinta Tuhan kepada siapapun yang Tuhan kirim kepada kita Read the rest of this entry »





HR Tubuh & Darah Kristus di Gedono

26 06 2011

Pagi ini menjadi tidak biasa di pertapaan Bunda Pemersatu Gedono, Salatiga. Misa hari Minggu yang biasanya diadakan pk 10.00 hari ini dimulai pk 09.30. Ternyata kerena hari ini adalah Hari Raya Tubuh & Darah Kristus, dimana komunitas Gedono ingin merayakan secara lebih khusus. Misa dipersembahkan oleh Rm. Mulyatno, Pr. Umat berjubel sampai di luar kapel. Hebatnya lagi semua tetap khusuk tanda menghargai keheningan yang menjadi andalan pertapaan ini dan tidak ada yang beranjak dari tempatnya.

Setelah misa diadakah prosesi Sakramen Maha Kudus, keluar dari Kapel (lihat foto I) menuju altar I di depan pintu utama biara diiringi suara merdu para suster dengan pujian “Aku Sembah Sujud”. Dari Altar I  diiringi lagu “Akulah roti hidup” menuju Altar II yang terletak di samping belakang kapel (Lihat foto). Setelah itu menuju ke dalam kapel lagi untuk ditahtakan sampai ibadat sore nanti.Petugas jaga bakti-pun telah siap.

Prosesi diawali oleh para Suster, Romo, dan umat mengikuti di belakangnya.Sehingga umatpun bisa ikut mencicipi keindahan lahan biara yang berada di samping-belakang kapel, yang selama ini tertutup (hanya saat2 perayaan tertentu dibuka). Sungguh mengharukan dan bersyukur bisa mengalami peristiwa iman ini. Semoga penghormatan terhadap Sakramen Maha Kudus semakin mendarah daging, begitu pula semangat ber-adorasi di KAS semakin menggema dan menghidupi keseharian kita semua dimanapun berada.

Berkah Dalem – Lena S