Pesan DIbalik Sabda Tuhan

20 04 2013

“PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal”

Memperhatikan orang-orang yang datang ke Misa, sering geli juga mendengar komentar mereka terhadap homili romo. Kalau romo nya lucu banyak mengundang tawa, mereka bilang kotbahnya bagus menyegarkan. Kalau romonya bicara terlalu lama, mereka mengatakan kotbahnya membosankan. Kalu romonya bicara sedikit keras mengingatkan mereka akan perilaku yang harus ditinggalkan, katanya romonya galak. Marh-marah di mimbar hehehe…. Kalau romonya promosi tentang suatu hal, dikatakan romo mata duitan. Kita hanya ingin mendengar apa yang menyenangkan hati kita saja. Diluar dari itu tidak penting.

Mungkin kita tidak menyadari bahwa mempersiapkan homili itu amat sangat susah dan bisa bikin perut para romo mules. Bayangkan anda harus membuat renungan sejalan dengan bacaan hari itu tetapi harus bisa ditangkap umat dalam rentang usia macam-macam, latar belakang yang berbeda dan harus menarik. Kalau 3 menit pertama tidak mampu menarik pendengar, umat bisa sibuk sendiri dengan HP sucinya dan bahkan ada yang siap-siap pasang posisi tidur. Read the rest of this entry »

Advertisements




Kencangkan Ikat Pinggang

23 10 2012

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala”

Di berbagai tempat rawan bencana, seharusnya sudah dibentuk budaya siaga dan waspada.bencana terutama karena kita tinggala di wilayah ” Ring of Fire”. Tempat-tempat seperti di sekitar gunung berapi, daerah rawan banjir dan rawan tanah longsor, perlu dilakukan latihan evakuasi agar setiap orang tahu apa dan kemana harus pergi bila bahaya ada di depan mata. Bila tidak pernah diajarkan dan dilatih maka bila kepanikan terjadi saat bencana, akan lebih banyak korban berjatuhan.

Disatu sisi kita memang harus membentuk budaya waspada agar kita tidak shock, tidak terkejut dengan bencana dan bahaya yang diprediksi akan datang. Tapi disisi lain kita pun juga harus memiliki sikap waspada dan siaga untuk terus bekerja dan menjadi produktif.  Mencari dan berusaha maksimal ‘mumpung’ hari masih siang, mumpung tidak ada bencana. Mumpung kita masih muda, mumpung kita masih sehat, mumpung masih ada waktu, mumpung ada kesempatan.

Boleh saja kita punya attitude ‘prepare for the worst’  atau ‘worst come to worst’ yang maksudnya baik, mempersiapkan segala alternatif terburuk bila asumsi-asumsi tidak berlaku. Dunia bisnis biasa melakukannya, sehingga mereka menumpuk cadangan yang kadang menjadi mubazir. Kalau-kalau nanti susah, maka masih ada cukup cadangan. Hari ini kita diingatkan untuk membangun sikap “prepare for the best”, sikap ‘alert’ atau waspada untuk setiap kesempatan baik yang datang. Jangan sampai kita membuang kesempatan untuk berbuat yang terbaik, memberikan yang maksimal  – giving your very best – untuk kemuliaan Tuhan. Read the rest of this entry »





Merenungkan : Ekaristi & Sakramen Baptis

5 05 2012

Dalam rapat Dewan Paroki tertentu, terjadi perdebatan sengit antara dua pendapat, baptisan itu sebaiknya di dalam misa atau di luar misa. Kalau di dalam misa, nanti kelamaan misanya, padahal umat dan romo keburu ke pasar, ke tempat belanja, atau ke pusat keramaian kota. Kalau di luar misa, nanti yang hadir cuma keluarga, kurang meriah. Pastor paroki bingung menghadapi dua kubu ini, kemudian asam lambungnya kumat dan ngaso di rumah sakit.

Sebenarnya romo tidak perlu ngaso di rumah sakit karena alasan itu, kalau memahami gagasan Paus Benediktus dalam Sacramentum Caritatis art 17 bahwa Ekaristi itu sungguh sumber dan puncak kehidupan serta perutusan Gereja.  artinya semua perayaan keenam sakramen selalu terarah  dan mengalir dari Ekaristi.  Kita mengenal  sakramen-sakramen inisiasi yang meliputi sakramen  baptis, krisma atau penguatan dan ekaristi yang pertama. Ekaristi yang pertama berarti saat seseorang yang telah dibaptis  itu mengikuti perayaan Ekaristi secara utuh dan penuh yang tandanya: menyambut komuni. nah, saat anak-anak menerima komuni pertama itulah, mereka merayakan Ekaristi sebagai bagian dari sakramen inisiasi. lalu misa-misa selanjutnya tidak lagi termasuk sakramen inisiasi. Gereja juga mengajarkan bahwa perayaan sakramen baptis dan krisma yang ideal mesti dilaksanakan dalam rangka Misa kudus juga, kecuali tentu saja untuk baptisan (dan krisma) darurat.

Benarkah bahwa baptisan dalam Misa kudus akan memakan waktu lama? Poinnya tentu bukan soal lama atau singkatnya. saat merayakan baptisan, kita sedan menerima  anggota atau warga baru. layaklah kita merayakannya dengan penuh kelonggaran hati dan waktu serta rasa sukacita dan semangat welcome. selain itu, bila tata liturginya dipersiapkan sungguh, sebenarnya perayaan-perayaan liturgi dapa mengalir lancar dan tidak memakan waktu lama.





Dimana Minyak Narwastu Kita?

2 04 2012
“Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu”
Sebulan sudah saya tidak posting renungan di blog ini. Bukan hanya itu, ribuan emailpun terlewatkan tidak sempat terbaca. Beberapa teman sampai SMS saya minta dibalas. Mohon maaf ya, memang lebih baik telp/SMS saja sementara ini. Apalagi alasannya kalau bukan sibuk. Tiga project berjalan secara simultan menuntut enersi yang membuat saya sering jatuh tertidur dengan laptop masih menyala. Hhmm… siapa lagi kalau bukan suami dan anak-anak yang mematikannya.Bangun tidur tiba-tiba sudah menjelang pagi, hanya sempat merenungkan Firman Tuhan dan meneduhkan diri berdoa sejenak untuk kemudian lanjut dengan berbagai jadual yang padat. Bukan hanya jadual meeting yang padat, tapi juga jadual flight yang padat. Koper saya bisa teriak kalau dia bisa bicara karena diseret kesana-sini. Belum cukup istirahat  sudah diangkut lagi ke kota-kota lain. Menjelang Tri Hari Suci, hari inipun saya memulai jadual perjalanan seminggu yang cukup padat : Medan – Batam – Surabaya.
Ini bukan April Mop, tapi memang baru kemarin saya meminta waktu khusus untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi menjelang Paskah. Ini bukan masalah pengakuan dosa bisa dimana sajasal ketemu romo. Tapi bagi saya komitmen untuk sakramen tobat saya upayakan selalu bertemu romo paroki, sebagai pendamping rohani saya. Komitmen untuk menerima Sakramen Tobat setiap dua bulanpun dilanggar. Duuh… Gusti, nyuwun ngapuro. Gak heran kalau emosi sering tak terkendali sebulan ini. Begitulah kalau komitmen yang sederhana tidak bisa dilakukan, mana bisa diberikan tugas yang lebih besar. Damai sejahtera saya hilang hari itu jika pagi-pagi sudah marah pada supir gara-gara dia salah ambil jalan. Biasanya saya salahkan dia, tapi sesudahnya saya juga yang menyesal kenapa harus marah karena urusan sepele. Gara-gara marah pada hal kecil, suasana hati sehari itu sungguh tidak damai sejahtera. Buntutnya saya juga yang rugi, tidak bisa merasakan damai sejahtera yang Allah sediakan hari itu. Kalau sudah hilang damai sejahtera, susah sekali membuat suasana hati siap untuk menulis berbagi pengalaman akan kasih Tuhan.




Gong Xie Fat Chai – Romo Tanpa Kasut

23 01 2012

Beberapa tahun ini, setiap tahun baru Imlek kami selalu berkumpul bersama di rumah mertua di kota Bandar Lampung. Meskipun kadang terasa risih karena meskipun kami sudah berkeluarga, kami selalu diperlakukan seperti anak-anak yang belum mandiri; bila kami bilang punya waktu untuk datang merayakan Imlek bersama mereka, maka segala urusan tiket pesawatpun dipesankan oleh mereka, pernah kami beli tiket jauh-jauh hari tetap saja mereka transfer pengganti uang tiket. Urusan angpaopun, saat kami membagi-bagikan angpao buat para keponakan kami, merekapun memberikan angpao buat para cucu. Tapi setelah itu kami anak menantunya dikumpulkan  dan kamipun ‘dipaksa’ juga menerima angpao, meskipun kami bilang kami sudah berkeluarga dan bisa mandiri tidak perlu lagi diberi angpao, tapi mereka tetap bersikukuh memberikan angpao pada kami sebagai tanda syukur bahwa kami telah mau hadir berkumpul bersama mereka di tengah kesibukan pekerjaan kami. Biasanya angpao ini kami simpan dan kami belikan sesuatu tanda mata setiap kami bepergian dan kami berikan pada mereka saat kami berkumpul seperti ini.

Tahun baru Imlek merupakan pertanda musim semi sudah datang, dan senantiasa dirayakan dengan gempita dan makan malam bersama keluarga dengan harapan musim tanam sepanjang tahun ini akan memberikan panen berlimpah bagi keluarga.
Tahun ini Imlek jatuh hari senin, dan karena kami tidak sempat mengikuti misa minggu pagi kamipun mengikuti misa sore sebelum acara makan malam keluarga. Kami berharap misa sore ini bisa menjadi semacam misa malam sincia yang gempita, seperti tahun baru lalu yang kami rayakan dengn misa bersama Bapa Uskup Singapura dimana anak kami mendapat berkat khusus bagi para anak-anak dari Bapa Uskup. Read the rest of this entry »





Potret Keluarga Masa Kini

30 12 2011

“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat”

Keluarga dikatakan sebagai Gereja terkecil dimana terdiri dari orang-tua dan anak-anak yang secara bersama-sama menghadirkan Tuhan ditengah kehidupan dan kesehariannya. Tentunya peran orang-tualah yang pertama-tama mengenalkan dan menghadirkan Tuhan kepada anak-anak sejalan dengan janji perkawinan di altar. Tidak mungkin anak dibiarkan mencari ‘jalan kebenaran’ dan dibebaskan memilih sendiri tanpa pengarahan orang-tua. Anak-anak belajar mengenal Tuhan Sang Pencipta, yang tidak terlihat, melalui kehadiran orangtuanya. Mereka mengenal kasih Tuhan yang tak terbatas melalui kasih dari orangtuanya.

Hari ini secara khusus diperingati Pesta Keluarga Kudus, kita diajak melihat potret keluarga ideal dalam diri Yesus, Maria dan Yosef melalui bacaan hari ini. Mereka merupakan keluarga yang taat menjalankan ibadah seperti layaknya keluarga Yahudi dimana anak-anak diajarkan mengenal Taurat sejak masih usia dini. Kebiasaan beribadah bersama keluarga juga masih tampak pada kebiasaan keluarga yahudi saat ini dimana mereka bersama-sama menuju sinagoga di hari Sabat. Hal ini juga menjadi ciri dan tradisi masyarakat timur dalam beribadah. Read the rest of this entry »





Perjalanan Hening Romo Yohanes Indrakusuma OCarm

21 09 2011

HIDUPKATOLIK.com – Minat pada dunia batin membuat Romo Yohanes Indrakusuma OCarm tertarik pada konsep ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Tema kebatinan itu pula yang dipilihnya untuk disertasinya di bidang spiritualitas di Institut Catholique de Paris.

Judul disertasinya adalah “Manu­sia Sempurna Menurut Pangestu”. “Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal) adalah salah satu aliran kebatinan yang bersumber pada mistik Jawa, di mana manusia merindukan penyatuan dengan Allah yang disebut Ma­nunggaling Kawula Gusti,” paparnya.

Dalam disertasinya, ia mengemukakan agar orang Katolik jangan puas hanya dengan upacara-upacara yang lahiriah atau karya-karya sosial semata. “Orang Katolik perlu menggali segi-segi kebatinan. Di antaranya, melalui latihan-latihan rohani, khu­susnya semadi,” ujarnya.

Ia melihat banyak orang Katolik seperti ‘kelaparan’ mencari santapan rohani ke sana kemari. Mereka ibarat ayam yang mati kelaparan di lumbung padi. “Padahal, sesungguhnya mereka mempunyai kekayaan yang begitu besar,” beber imam kelahiran Nganjuk, Jawa Timur, 8 Juni 1938 ini.

Dewasa ini, menurut Romo Yohanes, du­nia batin kerap terbengkalai karena manusia cenderung terpukau pada hal-hal duniawi. “Banyak orang lupa bahwa ada kekayaan batin yang sesungguhnya jauh lebih besar dan lebih nikmat. Itulah pengalaman akan kasih Allah.”

Mendambakan keheningan Read the rest of this entry »