Benih Yang Baik Perlu Teladan

28 01 2011

“Hal Kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih di tanah”

Saat reuni ternyata teman-teman kasak kusuk cari tahu tentang sekolah terbaik untuk anak-anaknya. Mereka saling tanya bagaimana pendidikan dan suasana di kampus ini dan itu, termasuk juga yang di luar negri. Umumnya mereka tanya apa lulusannya bisa mudah dapat pekerjaan dsb. Anehnya rata-rata tidak merekomendasikan almamaternya sendiri dengan berbagai alasan. Kualitasnya sudah tidak seperti dulu lagi, gak yakin apa anaknya juga cocok dsb. Orang tua yang peduli pendidikan pasti selalu berusaha mencari tempat yang cespleng, yang tokcer. Pokoknya yang mampu memberikan solusi pendidikan terbaik, bisa cepat selesai, sesuai kantong dan sesuai harapan. Pengertian “Terbaik” akhirnya menjadi relatif dan bisa subyektif karena kita sendiri sering sulit menjabarkannya.

Saya sempat berbicara dengan beberapa frater untuk mencari tahu apa penyebab mereka mengambil keputusan untuk menjadi imam. Pada umumnya mereka semua melihat keteladanan dari para pastor dan frater saat mereka menjadi putra altar.  Inilah yang perlu dicari dan digali dari berbagai institusi pendidikan katolik. Pergantian pengurus pendidikan tidak serta merta disertai dengan pemahaman akan nilai-nilai luhur yang tetap dipelihara dan ditularkan pada anak didiknya. Sehingga image sekolah/universitas katolik itu beralih menjadi terkesan mahal sementara mutunya tidak sebaik dulu. Sebenarnya masih banyak orang yang berharap bisa mendapatkan yang terbaik di sekolah/universitas katolik. Tapi kalau tidak berhasil mengupayakan penerapan dalam memelihara nilai-nilai yang menjadi ciri khas semangat pelayanan tadi, lalu apa bedanya dengan sekolah/universitas lainnya? Harusnya yang membedakan adalah terpelihara nya nilai-nilai spiritualitas para pendirinya, persis seperti tempat pendidikan novisiat yang tetap memelihara nilai-nilai spiritualitasnya selama puluhan tahun. Read the rest of this entry »

Advertisements




Encouragement (Rhenald Kashali)

25 07 2010

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya. Read the rest of this entry »





Makanan Jiwa, Makanan Tubuh dan Makanan Roh

19 06 2010

“Hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian”

Hari ini saya menghadiri acara inaugurasi kelulusan Sekar di SD Tarakanita II dengan perasaan yang mengharu-biru. Masih ingat rasanya enam tahun lalu ada kebimbangan bagi kami sebagai orangtuanya, apakah Sekar bisa bertahan dan lulus dengan baik disini. Bagaimana tidak bimbang dan ragu, saat itu Sekar masih belum cukup usianya untuk masuk SD – maklum aturan di sekolah katolik ketat sekali dibandingkan sekolah berbasis internasional. Ditambah lagi setelah ikut playgroup dan TK di salah satu sekolah yang berbahasa Inggris, ternyata mother tongue-nya Sekar sudah berubah. Sekar lebih mudah berpikir dan berkata-kata bahkan marahpun dalam bahasa Inggris. Bukan hanya sistem pendidikan di sekolah, tapi dirumah pun kami biasakan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Tentu dengan harapan agar anak-anak terbiasa dengan bahasa Inggris.  Tetapi dengan pertimbangan kedepan, Sekar perlu dibesarkan dalam pendidikan bernuansa Indonesia dan dalam lingkungan katolik, maka kami berdua  mengambil resiko untuk mendaftarkannya di SD Tarakanita. Bisa jadi Sekar tidak mampu mengatasi tantangan diusianya yang masih 5 tahun waktu itu.

Dua tahun pertama adalah tahun terberat bagi Sekar, ia harus menambah kosa kata bahasa Indonesia setiap harinya. Dia sering menangis dan marah-marah dengan berbagai tugas yang sangat sulit baginya. Ia membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan teman-temannya di sekolah dalam belajar dan menangkap segalanya. Tetapi dengan kesabaran dan bimbingan para guru, Sekar mampu melalui tahun demi tahun dengan lancar tanpa perlu tinggal kelas. Kami juga tidak berani berharap untuk mendapatkan nilai tertinggi, bisa bertahan saja sudah bagus sekali.  Pada tahun-tahun pertamanya, Sekar sering harus didampingi guru bahasa Inggrisnya untuk memahami soal-soal yang dihadapi saat melakukan tugas bahkan ulangan sekalipun. Belum lagi teman-temannya sering memanggilnya ‘bule’, anak India…. memang parasnya hitam manis, muka tirus dengan hidung lancip dan mata besar ditambah rambut panjang keriting seperti boneka India. Read the rest of this entry »





Menebar Edukasi di Merapi

26 05 2010

Oleh: M. Hari Atmoko

Lelaki tua berpeci dan berbaju batik dengan rambut yang sedikit beruban itu duduk di deretan bangku di luar gedung yang oleh masyarakat petani setempat dinamai “Gubug Selo Merapi”. Gedung itu sebelumnya menjadi bagian dari kompleks sekolah kecil bernama Sekolah Dasar Kanisus Grogol, terletak di Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar delapan kilometer sebelah barat puncak Gunung Merapi. Sekitar 13 tahun lalu pihak yayasan yang menaungi sekolah itu mengeluarkan kebijakan menutup operasional sejumlah sekolahnya yang salah satunya SD Kanisus Grogol lantaran jumlah siswa yang semakin sedikit seiring dengan perkembangan kependudukan. “Tahun 1997 sekolah ini ditutup oleh yayasan, tidak tahu persis alasan penutupan, tetapi secara umum karena jumlah anak yang semakin sedikit, terakhir kalau tidak salah ada 65 anak kelas I hingga VI,” kata Supangat (70), mantan Kepala SD Kanisius Grogol (1982-1992) di utara aliran Kali Senowo yang airnya berhulu di kaki Merapi. Meski akhir cerita sekolah itu ditutup, rupanya semangat edukasi yang telah ditebarkan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah itu tak padam. Masyarakat setempat makin memiliki kesadaran mantap terhadap pentingnya pendidikan. Mereka terkesan terus bergerak menebarkan nilai-nilai edukasi dalam skala yang makin luas, tidak sekadar pendidikan formal untuk anak-anak Merapi. Pada Minggu (2/5), Supangat bersama ratusan warga petani holtikultura berasal dari berbagai dusun di lereng Merapi merayakan Hari Pendidikan Nasional 2010. Perayaan itu sekaligus dikemas untuk pesta rohani pelindung GSPi “Santo Petrus Kanisius”, tokoh gereja yang secara khusus bergerak di bidang pendidikan. Perayaan dikemas dalam prosesi anak-anak dan misa kudus dipimpin Romo Singgih Guritno di bangunan terbuka, GSPi. Bekas ruang kelas masih tersisa, komunitas petani setempat melalui bantuan dari berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri secara tekun membangun gedung yang terkesan akrab dengan ekologi Merapi yang kemudian mereka namai GSPi. Read the rest of this entry »





Kisah Kak Delfi

21 05 2010

Siapa yang tidak tahu jika Kota Jakarta memiliki banyak kolong jembatan, di salah satu kawasan tepatnya di Papanggo Gang 24 Tanjung Priuk, terdapat sosok setia yang telah 10 tahun mengajar anak-anak. Berteman dengan aroma tidak sedap dan sampah, Kak Delfi biasa dia dipanggil oleh murid-muridnya tetap bertahan mengajar. Padahal bukan rahasia lagi jika kawasan itu riskan kriminalitas.

Delfi mengaku pernah dianggap gila oleh teman-temannya ketika memutuskan keluar dari pekerjaan lama dan mengajar di kolong jembatan. Sebelumnya tidak pernah terlintas dibenak perempuan asli Flores ini akan menjadi guru, apalagi guru tanpa kelas. Ya, Delfi mengajar di tempat seadanya di ruas Gang Papanggo dengan media belajar yang juga sangat terbatas. Namun, keluhan itu tak lantas membuat semangatnya luruh, karena setiap melihat senyuman anak-anak terpetik harapan jika suatu saat mereka akan jadi orang yang pintar. Pengaruh ajaran Santo Vincesius juga terasa di benak perempuan lajang ini. Menurutnya ajaran Santo menjadikan kaum miskin sebagai majikan dan bagian dari hidup.

Perlu diketahui, Delfi bukanlah tamatan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP), melainkan lulusan diploma tiga Bina Sarana Informatika (BSI) Jakarta Pusat. Tapi kini, sepuluh tahun berlalu hatinya telah tertambat pada bidang pendidikan. Padahal semua terjadi begitu tiba-tiba. Semua berawal dari niatnya membantu Susteran Putri Kasih Pondok Ozanam, kebetulan waktu itu mereka mempunyai program pendidikan.
Ketika disinggung perihal keamanan, Delfi pun tersenyum seraya berkata “Kalau mau cari tempat yang aman, saya pikir tidak ada tempat yang benar-benar aman, semua kembali ke niat dalam hati,”. Jawaban Delfi lancar dan tanpa rasa was-was, seolah tak khawatir dengan kejadian buruk yang menimpanya saat mengajar. “Saya percaya pada warga di sini karena menitipkan anak-anak mereka untuk saya ajar,” lanjutnya.

Delfi memang sosok bersahaja yang mencoba melakukaan aktivitas luar biasa, Apa yang dilakukan perempuan berusia 28 tahun ini bahkan tak terlintas dalam benak kita. Read the rest of this entry »





Semangkok Nasi Putih

10 02 2010

Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut. “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih.”

Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan : “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.” Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum : “Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : “kuah sayur gratis.” Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih. “Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.” Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini. “Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !” Read the rest of this entry »





Papa, Aku Ingin Sekolah

7 02 2010

Segelas air putih terletak di meja kayu. Lelaki itu mengangkatnya untuk terakhir kali. Diteguk habis. Sejak kemarin siang belum ada satu butir nasipun yang singgah di perutnya. Hanya air putih. Itupun hanya air sumur di belakang. Kata orang air itu kotor. Tidak layak untuk diminum. Tapi apakah orang masih bisa berpikir kesehatan, higienis atau tidak, ketika tidak ada lagi pilihan? Tadi pagi dia hanya memanasi air itu dengan alat pemanas kecil yang diperolehnya beberapa waktu lalu dari seseorang. Dipandangnya gelas kosong. Baginya hanya minum air masih bisa bertahan. Bagaimana dengan dua anak dan istrinya? Dihela nafas panjang.Sejak kemarin persediaan beras sudah habis. Mau hutang pada tetangga sudah tidak mungkin lagi. Sudah banyak tetangga yang dimintai tolong untuk meminjaminya uang atau beras. Satupun belum ada yang dia bayar. Dia malu bila harus datang lagi ke salah satu dari mereka untuk meminjam uang atau beras.

Lelaki itu berjalan keluar. Berdiri diambang pintu rumah kontrakkan. Sebuah pintu yang sempit dari sebuah kamar ukuran 3X4. Inilah rumahnya. Satu dari sekian deretan rumah petak. Dilihatnya beberapa anak bersiap-siap berangkat ke sekolah. Maria, anaknya yang tertua masih duduk di kelas II SD. Dia baru selesai mandi di kamar mandi umum. Sebentar lagi dia akan berangkat ke sekolah juga. Lelaki itu menghela nafas kembali.

Apakah Maria akan bolos sekolah lagi? Keluh hatinya. Kemarin Maria sudah bolos 3 hari. Bukan karena sakit atau malas, melainkan tidak ada uang saku untuk naik angkot. Sekali jalan dia harus bayar Rp 1000. Kalau pergi pulang sudah Rp 2000. Darimana dia dapat uang Rp 2000? Sekolah Maria cukup jauh. Dulu dia sengaja menyekolahkan Maria di sekolah ini, sebab dia ingin anaknya memperoleh pendidikan yang bermutu dan masih bernuansa Katolik. Read the rest of this entry »