Berdoalah Seperti Seorang Anak Yang Berbicara Kepada Bapanya – He knows best

11 05 2013

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa akan diberikan-Nya kepadamu dalam namaKu.”

prayYang namanya anak tetaplah menjadi anak dihadapan orang tua, walaupun sang anak sudah punya momongan . Demikianlah umumnya yang dialami para orang tua yang sudah punya cucu, atau sebaliknya para orang tua yang sudah punya anak dihadapan ayah-ibunya. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari rumah orang tua, jadi setiap kali ketemu atau saat berpamitan, sering almarhum ibu menanyakan ” Kamu perlu apa?” Rasanya malu dan jengah juga, sudah mandiri, sudah bekerja, sudah punya anak-anak yang menjadi tanggung-jawab, masih juga ditanyakan pertanyaan yang sama seperti saat saya harus kembali ke Bandung ketika masih kuliah. Kalau saat masih kuliah inilah kesempatan minta macem-macem, makanan lah kurang, baju yang kesempitan dan akhirnya bensin buat mobil dipenuhi full tank hahaha…. Akhirnya kalau ibu sudah memaksa, saya hanya mintakan untuk anak-anak saja. Dan terakhir tentu saya tidak lupa minta ibu untuk mendoakan kami. Biar anak-anak rajin belajar, sehat dan kami diberikan kebijaksanaan membimbing mereka.

Saat sudah berkeluarga yang menjadi perhatian tentu sang cucu, kebutuhan cucu sangat diperhatikan para eyang. Tetapi lama-kelamaan kami jengah juga. Suami sering mengingatkan, jangan dibiasakan anak-anak minta macam-macam kepada sang eyang. Tugas orangtualah yang memenuhi kebutuhan mereka. Read the rest of this entry »





Bapa Kami Yang Ada Di Surga…. Juga ada Bersama Kami

10 10 2012
“Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”
Rasanya aneh kalau ada orang Katolik yang tidak tahu doa Bapa Kami. Itulah doa yang pertama diajarkan orang tua saat kita kecil selain Salam Maria. Saking biasanya mendaraskan doa Bapa Kami, sering hanya diucapkan di bibir saja dengan pikiran melayang kemana-mana dan hatipun tidak mengarah kepadaNya. Kita sering kurang menyadari kuasa dari satu-satunya doa yang diajarkan Kristus pada murid-muridNya. Berikut ini adalah kesaksian suami saya bagaimana doa Bapa Kami membawanya menjadi pengikut Kristus.

Saat kami masih berpacaran, kami sempat terpisah beberapa tahun karena tinggal di antara dua benua. Hadi mendapat tugas belajar di sebuah lembaga riset penerbangan di Jerman dan saya masih kuliah di Bandung. Saya tidak berani mengambil komitmen untuk melanjutkan pada hubungan yang lebih serius saat itu apalagi kami berbeda iman.  Saat itu saya menjawab padanya, bagi saya pernikahan hanya satu kali seumur hidup dan hanya di gereja katolik yang saya imani. Tetapi kamu jangan jadi pengikut Yesus karena motivasinya ingin hidup bersama dengan saya. Demikian pula sebaliknya, kalau memang ia ingin menjadi pengikut Kristus, pasti karena panggilanNya. Ia sendiri yang memilih dan memanggil kita, bukan kita yang memilihNya. Maka jadilah pengikutNya dengan setia walaupun tidak (jadi) menikah dengan saya karena Yesus sampai kapanpun tidak pernah bersalah. Sedangkan saya hanyalah manusia yang  suatu saat nanti bisa bersalah, kamu bisa saja ikut  menyalahkan dan meninggalkan Yesus karena kesalahan saya. Read the rest of this entry »





Pendalaman Kitab Suci 2011 KAJ – Pertemuan II

8 09 2011

Metode Sharing 7 langkah – Perumpamaan Tentang Anak Yang Hilang (Luk 15:11-32)

Umumnya metode pendalaman KS (Kitab Suci) disampaikan dalam bentuk ibadat sabda. Kali ini kita diajak untuk mencoba mempraktekkan pendalaman KS dengan metode sharig 7 langkah. Sebelum mulai silahkan dipersiapkan salib, lilin dan lagu-lagu yang akan dinyanyikan.

Lagu Pembuka: Kidung Syukur 9 – Betapa baiknya Engkau, Tuhan

Tanda Salib dan Salam

P: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U: Amin

P: Semoga Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, Cinta Kasih Allah dan Persekutuan Roh Kudus beserta kita

U: Sekarang dan selama-lamanya

PENGANTAR

Dalam pertemuan kedua ini, dipakai metode sharing yang terdiri dari 7 langkah. Dengan mengikuti ketujuh langkah ini secara cermat, diharapkan sharing kita akan lebiht erarah kepada satu aspek yang paling berkesan dan menemukan kedalaman ketika dihadapkan dengan pengalaman hidup kita sehari-hari (satu kata atau kalimat saja).

Percikan singkat (tidak untuk dibacakan) Read the rest of this entry »





Jangan Jual Mahal

1 03 2010

“Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

Perempuan biasanya paling cepat dapat info tentang big sale dimana-mana, apa yang di ‘sale’, kapan dan syaratnya. Termasuk didalamnya midnight sale dan garage sale. Tujuannya sederhana, mengharapkan bisa mendapatkan barang yang dicari – lebih sering tidak dibutuhkan 😀 dengan harga miring alias murces. Seringkali saat kita keliling di mall, tergoda untuk mampir menengok-nengok toko yang bertanda ‘Sale’ besar-besar. Ini yang kita kenal sebagai ‘impulsive buying’ – metode belanja yang tiba-tiba muncul, dan selama uang ada – apalagi ada kartu kredit, terlampiaskanlah keinginan belanja itu. Tapi bisa jadi godaan ini menjadi pisau bermata dua, akhir bulan kita pusing memikirkan bagaimana membayar tagihan kartu kredit, apalagi mengisi tabungan.

Disisi lain kita lebih gengsi kalau mendapatkan hadiah yang kita tahu ‘mahal’, bukan barang ‘sale’, bukan barang second. Kita merasa disepelekan begitu tahu bahwa hadiah tersebut bernilai ‘murah’ walaupun untuk mencarinya diperlukan kerja keras juga seperti layaknya berebut barang ‘sale’. Kita bisa bercerita dengan bangga bahwa pasangan kita menghadiahi kita barang ‘mahal’, bukan barang murahan. Mungkin saya salah, tapi sebagian teman setuju bila dikatakan inilah paradoks perempuan : suka membeli barang murah, tapi tidak suka diberi barang murahan.

Kita sering bertindak selaku paradoks tersebut juga. Sering kita jual murah pada orang lain, tapi jual mahal pada orang-orang terdekat kita. Kita sering murah hati pada orang-orang yang baru kita kenal, atau kawan yang jarang ditemui, hanya sekedar untuk memberi kesan ramah, murah senyum dan suka menolong. Read the rest of this entry »





Pater Noster

8 10 2008

Ibu Lim Kim Liok berumur sekitar delapan puluh tahun, tergolek sakit di RS Medistra. Ia kaget gara-gara ditubruk kucing di taman. Akhirnya jatuh dan tulang kaki kanannya patah. Waktu dikunjungi, ia sedang menangis karena takut. Esok hari, kakinya mau dioperasi. Kata operasi ini yang mungkin menakutkan. Tetapi akhirnya menjadi tenang setelah dikemukakan dua pilihan. Tidak operasi berarti sakitnya tidak bisa sembuh dan tidak bisa jalan selamanya. Bila dioperasi akan terasa sakit sebentar lalu bisa jalan lagi. Dia memilih pilihan yang kedua. Sebelum kami pulang, ia minta didoakan. Doa yang bisa kami ucapkan dan ditirukan olehnya hanya doa Bapa Kami.
Sebelum ini, dia sakit agak parah. Dia belum dibaptis. Anak dan cucunya minta agar omanya bisa dibaptis. Karena sudah tua, saya minta agar oma diajari doa yang paling gampang dihafal, yaitu doa Bapa Kami. Setelah agak hafal, saya datang dan membaptisnya. Tidak lama setelah dibaptis, Ia sembuh sampai kecelakaan ditubruk kucing terjadi.

Pada suatu pertemuan internasional para Bruder suatu kongregasi, saya diminta untuk mempersembahkan misa. Bacaan Injil sama dengan bacaan hari ini. Dalam kotbah saya bertanya kepada para bruder,”According you brothers, which is the greater one, Mohammed or Jesus?” Tentu saja, para pengikut Yesus ini mengatakan Yesus yang lebih besar. Mereka takut, Yesus akan marah. Tetapi menurut saya, Mohammad-lah yang lebih besar. Mohammad memerintahkan jemaatnya sembahyang lima kali sehari, mereka menurut dan
melakukan dengan tertib. Tetapi, Yesus mengajari para pengikutnya untuk berdoa dengan doa sependek Bapa Kami, mereka jarang melakukannya. Mohammad lebih besar ‘kan? Apakah doa Bapa Kami ini hanya sebagai formalitas? Pernahkah kita mengalami kedalaman doa pendek ini? Dalam hati, saya menyadari kesalahan saya. Mengapa doa ini saya jadikan ukuran untuk mengijinkan orang dibaptis?

Coba kita lihat kata pertama dalam doa kita itu. Allah mana yang mau disebut sebagai Bapa? Ketika masih di novisiat, seorang teman frater sangat sulit mendoakan doa ini. Baru menyebut kata “Bapa….”, ia tak bisamelanjutkan lagi. Akhirnya, ia dibimbing oleh rama magister untuk mengadakan healing memory. Lalu, ia menyadari bahwa selama ini tidak pernah merasakan dikasihi oleh Bapaknya. Ia bermusuhan dengan Bapaknya. Ia bercerita bahwa pernah punya keinginan untuk membunuh bapaknya. Akibatnya sulit sekal untuk berdoa Bapa Kami. Dari peristiwa ini, saya merasakan betapa dalam doa ini bila direnungkan sungguh-sungguh. Frater itu bersungguh-sungguh dalam mendoakan dan ia menemukan sesuatu dalam hatinya yang selama ini menjadi gangguan dalam hidup. Doa ini baru bisa didoakan setelah terjadi rekonsiliasi antara bapak dan anak. Anda bagaimana? [R. Maryono, SJ]

====================================================================

11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.”
11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu.
11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya
11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”





Antara Doa & Sedekah

18 06 2008

“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”.

Pada dasarnya manusia gemar melihat dan dilihat, apalagi kalau terlihat lebih baik dibanding yang lainnya. Terlihat lebih ‘mampu’ atau terlihat lebih ‘mapan’. Maka semakin banyak sarana dan prasarana untuk memuaskan keinginan manusia ini. Mau gonta ganti baju, mobil,HP dsb, Semua ada, tinggal pilih dan kuat-kuatan kantong lah. Selain itu ada juga yang memilih supaya kelihatan lebih rohani dengan mengikuti berbagai ziarah, baik dalam dan luar negeri. Ternyata wisata rohani adalah bisnis menggiurkan juga karena ada juga yang 6-7 kali berziarah dalam setahun. Mungkin biar doanya makin afdol ya. Kasihan juga mereka yang gak mampu bayar biaya ziarah, apa doanya gak sampai ?  Ada juga umat yang mencak-mencak hanya karena namanya atau jumlah sumbangannya salah tulis di warta paroki. Jadi sebenarnya untuk apa memberi sumbangan? Yang begini ini rasanya kualitas doanya perlu dipertanyakan.

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa semua kegiatan agama itu perlu tapi tidak untuk dilihat orang, tidak untuk mendapat kesan ‘baik’ di mata orang. Doa itu perlu sebagai tanda ketergantungan kita akan Sang Pencipta. Sedekah juga perlu sebagai tanda solidaritas kita bagi orang-orang miskin, janda dan anak yatim. Maka sebenarnya memang tidak relevan bila hal doa dan sedekah ini ingin ‘dipertontonkan’ didepan yang lainnya. Toh manusia lainnya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kesucian dan kedermawanan kita. SWGL… So Wat Getu Loh..

Disisi lain, mereka yang kehidupan doanya tertib biasanya juga memiliki hati yang mudah tergerak untuk memberi.  ‘Buah’ doanya  dirasakan oleh orang-orang disekelilingnya. Dari perbuatan mereka yang ringan tangan menolong, kita bisa tahu bagaimana kehidupan doa mereka. Dari perkataan mereka yang keluar, jarang sekali menyakiti orang lain, bahkan nyaris tidak mempergunjingkan orang lain. Read the rest of this entry »





Impas? Mana Bisa

16 06 2008

Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.

Tidak boleh membalas dendam adalah salah satu nilai yang ditanamkan kepada orang tua kita saat kita masih kecil. Rasanya memang easier said than done. Coba lihat film-film action yang masuk top box office, mereka mengeksploitasi pembalasan dendam…. eh ya menang juga akhirnya. Suami saya mantan pencandu Kho Ping Ho, yang satu judulnya bisa puluhan buku. Dia hafal tuh semua tokoh dan tempat … heran, padahal namanya aja sulit di eja apalagi untuk dihafalkan. Masih banyak praktek di sekitar kita yang dikatakan menghalalkan pembalasan dendam.

Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak melakukan pembalasan dendam. Istilah romo Maryo gunakan sikap “diemin aja” manakala kita diperlakukan ‘jahat’. Mother Theresa mengatakan ” cintailah sampai engkau disakiti”. Wah memang bener berat banget mengikuti ajaran Kristus ini; melawan arus yang ada disekitar kita. Itulah kasih Kristus yang telah habis-habisan untuk kita, manusia yang (terkadang) masih juga jatuh dalam dosa. Ia mencintai kita habis-habisan, dan Ia ingin kita juga mencintai sesama kita habis-habisan. Persis seperti doa Bapa Kami : Ampunilah kami sepertti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Easier said than done. Mungkin sudah ribuan kali kita ucapkan, tapi berapa kali kita lakukan? Betulkah kita juga melakukan segala sesuatu dengan penuh totalitas sebagai balasan cinta kita pada Tuhan? Masih sering dijumpai pertikaian antara sesama anggota koor, sesama pengurus lingkungan dan Dewan Paroki. Bubarnya kepengurusan baik di kategorial dan ormas-ormas katolik harus melihat lagi sejauh mana ada ruang untuk pengampunan dan rekonsiliasi. Belum lagi banyaknya perpisahan orang tua yang disebabkan ‘sakit hati’ karena dilecehkan. Lalu apa bedanya kita dengan mereka yang tidak mengenal doa Bapa Kami?

Saya menemukan artikel menarik tentang revenge (balas dendam). Ternyata balas dendam harus dikelola dengan baik,kalau gak ya tidak akan ada habisnya.  Inilah  salah satu emotional competency yang perlu dibangun dalam diri manusia. Read the rest of this entry »