PENGUMUMAN PERKAWINAN : PENTING BUANGET…!!

1 02 2013

Biasanya pada saat pengumuman, kebanyakan umat menjadikan kesempatan pengumuman sebagai kesempatan “rehat” sejenak atau saatnya pulang duluan. Banyak yang cuek dengan pengumuman. Padahal di balik sekian banyak pengumuman itu ada satu pengumuman yang sangat penting dan wajib diumumkan serta umat punya kewajiban moral untuk memberitahukan hal-hal yang membuat perkawinan calon pasangan gagal atau batal. Namun pengumuman perkawinan sepertinya bagi kebanyakan umat hal biasa, hanya sekedar untuk mengetahui siapa yang akan menikah, soal ada halangan atau tidak bukan urusan umat atau saya. Kebiasaan umat adalah sebelum menikah tidak mau melapor hal-hal yang bisa menggagalkan perkawinan calon pasangan meski mendengarkan nama calon pasangan diumumkan. Namun setelah mereka menikah baru umat mulai meributkan sana-sini. Terus siapa yang salah…???

Read the rest of this entry »





Diutus Untuk Melayani – Mgr Ign. Suharyo

18 08 2011

Pada tanggal 12 Agustus 2011, di adakan Talkshow bersama Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo. Di adakan oleh Sekolah Evangelisasi Pribadi Eksekutif yang berada di bawah naungan Shekinah.  Talkshow di adakan di gedung PPM, di pandu oleh Ratna Ariani.  Berikut ini adalah rangkuman dari Talkshow dengan Mgr, yang di rangkum oleh Taufik Hidayat.

SESSI 1

Dalam penugasan sebagai Uskup Agung Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan dan kota metropolitan, apakah yang menjadi keprihatinan Mgr. yang mendalam sehingga lahir Arah Dasar Pastoral KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) ?

Bertitik tolak dari masalah besar yang amat mendasar umat saat ini adalah arus sekularisme yang menjadi arus besar bermula mulai dari era ditemukannya mesin pada masa revolusi industri di Inggris dan Eropa. Gejala seperti inipun dijumpai pada Kitab Suci Perjanjian Lama dimana Kain dan Habel (Kej 4:1-16) terjadi pada situasi perubahan masyarakat pengembara (yang direpresentasikan oleh Habel) menjadi masyarakat (petani) yang menetap (direpresentasikan oleh Kain). Sebagai masyarakat pengembara yang hidup berpindah-pindah dengan kehidupan yang tidak menentu maka berkonsekuensi memiliki kepercayaan yang mutlak pada perlindungan Allah sehingga Habelpun memberikan persembahan yang terbaik dari hasil usahanya sebagai gembala kambing domba yakni anak sulung dari kambing dombanya yang kemudian diindahkan oleh Tuhan (Kej 4:4). Sedang sebagai petani yang sudah menetap dan mulai merasakan kemapanan dalam hidupnya (menabung, bisa merencanakan hari depannya), ketergantungan pada Allahpun mulai berkurang; maka Kainpun memberikan persembahan seadanya sehingga tidak diindahkan oleh Allah dan menimbulkan iri hati pada Kain yang membuatnya membunuh Habel. Read the rest of this entry »





Umat Mimpi Hidup Rukun (Mgr Pujasumarta)

29 07 2010

Temu Komisi HAK dan Rektor Seminari Se-Regio Jawa Plus

Rabu – Jumat, 28-30 Juli 2010, di Hening Griya, Purwokerto

(Silakan click: http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/231/UMAT_MIMPI_HIDUP_RUKUN)

Rabu, 28 Juli 2010, di Hening Griya, Baturraden, Purwokerto dimulai Temu Komisi HAK (Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) dan Rektor Seminari Se-Regio Jawa Plus. Tokoh Bagong, atau yang dikenal oleh masyarakat Banyumas sebagai Bawor, ditampilkan sebagai tokoh yang jujur, cablaka, dalam berdialog.

Pertemuan tersebut dibuka dengan perayaan Ekaristi pada jam 16.00 yang dipimpin oleh Mgr. Julianus Sunarko, Uskup Keuskupan Purwokerto. Pertemuan ini difasilitasi oleh Komisi HAK KWI. Rama Benny Susetyo, Pr, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI hadir pada pertemuan tersebut. Peserta seluruhnya berjumlah  28, para rektor dan formatores Seminari Tinggi, dosen Fakultas Filsafat dan Teologi, serta beberapa ketua Komisi HAK Keuskupan-keuskupan.

Setelah perayaan Ekaristi pembuka, dimulai pertemuaan awal yang diisi dengan perkenalan dan berbagai pengalaman dialog antar para peserta. Waktu selanjutnya sampai jam 19.30 diserahkan kepada kedua Uskup yang hadir untuk menyampaikan mimpi mereka mengenai keterlibatan para imam dalam dialog lintas agama.

Saya sampaikan mimpi saya, agar Gereja menjadi Gereja yang mampu berdialog dengan realitas Indonesia. Dalam masyarakat majemuk Indonesia dialog adalah keniscayaan. Untuk itu diharapkan para imam menjadi insan dialog. Maka perlulah selama formatio para calon imam melatih diri semakin mampu berkomunikasi dengan yang lain, termasuk dengan umat beragama lain, dalam berbagai budaya, dan dengan kaum lemah, miskin.

Mgr. J. Sunarko berkisah tentang kerasulan HAK Keuskupan Purwokerto yang berkiprah mengembangkan dialog melalui Forum Persaudaraan Antar Umat Beriman Purwokerto. Dengan kemampuannya mencari dan menemukan sumber air Mgr. Sunarko mengaku bisa “blusukan” ke mana-mana bertemu dan berdialog dengan siapa pun. Read the rest of this entry »





TUHANPUN MENJAWAB….

17 07 2010

DOA UMAT MELIHAT TAHBISAN IMAM

Tuhan,
Kalau boleh, aku memohon kepada-Mu
Anugerahkanlah seorang imam yang muda, gantheng, namun ramah,

Janganlah imam itu orang yang judes dan mudah marah kepada umatnya,
Kalau boleh imam itu orang yang pandai, tapi juga rendah hati.

Berilah kami seorang imam, yang pandai berkotbah, sehingga kami tidak ngantuk waktu misa, tapi juga dia imam yang bisa menyanyi merdu, jadi misa itu makin hikmat dan agung!

Kalau imam itu pandai bergaul, janganlah hanya bergaul dengan orang yang kaya, memberinya fasilitas yang mewah, tapi imam yang serba bisa bergaul dengan siapapun, dari anak-anak sampai orang tua dan kakek nenek!

Berilah kami imam yang mampu jadi pemimpin yang melayani berbagai macam ragam umat, ada yang mampu tapi tak mau, ada yang mau tapi tak mau, ada yang tidak mau dan tidak mampu.

Berilah kami imam yang hidupnya menghayati kemiskinan, dia lebih suka naik motor daripada mobil, meskipun harus kehujanan seperti umatnya yang miskin, dia tidak suka pakai baju yang mahal mahal harganya, dan syukur imam itu lebih suka pakai HP yang sederhana saja, tidak seperti BB

Berilah kami imam yang punya manegemen bagus, tapi dia tidak “sakleg” dan tahu menempatkan diri dan tahu bagaimana mengelola pekerjaan administratif dengan rapi!

Berilah kami imam yang pandai berkotbah, tapi juga kelakuannya bisa dicontoh oleh umat!

DOA SEORANG IMAM SETELAH TAHBISANNYA: Read the rest of this entry »





Memberi Dari Kekurangan

8 11 2009

Mg Biasa XXXII: 1Raj 17:10-16; Ibr 9:24-28; Mrk 12:38-44
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Dua minggu sebelum ditahbiskan saya ditemui oleh pastor paroki saya dan menyampaikan usulan: “Setelah ditahbiskan nanti, mempersembahkan misa di gereja paroki (Wedi-Klaten) sambil syukuran ya”. “Kalau boleh saya misa perdana bersama umat di kapel stasi Gondang saja”, tanggapan dan permohonan saya. “Ya, tetapi renovasi kapel belum selesai”, jawaban pastor paroki. “Tidak apa-apa, seadanya saja” , jawaban saya. Dan memang akhirnya saya dimungkinkan untuk mempersembahkan misa kudus bersama umat pertama kali di kapel stasi. Umat wilayah dimana saya berasal, mendengar berita itu sangat gembira, dan saya dengan akhirnya umat wilayah kami selama satu minggu, dari pagi sampai sore bergotong royong untuk menyelesaikan renovasi kapel. Mayoritas umat wilayah asal kami adalah `buruh tukang batu’ dan selama seminggu mereka pamit tidak `kerja’ dulu untuk bergotong royong menyelesaikan renovasi kapel. Tidak `kerja’ seminggu berarti mereka tidak memperoleh imbalan jasa atau gaji selama seminggu; dan selama seminggu mereka mempersembahkan diri untuk renovasi kapel, dengan harapan pada hari “H”, misa perdana saya, siap atau layak pakai. Memperhatikan semuanya itu saya merasa bahwa umat wilayah tersebut bagaikan “janda yang memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:43-44) Read the rest of this entry »





Stop Pers: Umat Katolik dan PEMILU 2009

13 09 2008

Berikut ini adalah pengumuman yang disampaikan diseluruh paroki seKAJ berdasarkan Surat Himbauan KAJ yang ditandatangani oleh VikJen KAJ Romo Yohanes Subagyo Pr.  Diharapkan Surat Himbauan ini ditindaklanjuti oleh seluruh umat KAJ sebelum berakhirnya batas waktu pendaftaran pemilih hari Jumat 26 September 2008 . Anda akan mendapatkan konfirmasi dari KPU DKI lengkap dengan RT RW nya bila memang telah terdaftar. Untuk pemilih luar negeri, seharusnya yang dimasukkan adalah nomor pasport Anda, karena pemilih warga negara Indonesia di luar negeri masuk di daerah pemilihan (DAPIL DKI 2) – (RA)

  • Memilih dalam Pemilu 2009 adalah hak sekaligus tanggung jawab setiap warga negara Indonesia, termasuk umat Katolik di KAJ, yang ingin selalu setia berbakti pada negara dan bangsa.
  • Tidak memilih (golput) berarti membuka kesempatan pada pihak-pihak yang tidak dikehendaki untuk memerintah negara, sebab mereka dipilih oleh pihak lain.

MAKA GUNAKAN HAK PILIH ANDA !

PASTIKAN NAMA ANDA TERDAFTAR SEBAGAI PEMILIH DALAM PEMILU 2009!!

CARANYA:

  1. Melalui SMS (bagi penduduk di wilayah DKI Jakarta : ketik CEK <spasi> NO KTP <spasi> NAMA SESUAI KTP kirim ke 0812 10 45678 4
  2. Cari dan cermati lembar pengumuman DAFTAR PEMILIH SEMENTARA yang tertempel di lingkungan RT/RW/Kelurahan dimana Anda tinggal
  3. Tanyakan kepada petugas yang berwenang (Ketua RT/RW, petugas kantor kelurahan/Panitia Pemungutan Suara Setempat)

Mari berpartisipasi dalam PEMILU 2009

Mari wujudkan iman kita pada Kristus

Dengan ungkapan bakti bagi negara dan bangsa

Jakarta 11 September 2009

Keuskupan Agung Jakarta

Catatan: Pengumuman ini dikirim ke seluruh paroki melalui fax, e-mail, mailing list, bersama Surat Himbauan “Menggerakkan Umat KAJ untuk ikut serta dalam Pemilu 2009” dan surat pengantar (yang menjelaskan pembacaan Surat Himbauan,penempelan pengumuman dan perlunya inisiatif paroki untuk menyebarluaskannya kepada umat melalui cara-cara lain)





Mengagumi Keagungan Misa Kudus (Fr William P Sanders)

17 08 2008

Seorang wanita yang saya kenal meninggalkan Gereja Katolik dan bergabung dengan suatu gereja lain. Salah satu alasannya adalah bahwa setiap kebaktian selalu berbeda, sementara dalam Perayaan Misa kita selalu melakukan hal-hal yang sama. Bagaimanakah cara terbaik menanggapinya? Mengapa Perayaan Misa dirayakan seperti sekarang ini? — seorang pembaca di Alexandria

Misa Kudus adalah bentuk ibadat yang paling agung kepada Allah yang Mahakuasa dan harta pusaka berharga Gereja Katolik kita. Guna sepenuhnya memahami Misa Kudus, orang perlu mengerti sejarah perkembangannya. Tentu saja, akar Perayaan Misa adalah Perjamuan Terakhir, suatu perjamuan Paskah. Dalam Perjamuan Terakhir Kristus dan para rasul membaca Kitab Suci, dan kemudian untuk pertama kalinya Ia mengambil roti dan anggur, mengucapkan doa konsekrasi, dan memberikan Tubuh-Nya dan Darah-Nya kepada mereka. Tindakan dalam Misa pertama ini haruslah dipahami dalam keseluruhan konteks sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Sejak saat itu, Gereja mempersembahkan Misa Kudus, yang ambil bagian dalam realita Perjamuan Terakhir yang abadi dan kekal, dan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus.

Tentu saja, Perayaan Misa mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu, namun demikian unsur-unsur pokok dan strukturnya tidak berubah. Tiga referensi terbaik dalam menceritakan Misa Kudus Gereja Perdana adalah Didaché (= Ajaran Keduabelas Rasul) (± thn 80), Apologiæ tulisan St. Yustinus Martir (± thn 155), dan Traditio Apostolica tulisan St. Hipolitus (± thn 215). Referensi-referensi ini menegaskan tradisi turun-temurun Perayaan Misa. Bentuk Misa seperti yang kita rayakan sekarang ini diajarkan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1969.

Kerangka Perayaan Ekaristi terdiri dari empat bagian pokok: Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup. Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi “begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, no. 56). Lagipula, “Kitab-kitab ilahi seperti juga Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja, yang – terutama dalam Liturgi Suci – tiada hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun Tubuh Kristus, dan menyajikannya kepada umat beriman.” (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, no. 21). Secara keseluruhan, Perayaan Misa mengalir sebagai satu tindakan ibadat. Read the rest of this entry »