Sulitnya Mengucap Syukur dan Berterima Kasih

14 11 2012

“Kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring”

Ada 3 kata yang diajarkan para ibu bagi anak-anaknya sejak kecil, tetapi ternyata paling sulit diucapkan bila seseorang sudah memiliki kedudukan dan posisi yang semakin tinggi : Tolong, Terima kasih dan Maaf. Kalau ada maunya mereka lebih mudah tinggal beri perintah, tentu saja karena memiliki kekuasaan sudah pasti dilaksanakan. Tidak perlu menggunakan kata Tolong, apalagi ber-terimakasih dan minta maaf bila berbuat salah. The king can do no wrong – mana ada raja yang berbuat salah. Itu pemeo yang umum terjadi, karena dengan kekuasaan maka seolah-olah bisa menafikan segalanya.

Tetapi juga tanpa disadari, kita sendiri ketika ada suatu keperluan seperti mencari sumbangan, pinjaman dsb akan berusaha kesana kemari dan dengan tidak lupa menggunakan kata ‘tolong’. Tetapi begitu sumbangan atau pinjaman diterima langsung diam seribu bahasa terhadap yang memberi sumbangan atau pinjaman. Read the rest of this entry »





Ekaristi Sebagai Roti Kehidupan

26 08 2012
“Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Sabda-Mu adalah sabda hidup yang kekal.”
Bila pertolongan Tuhan datang seperti manna jatuh dari langit di masa kelaparan bangsa Israel, wah… nikmat sekali. Tinggal mungutin manna yang katanya manis dan dikumpulkan menjadi satu lalu dimakan rame-rame. Tidak usah disimpan karena besok Tuhan akan berikan lagi manna yang baru siap untuk dimakan. Maka saat Yesus mengatakan bahwa para pengikutNya juga harus memakan roti dari surga yaitu TubuhNya sendiri, sama seperti pada jaman perjanjian lama, mereka pada kecewa dan menjauhiNya. Mana mungkin? Bagaimana caranya, apalagi harus minum darahNya? Wah yang mboten-mboten aja. Sejak itulah banyak murid-murid Yesus meninggalkan Dia. Itulah sifat manusia, maunya gampang maunya dimanja tidak mau hidup susah. Tinggal pungut tinggal makan, tidak perlu susah payah berusaha.
Injil hari ini merupakan puncak dari beberapa bacaan  minggu ini tentang Roti Hidup. Yesuslah Roti Hidup yang turun dari Surga. Ia yang telah mengurbankan diriNya, menderita sengsara sampai wafat dan bangkit agar manusia mendapatkan kehidupan kekal. Melalui pengajaranNya, Ia sudah menyampaikan pesan tentang pentingnya Ekaristi secara teratur karena itulah makanan yang membuat rohani kita kuat senantiasa. Sayangnya banyak umat katolik kurang memahami esensi Ekaristi dengan benar. Diperlukan katekese mendalam dan terus menerus agar mereka yang dibaptis dan telah menerima Komuni Pertama memahami arti Ekaristi, sehingga semakin mencintainya sebagai sumber kekuatan. Dan bukan malah meninggalkannya. Sehingga tugas para orangtua katolik memang tidak mudah untuk mengajarkan arti ekaristi pada anak-anaknya terus menerus sejak mereka menerima Komuni Pertama. Lha kalau orang tuanya saja tidak mengerti apa iya bisa menyampaikannya dengan benar ke anak-anaknya? Read the rest of this entry »




Bersama Yesus Tidak Kenal Haus dan Lapar

5 08 2012

Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

Mana yang lebih penting, hidup apa makan? Hidup untuk makan atau makan untuk tetap hidup? Mungkin secara sadar kita memilih hidu. Tetapi secara tidak sadar, dan faktanya kita menunjukkan bahwa makan itu untuk hidup, bahwa makan lebih penting daripada hidup. Tanpa menunjuk hidung, kita sudah lihat disekitar kita bagaimana orang-orang berlomba mengejar posisi dan menumpuk kekayaan. Untuk apa? agar bisa dapat rumah lebih bagus, gaji lebih besar, sekolah anak-anak lebih mentereng dsb.

Secara tidak sadar kita melakukan apa yang bertentangan dengan hal yang mendasar, bahwa hidup itu jauh lebih penting daripada makanan. Hidup didunia tentu ada batasnya, seperti disebut didalam kitab Mazmur 90:10 “Masa Hidup Kami Tujuh Puluh Tahun
Dan Jika Kami Kuat, Delapan Puluh Tahun”
Waktu muda badan masih kuat bisa makan apa saja, tetapi tidak punya uang untuk membeli segala yang nikmat. Maka hidup manusia diisi dengan segala daya upaya meningkatkan taraf hidup semaksimal mungkin agar bisa menikmatinya. Tetapi saat sudah tua, sudah kaya raya, bisa membeli kenikmatan dunia. Tetapi sayangnya badan sudah renta banyak pantangan, sehingga tidak kuat pergi kesana-sini dan tidak bisa makan sembarangan. Tau-tau ya sudah dekat game over… Read the rest of this entry »





Merenungkan MAKNA TINGGAL DALAM KRISTUS SECARA ESKATOLOGIS

17 05 2012

”Aku menjadi tersadar beberapa detik dalam suasana hati yang campur aduk antara bersyukur dan menyesal. Aku bersyukur karena diperkenankan memahami rahasia ini dan menjadi tahu bagaimana yang seharusnya bersikap pada saat Ekaristi. Aku juga merenung sambil menyesali sikap dan perilaku diriku di masa lalu akibat dari ketidakpahamanku tentang rahasia suasana ilahi ini. Oh, betapa kita telah melecehkan Tuhan karena kebodohan kita”.

Ini adalah sepenggal pengalaman seorang bapak dan ibu yang merasa tersentuh saat merayakan Ekaristi. Bagi bapak ibu ini, perayaan Ekaristi adalah saat tinggal bersama dan dalam Yesus.

Hari ini Hari Raya Kenaikan Tuhan. Dengan kenaikan-Nya, Tuhan Yesus dimuliakan. Kini Ia duduk di sisi kanan Allah Bapa. Dia masuk dalam kemuliaan-Nya yang penuh bersama Bapa dan Roh Kudus. Akan tetapi Tuhan Yesus yang dimuliakan itu tetap tinggal dan hadir di tengah kita. Read the rest of this entry »





Merenungkan MAKNA TINGGAL DALAM KRISTUS SECARA TEMPORAL

14 05 2012

Ada tulisan cukup besar dipasang di pintu masuk sebuah gereja: “DATANG TERLAMBAT MENGGANGGU UMAT, PULANG CEPAT TIDAK MENDAPAT BERKAT”. Tentusaja, orang dapat berdiskusi: apakah berkat Tuhan dalam Misa Kudus terbatas hanya pada yang tidak pulang duluan. Akan tetapi pesan tulisan itu sudah amat jelas: marilah kita mengikuti Misa Kudus secara utuh, dari awal sampai akhir! Dan harapan pesan ini sangat baik dan tepat. Repot lagi, ada juga umat yang mencari Misa Kudus yang serba cepat, tidak “pakai lama”. Kesannya orang macam ini tidak “ikhlas” berlama-lama bersama Tuhan dan umat dalam perayaan Ekaristi.

Bila kita membaca Injil, ternyata Yesus sangat suka berdoa. “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Mrk 1:35). Jadi Yesus rajin bangun pagi, bukan suka bangun siang alias ngebluk. Dan kalau berdoa, Yesus juga sering berdoa berlama-lama, bahkan semalam-malaman. “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (Luk 6:12). Read the rest of this entry »





Merenungkan EKARISTI DAN PERKAWINAN

11 05 2012

Beberapa calon pengantin ketika ditanya tentang kebanggaannya terhadap perkawinan kristiani mengungkapkan bahwa mereka bersyukur karena perkawinan kristiani bercirikan kesetiaan seumur hidup. Hal ini memberi jaminan bagi keutuhan keluarga. Mereka tidak perlu khawatir akan ditinggalkan atau diceraikan pasangannya. Pandangan ini mendapat peneguhan dari makna perkawinan kristiani itu sendiri, yaitu sebagai persekutuan hidup  antara seorang pria dan seorang wanita yang terjadi karena persetujuan pribadi dan bersifat tetap atau tidak dapat ditarik kembali sehingga menuntut kesetiaan sempurna.

Tetapi mengapa perkawinan kristiani menuntut kesetiaan seumur hidup alias sampai mati? Jawabannya amat mengharukan dan sekaligus kudus: hubungan kasih antara suami dan isteri melambangkan hubungan kasih yang tak terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Suami-isteri yang manusia rapuh boleh melambangkan dan menghadirkan hubungan kasih tak terceraikan antara Kristus dan Gereja. Hal ini hanya mungkin dan sinar kekudusan Kristus dan Gereja-Nya tetap terpancarkan dalam perkawinan dari pasangan kristiani ini apabila sumber kekuatannya didasarkan pada Ekaristi. Read the rest of this entry »





Merenungkan EKARISTI DAN PENGURAPAN ORANG SAKIT

10 05 2012

Dalam perayaan Ekaristi Hari Orang Sakit sedunia, suatu paroki memberikan pelayanan pengurapan orang sakit kepada umat yang sudah lanjut usia. Pada mulanya, yang menerima minyak suci hanya yang sudah lanjut usia dan yang sakit saja. Tetapi lama kelamaan pada tahun-tahun berikutnya, ada umat yang masih sehat, dewasa, bahkan kaum muda dan anak-anak remaja, yang ikut maju antri menerima sakramen pengurapan orang sakit ini.

Ketika ditanya, mereka yang masih sehat ini berkata: “Ingin merasakan, kayak apa ya menerima minyak suci ini”. Praktek penerimaan sakramen pengurapan orang sakit yang asal-asalan, artinya juga diberikan kepada orang yang jelas masih sehat walafiat, padahal tidak ada bahaya kematian yang konkret, tentulah tidak dianjurkan sama sekali. Namanya saja sakramen pengurapan orang sakit, maka yang berhak dan semestinya menerima sakramen ini ialah orang sakit. Read the rest of this entry »