MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR?

17 08 2012

Rekan-rekan yang budiman!
Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Petikan ini dibacakan bagi Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi.  Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu. Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: “Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?” Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang “ya” maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang “tidak”, apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Kerap gagasan seperti dipakai untuk menafsirkan petikan Injil kali ini sehubungan dengan kewajiban orang beriman sebagai warga negara. Maka bila dibaca dalam kerangka ini maka tidak banyak yang dapat ditarik sebagai hikmatnya. Malah orang merasa terjerat.
Untunglah, ada pertanyaan serta cara membaca yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya?

SEBUAH DISKUSI
Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, dalam menanggapi pertanyaan yang membawa ke soal yang makin rumit, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus. Dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, “Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!” Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap “urusan kaisar” maupun keprihatinan mereka mengenai “urusan Allah” dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya? Read the rest of this entry »

Advertisements




Harga Sebuah Kemerdekaan

17 08 2011

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Dihari kemerdekaan ini yang biasanya padat dengan acara keriaan disekitar rumah, sepi karena masuk bulan puasa. Beberapa teman merayakannya dengan tirakatan malam menjelang proklamasi. Semua acara televisi pun menyusun acara sejalan dengan perayaan kemerdekaan. Avatar B, twitter dan FB pun berganti rupa dengan semarak merah putih. Googlepun ikut merayakan proklamasi dengan image pohon pinang lengkap dengan berbagai hadiah pajangan. Bahkan hashtag Happy Birthday Indonesia sempat bertengger menjadi trending topic world wide. Weew… apakah ini pertanda nasionalisme meningkat?

Kalau membaca berbagai komen yang ada di  socmedia termasuk televisi, masih lebih banyak yang berkomentar negatif dan keprihatinan dalam merayakan dirgahayu ke 66 bangsa ini. Semburat kekecewaanpun muncul diujung timur negeri ini dengan berkibarnya bendera OPM sesaat. Hingar bingar semarak 17an di istana, balaikota dan alun-alun tidak bisa menyembunyikan keprihatinan ini

Di hari kemerdekaan ini mari kita merenungkan apa yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan kemerdekaan sehingga kita bisa menikmati kehidupan (apapun bentuknya) di negara Indonesia yang merdeka. Bisa sekolah dan bekerja dengan banyak pilihan. Tidak bisa dibayangkan bila kita hidup di negara yang masih dibawah kekuasaan bangsa lain. Perjuangan kita saat ini adalah membalas jerih payah para pejuang kemerdekaan dengan mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai upaya yang dapat menyejahterakan masyarakat disekitar kita. Read the rest of this entry »





SYUKUR ATAS BHINNEKA TUNGGAL IKA

17 08 2011

Sumber : http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/373SYUKUR_ATAS_BHINNEKA_TUNGGAL_IKA

Rabu, 17 Agustus 2011 bangsa Indonesia merayakan Hari Raya Kemerdekaan Indonesia Ke-66. Pada peristiwa bersejerah ini kita panjatkan syukur atas Bhinneka Tunggal Ika, nilai dasar yang bertahan berabad-abad yang menjadi daya kekuatan pemersatu bangsa yang beraneka ragam suku bangsa, budaya, agama.

Ribuan pulau yang tersebar di antara benua Asia dan Australia, antara lautan Hindia dan Pasifik merupakan wilayah dengan beribu pintu keluar masuk ke segala arah, terbuka terhadap berbagai macam nilai yang berlapis-lapis menyimpan kebijakan untuk memelihara kehidupan.

Syahdan, menurut catatan sejarah , pada tahun 1294 Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, di Trowulan di pulau Jawa bagian timur. Kerajaan Majapahit menjadi kokoh karena didukung para pujangga arif yang memberi dasar kuat bagi bangunan kerajaan. Mpu Tantular yang hidup pada abad 14, meskipun beragama Budha, namun hatinya yang terbuka membuatnya bersikap hormat kepada agama Hindu Syiwa. Kerukunan rakyat dibangun diatas kearifan “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”. Hasrat kuat mempersatukan nusantara, ditegaskan dalam sumpah Palapa. Kejayaan Majapahit sampai puncaknya pada zaman Hayamwuruk dengan Mahapatih Gajah Mada (meninggal pada tahun 1364). Namun, Sang Kala terus memakan waktu. Datang saatnya sandyakalaning Majapahit. Read the rest of this entry »





Pesan Perdamaian dan Persaudaraan Beato Yohanes Paulus II

24 06 2011

Beberapa saat sebelum wafatnya, Paus Yohanes Paulus II menulis surat wasiat dalam Latihan Rohani Tahun Yubilium 2000 (12-18 Maret). Demikian salah satu pernyataan yang ditulisnya, “Bagaimana aku tidak dapat mengingat begitu banyak saudara Kristen-non Katolik! Dan Rabbi di Roma dan sejumlah wakil agama non-Kristen! Dan banyak wakil dunia kebudayaan, ilmu pengetahuan, politik, dan alat-alat komunikasi.”

Pernyataan itu menyiratkan betapa tingginya rasa persaudaraan Paus yang bernama kecil Karol Wojtyla itu ketika dunia ini sedang dilanda berbagai bentuk konflik dan kekerasan. Persaudaraan yang dihayati sekaligus diwujudkannya itu menyiratkan cara pandangnya kepada sesama manusia meskipun dengan latar agama, budaya maupun politik yang berbeda-beda. Bagi mendiang Paus Yohanes Paulus II, mereka adalah sesama ciptaan Tuhan yang merupakan saudara dari satu Bapa.

Perannya menjadi sangat signifikan dan relevan dalam perdamaian dalam dunia yang dilanda kekerasan dan peperangan. Ia dikenal sebagai tokoh yang getol menyampaikan pesan-pesan damai dan dialog untuk negara-negara yang mengalami konflik dan kekerasan. Ketika Timur Tengah mengalami konflik dan peperangan, ia dengan lantang menyerukan dialog dan kasih. Ia menjadi tokoh perdamaian bagi negara-negara yang berkonflik. Read the rest of this entry »





Gambaru!

18 03 2011

Berikut saya postingkan dari milis tetangga tentang sharing seorang rekan Indonesia yang sedang belajar di Jepang.Mungkin memang bukan hanya dibutuhkan semangat samurai saja, tetapi juga perlu keseimbangan juga karena dengan semangat Gambaru toh ada juga yang gak bertahan, malu dan memilih harakiri daripada malu.  Semoga keteguhan rakyat Jepang dalam menghadapi tantangan berat akibat musibah alam ini dapat meneguhkan kita semua.

Oleh Rouli Esther Pasaribu pada 14 Maret 2011 jam 12:02

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan. Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu : motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama), motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi). Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? Apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja. Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu” (maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.). Read the rest of this entry »





Gempa & Tsunami di Jepang: Disikapi Dengan Bijaksana

13 03 2011

Seisi dunia terperangah saat Jepang diguncang gempa berskala 8.9 SR disertai tsunami menghantam bagian timur Jepang. Negara yang paling siap menghadapi gempa akhirnya harus menghadapi ancaman kebocoran reaktor serta krisis listrik sebagai akibat rusaknya reaktor nuklir mereka. Jepang yang memiliki sistem mitigasi bencana yang rapih bahkan setiap tanggal 1 September mereka melakukan simulasi penanggulangan bencana di beberapa kota yang paling kritikal terhadap gempa dan tsunami sebagai peringatan akan gempa Kioto. Setiap bulan anak-anak sekolah latihan evakuasi sehingga saat bencana datang, anak-anak ini tahu persis apa yang harus dilakukan.

Gempabumi tidak pernah bahkan jarang sekali membunuh manusia, kecuali ia terjerumus masuk kedalam patahan bumi.  Dalam alam natural, binatang jarang sekali menjadi korban gempa bumi. Secara alami mereka diberikan kemampuan lebih untuk segera menyelamatkan diri, termasuk datangnya tsunami. Fenomena gajah-gajah di Thailand yang panik lari ke atas bukit dengan membawa penumpang dan pawangnya sebelum tsunami, justru menyelamatkan manusia. Yang justru banyak menelan korban adalah gedung dan bangunan sipil yang dirancang dengan buruk. Siapa yang membuat bangunan-bangunan tersebut? Manusia juga. Olehkarenanya, Jepang sangat ketat dalam menentukan aturan tingkat keamanan gedung-gedung yang ada serta menentukan zona aman didaerah pantai.  Mereka sudah memetakan wilayah yang berbahaya berdasarkan riwayat gempa yang ada  dengan peralatan canggih. Tidak ada kompromi bagi tingkat keamanan publik. Bagaimana dengan kita, apa bedanya Indonesia dengan Jepang yang sama-sama dikelilingi patahan bumi “Ring of Fire” penuh gunung api dan palung laut?

Perbedaannya ada dalam paradigma dan sikap mental bangsanya dalam memandang resiko terhadap gempa. Jepang menyadari dan bisa menerima fakta bahwa mereka hidup diwilayah bahaya. Apakah kita bisa menghadapi gempa serupa dengan sikap yang sama?  Berikut adalah kumpulan twits : Read the rest of this entry »





Memahami Pluralisme di Indonesia – Mgr Pujasumarta

25 02 2011
Kamis, 24 Februari 2011 di Aula Mapolda Jateng, Semarang. Silakan click http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/319/Memahami_Pluralisme_di_Indonesia

1. Pluralisme Indonesia Sebuah Kenyataan

Kenyataan Indonesia adalah plural, majemuk dalam budaya, agama, dan status sosial ekonomi. Setiap orang Indonesia berada dalam pluralitas tersebut. Karena itu, dialog merupakan cara dewasa menjadi Indonesia. Dengan demikian dialog bukan sekedar suatu pilihan, melainkan keniscayaan untuk membangun Indonesia. Dalam dialog sejati toleransi saja tidak cukup.

Lebih dari toleransi perlu diupayakan mengembangkan sikap saling mengasihi dan saling menghormati (mutual love and mutual respect).antar warga Indonesia yang beragam budaya, beraneka agama, dan berbagai status sosial ekonomi. Program inkulturasi budaya, kerukunan hidup beragama, dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir merupakan perwujudan dialog sebagai cara cerdas menjadi Indonesia. Kenyataan pluralitas Indonesia inilah yang dirumuskan oleh pujangga kita Mpu Tantular dengan “Bhinneka Tunggal Ika”.

2. Banyak Anggota Satu Tubuh

Tubuh kita satu, tetapi banyak anggota. Kalau seluruh tubuh adalah kepala, di manakah tangan?  Kalau seluruh tubuh adalah tangan, di manakah kaki? Masing-masing anggota tubuh berbeda tempat dan fungsinya, tetapi semuanya terhubungkan satu sama lain, terjalin secara terpadu, berada bersama membangun satu tubuh. Kalau satu anggota tubuh terluka sakit, seluruh tubuh merasa sakit. Kalau satu anggota tubuh nyaman, seluruh tubuh merasa nyaman pula. Dalam komunikasi perbedaan merupakan potensi untuk menciptakan sinergi

3. Belajar Arif dari Jari Jemari Read the rest of this entry »