Memimpin Dengan Hati

22 07 2012

Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala

Hari ini Kompas mengisahkan beberapa sekolah dan komunitas yang secara khusus mengajarkan anak di usia dini untuk peduli satu sama lain, terutama sekali menghargai adanya perbedaan. Dalam suasana bermain anak-anak diajak memahami adanya perbedaan suku, perbedaan agama termasuk juga adanya menerima dan bergaul dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Herannya anak-anak berkebutuhan khusus justru bisa tumbuh dan mudah beradaptasi bila berkumpul dengan anak-anak normal dibandingkan di sekolah khusus. Perasaan diterima dengan segala keberadaan menumbuhkan kebersamaan, menumbuhkan pengertian dan akhirnya memudahkan dialog.

Kejadian yang baru dialami melalui Pilkada DKI putaran pertama menunjukkan bagaimana rakyat membutuhkan pemimpin yang bisa memahami dan mendengarkan kebutuhan mereka. Pemimpin yang bukan tinggal di kursi empuknya, tetapi juga melihat dari dekat apa yang dialami rakyat serta mencari solusinya. Pemimpin yang tidak bisa duduk diam melihat banyak hal yang belum membuat rakyatnya kenyang dan tersenyum.

Manakala kita memandang orang lain lebih rendah, lebih bodoh, maka kita akan sulit sekali memahami kebutuhan orang lain apalagi bila datang minta tolong. Yang ada kita menolongpun dengan perasaan terpaksa, mungkinmerasa terusik bahkan terganggu dengan keberadaan orang-orang yang lemah, lebih miskin dan kurang mampu. Read the rest of this entry »





Hati Allah yang hancur….

11 10 2011

Setelah satu minggu yang panjang mengajar dan memberi konseling di Norwegia, saya merasa “jenuh kepada orang”.Saya menyukai pekerjaan saya, tetapi pada akhir minggu setelah setiap harinya melayani selama 18 jam, Saya sungguh ingin menyendiri.

Ketika turun dari taksi di muka bandar udara internasional Oslo, diam-diam saya menaikkan sebuah doa.Permintaan saya sederhana sekali:yang saya inginkan hanyalah sebuah tempat duduk sendirian di pesawat, dengan ruang yang cukup luas untuk meluruskan kaki saya yang panjang(tinggi saya 1,8 meter lebih) dan beristirahat sepanjang penerbangan pulang ke Amsterdam yang memakan waktu 3 jam.

Berjalan menelusuri lorong pesawat, dengan agak membungkuk supaya kepala saya tidak membentur langit-langitnya, saya menemuka sebaris tempat duduk yang kosong dekat pembatas, itu berarti saya punya ruang ekstra bagi kaki saya dan suatu penerbangan yang tenang.Saya tersenyum sendiri ketika saya membalikkan tubuh untuk duduk di kurdi pinggir dekat lorong, dan berpikir alangkah baiknya Tuhan, menjawab permintaan saya untuk memperoleh sedikit ketenangan dan istirahat.”Tuhan mengerti betapa lelahnya saya,” pikir saya. Read the rest of this entry »





Bukan Siapa Tetanggaku, Tapi Jadilah Tetangga Yang Baik

3 10 2011

Sudah hampir setahun saya pindah ke tempat kost baru di areal perumahan kelas menengah ke atas itu, yang hampir semua rumah terbalut pagar tinggi berjeruji dan berduri, bahkan kadang saya tidak pernah melihat bentuk rumah indah yang terhalang oleh pagar indah nan mahal harganya lebih dari harga rumah ayahku di kampung halaman. Rasanya aku terkurung dalam sangkar emas. Untuk tetangga yang disamping dan di depan rumah pun aku tak pernah mengenalnya bahkan melihat wajah mereka saja susah. Apakah aku kuper (kurang pergaulan) mungkin saja benar. Tanpa membela diri tapi bagaimana mungkin kita bisa bertemu dengan orang-orang di sebelah rumah kita bila antara dia dan aku ada tembok pemisah, bahkan anjing-anjing yang harga makanan dan perawatannya lebih mahal dari biaya hidupku di Manila dalam sebulan.

Injil hari ini menceritakan tentang kisah orang Samaria yang baik hati, yang hatinya tidak pernah terbatasi oleh tembok permusuhan antara Israel dan bangsanya Samaria, yang cintanya mengalir tanpa bertanya siapa yang dibantu, yang tanpa merasa menjadi sebuah kerugian bila ada kesempatan untuk bisa menyalurkan kasih kepada orang lain, siapa pun dia. Cinta orang Samaria seharusnya ada di hatiku sehingga bisa meruntuhkan tembok-tembok tinggi di sekitar rumahku untuk menyapa jiwa di sebelah pagar dan tembok pemisah. Cinta orang Samaria hendaknya menjadi obat penjinak anjing-anjing herder yang dijadikan penjaga rumah-rumah mewah itu. Namun, hati cuma menjerit karena terkadang hati tak mampu melompati dan meruntuhkan tembok-tembok pemisah itu. Read the rest of this entry »





Warisan Harta Surgawi

17 06 2011

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Seorang yang kaya raya meninggal dunia di usia yang belum genap 50 tahun. Lebih dari separuh dari usianya ia habiskan dengan bekerja keras mengumpulkan hartanya itu. Ia tidak saja mengabaikan kesehatannya, tetapi ia juga mengabaikan keluarganya, walaupun tujuannya adalah mengumpulkan harta agar bisa diwariskan kepada keluarganya. Tujuannya untuk mengumpulkan harta memang tercapai, tetapi dengan hartanya itu ia tidak mewariskan kebahagiaan bagi istri dan anak-anaknya. Ketiga anaknya memperebutkan harta warisan yang ditinggalkan ayahnya itu. Perebutan harta telah dimulai ketika jenazah ayahnya masih di rumah duka. Ketiga anaknya sibuk berdebat satu dengan yang lainnya soal pembagian warisan, mereka mengabaikan urusan melepas kepergian ayahnya.
Ibunya sangat sedih dan menjadi frustrasi karena ketiga anaknya tidak lagi mau mendengarkannya, lalu meninggal tidak lama kemudian.
Setelah ibunya meninggal, ketiga anaknya itu saling bermusuhan satu dengan yang lainnya.

Kisah di atas, atau yang serupa dengan yang di atas, seringkali kita jumpai dalam kehidupan di dunia ini, bahkan ada terjadi, pembagian warisan dilakukan ketika ayahnya masih hidup dan anak-anaknya membiarkan ayahnya hidup di panti jompo. Read the rest of this entry »





Hati yang Berbelas Kasih

11 06 2011

Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

 Mari Pupuk Hati yang Berbelas KasihDOKTER Tira Aswitama awalnya terpanggil menjadi relawan, ketika bencana tsunami meluluhlantakan Nanggroe Aceh Darussalam pada 2004 lalu. Ia berkata, ”Mendengar dan melihat bencana tsunami itu hati saya tergetar. Dengan izin orangtua, saya pun berangkat ke Aceh. Padahal saya waktu itu baru diwisuda menjadi dokter.”

Tinggal di Aceh selama dua tahun itulah yang mengasah jiwa Dr Tira. Ia mengaku, di dalam dirinya memang ada ”panggilan” untuk membantu sesama. Pengalaman dari Aceh itulah kemudian membuat ia mengambil keputusan yang lebih hebat lagi, yaitu pergi bertugas ke Sudan, Afrika.

Rupanya panggilan untuk menjadi relawan adalah segalanya bagi dokter muda itu. Bahkan untuk pergi ke negeri yang sedang dilanda konflik perang saudara itu ia harus menunda pernikahannya dengan seorang pemudi yang ia cintai.

Tentang pengalamannya di Sudan, ia berkata, ”Ada pengalaman menarik, ketika saya betugas di Sudan. Saya menolong seorang ibu yang akan melahirkan di tengah gurun dengan peralatan seadanya. Tidak hanya itu, suasana di sekitar makin mencekam, karena ada peristiwa tembak-menembak karena perang.”

Karena belum berpengalaman menolong orang melahirkan, Dr Tira mengaku terpaksa menelpon dosennya di Jakarta melalui telepon satelit untuk meminta ‘bantuan’. Read the rest of this entry »





Senyum dengan Hati

7 06 2011

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling”. Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang.. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke Restoran McDonald yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik, itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil!

Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya dan ia sedang “tersenyum” kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu. Read the rest of this entry »





S.O.M.B.O.N.G

19 05 2011

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember & menyikat lantai rumahnya keras-keras. Pria itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”

Sang Guru menjawab,“Tadi saya kedatangan serombongan tamu yg meminta nasihat.  Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali.  Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya MERASA menjadi orang yang  hebat.   Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.”

Saudaraku….., Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, benih-benihnya  kerap muncul tanpa kita sadari.   Di tingkat pertama, sombong disebabkan oleh faktor materi.  Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang  lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Read the rest of this entry »