Rasa Takut Itu Manusiawi, Maka Andalkan Tuhan Agar Tidak Takut Lagi.

9 01 2013
“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Kalau mau iseng searching kata takut di electronic bible bisa ditemukan 430 kali kata itu disebut. Artinya secara harafiah, kita manusia bisa mengalami takut setiap hari bahkan bisa dua kali sehari. Takut terlambat ke kantor atau ikut tender, takut macet di jalan, bahkan sampai takut jadi jomblo abadi or malah takut miskin.Rasa takutpun menular. Anak perempuan yang ragu-ragu memilih pasangannya, takut mendapatkan laki-laki yang tidak berganggung jawab, biasanya orang tuanya juga ikut was-was. Mereka ikut panik bahkan menjadi iklan berjalan menawarkan anak perempuannya kemana-mana.  So true-lah masih manusia sih! Tapi kalau searching kata jangan takut maka hanya disebut sekitar 36 kali. Dan ternyata kata jangan takut didalam Alkitab hanya disebut oleh para nabi, malaikat, sabda Yahwe di Perjanjian Lama dan sabda Kristus sendiri. Read the rest of this entry »




Siap Hidup atau Siap Mati?

17 02 2012
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan nyawanya”
Menjelaskan tujuan hidup bagi orang lain memang tidak mudah, apalagi bagi anak sendiri. Apalagi kalau kita sendiri masih belum menemukan apa tujuan hidup kita? Apa yang menjadikan kita puas dan bahagia dalam menapaki kehidupan, apakah cukup untuk membahagiakan keluarga atau ingin memberi arti bagi masyarakat? Atau ingin mengubah dunia? Halaah… Pertanyaan ini memang gampang dilontarkan, tapi susah dijawabnya. Memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menemukan jawaban yang tepat… itupun kalau memang disadari perlu untuk dijawab. Maka saat anak saya yang masih SMP bertanya “Bunda, are you scared of death?” saya sempat terdiam beberapa waktu. Saya harus memutar otak mencari awaban apa yang tepat untuk anak seusianya, yang bisa membuat dia berani menapaki hidup, betapapun beratnya. Sempat curiga juga, jangan-jangan ia takut kehilangan ibunya. *Ge er juga…
Apa jawaban anda bila pertanyaan tersebut dilontarkan anak tercinta? Apakah anda akan cerita panjang lebar tentang Jesus sang Juru Selamat, yang telah menderita sengsara,  wafat di kayu salib  dan bangkit dihari ketiga untuk menebus dosa kita semua? Well,,… itu mah jawaban standar katekis yang penjelasannya bisa 1 sesi sendiri. Bisa jadi si anak terbengong-bengong, dan malah takut bertanya lebih jauh karena bakal ada kuliah sesi kedua hehehe…. Read the rest of this entry »




Fiat Voluntas Tua

7 10 2011

“Bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Menghadapi tantangan kehidupan jaman ini rasanya mustahil bisa menemukan orang yang tidak khawatir dan takut menghadapinya. Kata siapa pengusaha kaya gak takut? Mereka takut bangkrut, takut jatuh miskin tinggal punya  1 M. Padahal buat si miskin uang 1 M sudah bisa mengubah kehidupannya. Pejabatpun juga takut kehilangan jabatan dan segala kenyamanan, maka tidak heran segala hal dilakukan untuk mengamankannya. Yang mudapun takut, takut gak laku gak dapat jodoh, tapi juga takut menikah melihat buanyak banget yang bercerai disana-sini. Mahasiswa juga waswas dengan masa depannya, kok susah bener mau lulus tapi setelah lulus takut jadi pengangguran… makanya sekolahnya santai saja. Anak-anakpun sering dilanda khawatir, takut ditinggalkan teman-temannya sehingga apapun yang diminta akan mereka berikan. Ibu-ibu… wew… coba aja nguping saat mau jemput anak sekolah, mereka punya litani sendiri tuh.

Begitu banyak alasan disekitar kita untuk mengatakan bahwa takut dan khawatir itu manusiawi banget, semua orang mengalaminya… dimanapun. Tetapi semalam saya melihat juga begitu tegarnya beberapa orang menghadapi bermacam peristiwa dalam kehidupannya. Mereka tetap memiliki passion, semangat hidup dan menaruh pengharapan yang besar pada Kristus. Terjadilah padaku menurut perkataanMu, seperti itulah jawaban Bunda Maria pula saat menghadapi ketakutan dan kekawatiran yang melandanya. Percaya bahwa Allah menyertai, semakin kuat pengharapan karena kehadiran Roh Kudus memampukannya bertahan.

Demikian yang saya tangkap juga dari kesaksian yang beredar di milis tentang pendeta Jo (klik disini: Jonathan Jap Setiawan) dalam menghadapi musibah bom di GBIS Solo. Tetap melayani jemaatnya melawan ketakutan dan kepanikan yang ada, satu persatu dikunjungi dan didoakan. Read the rest of this entry »





Takut & Bimbang

7 08 2011

“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Kalau mau iseng searching kata takut di elektronic bible bisa ditemukan 430 kali kata itu disebut. Artinya secara harafiah, kita manusia bisa mengalami takut setiap hari bahkan bisa dua kali sehari. Takut terlambat ke kantor atau ikut tender, takut macet di jalan, bahkan sampai takut jadi jomblo abadi or malah takut miskin.Rasa takutpun menular. Anak perempuan yang ragu-ragu memilih pasangannya, takut mendapatkan laki-laki yang tidak berganggung jawab, biasanya orang tuanya juga ikut was-was. Mereka ikut panik bahkan menjadi iklan berjalan menawarkan anak perempuannya kemana-mana.  So true-lah masih manusia sih! Tapi kalau searching kata jangan takut maka hanya disebut sekitar 36 kali. Dan anehnya kata jangan takut didalam Alkitab hanya disebut oleh para nabi, malaikat, sabda Yahwe di Perjanjian Lama dan sabda Kristus sendiri.

Dua rekoleksi dalam sehari memaksa saya melihat kembali apa yang sudah saya lakukan selama ini, apakah sungguh sesuai denganyang direncanakan? Apakah sudah memberikan hasil seperti yang diharapkan? Atau malah beberapa waktu terbuang karena keraguan saya, memilih wait and see karena bimbang dan menghindari resiko.

Apa yang dialami Petrus kadang mendera kita juga dalam menghadapi gelombang kehidupan, entah itu kehidupan perkawinan, pekerjaan bahkan juga pelayanan. Pertanyaannya adalah siapa yang lebih kita dengarkan saakita berada dalam gelombang kehidupan, apakah kita fokus pada panggilan Yesus dan percaya kepadaNya? Ataukah kita lebih memperhatikan kondisi sekitar kita yang gela, menakutkan dan kelihatannya tanpa harapan? Read the rest of this entry »





Domba Ditengah Serigala (2)

18 10 2010

“Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.”

Hari ini kita memperingati pesta St Lukas, yang menuliskan Injil Lukas dan Kisah Para rasul. Ia mengisahkan perjalanan hidup Yesus yang dimulai dari kemiskinan di Bethlehem sampai kemuliaan di Jerusalem. Dimulai dari kawanan kecil keluarga Nazaret menjadi gereja perdana yang akhirnya sampai terpencar ke seluruh penjuru dunia. St Lukas menunjukkan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus, kita harus siap menyerahkan diri secara total meninggalkan semuanya untuk memiskinkan diri. Dengan menjadi miskin kita bisa dengan rendah hati dan meninggalkan ketakutan kita untuk mau diubahkan menjadi serupa dengan Yesus.

Lima  tahun lalu saya menghadapi keraguan besar saat mengambil keputusan masuk ke dunia politik. Selain minimnya pengetahuan dan tidak ada sanak keluarga yang politikus, sebagai perempuan jawa apalagi katolik, saya termasuk ‘hewan’ langka di dunia asing ini. Namun perjalanan  pelayanan serta aksi-sosial ke berbagai pelosok daerah di Indonesia membuat hati saya teriris melihat ketidak-adilan, kemiskinan dan semakin besarnya jurang antara kehidupan kota dan di daerah terpencil. Berdoa dan berpuasa bagi bangsa dan negara menjadi bagian dari ‘to-do list’ saya. Sampai suatu saat sebaris sabda Tuhan rasanya menampar saya dalam Yes 6:8 “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Beranikah saya menjawab seperti nabi Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!”.

Setiap kesempatan yang menyenangkan bagi kita sudah pasti tidak akan disi-siakan. Kalau ada  teman bertanya siapa mau ikut makan-makan, pasti banyak yang mau ikut. Tapi kalau ditanya siapa yang mau bertanggungjawab memberi makan, pasti tidak ada yang angkat tangan.  Maka pertanyaan di atas tidak mudah dijawab saat kita berdoa bagi bangsa dan negara bila Tuhan kembali bertanya ” Ok Aku jawab doamu, tapi siapa yang Ku utus?” Yang sudah-sudah, kita akan menjawab ” Ini aku Tuhan, utuslah dia!” sambil menunjuk orang lain yang kita rasa lebih mampu atau berbagai alasan masih banyak cara lain mengabdi pada bangsa dan negara.  Lebih banyak yang lebih siap dengan litani alasan-alasan untuk menolak.Not me, not this time. Read the rest of this entry »





Awas Hantu… eh Tuhan!

3 08 2010

“Hai orang yang kurang percaya mengapa engkau bimbang”

Gonjang-ganjing kehidupan di sekitar kita memang begitu menakutkan. Mau cari sekolah untuk anak, adakah yang bebas tawuran dan bebas dari kekerasan atau bullying? Ada tapi mesti rogoh kantong dalam-dalam dulu, biasanya mahal banget. Mau cari universitas dan tempat kost murah untuk anak, tapi adakah kampus yang bebas narkoba dan jauh dari seks bebas? Ada tapi bukan kampus papan atas. Mau naik kendaraan umum atau sepeda motor ditengah traffic yang luar biasa padat, apa bisa dijamin aman?  Naik lift saja belum tentu aman, bisa juga dirampok didalam lift. Perampasan mobil ditengah jalan jadi berita biasa. Apalagi penculikan dalam taxi dan sekarang pelecehan sexual di bis Trans Jakarta. Baca berita di media penuh bukannya tambah tenang, bisa-bisa bikin parno. Sedikit sekali dapat dijumpai ‘kabar baik’ dan menyenangkan.

Kalau melihat ini semua, mungkin lebih baik tidak keluar rumah en malah jadi parno, tidak berbuat apa-apa malah justru tenggelam dalam ketakutan. Tapi dengan tetap percaya bahwa Sang Immanuel ada bersama kita, dengan mata iman kita terus memandang Dia yang senantiasa mengulurkan tanganNya walaupun gelap sekalipun minim harapan. Pasti ada sapaan dan pertolongan yang datang untuk meneguhkan hati kita lewat orang-orang disekitar kita. Selalu ada penyelenggaraan Ilahi bagi orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan tidak pernah terlambat bagi siapapun yang berharap kepadaNya. Buktinya Yesus yang diseberang danau ditengah kegelapan malam saja bisa tahu kalau para murid sedang ketakutan di atas kapalnya. Read the rest of this entry »





Akhir Zaman…Sapa tatut?

27 07 2010
“Seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.”

Saya yakin tidak banyak pewarta bahkan romo senang membawakan renungan dengan tema yang menyeramkan ini. “Akhir zaman’ – bukan kata yang enak didengar apalagi kalau disampaikan dalam homili yang cuma 15 menit. Biar dibungkus bagaimanapun tetap saja ‘berasa’ tidak enak dan tidak nyaman didengar. Kalau ada opsi lain mungkin umat ingin dengar perikop yang indah-indah saja, yang baik-baik kedengarannya pokoknya yang menyenangkan hatilah. Mari datang kepadaku yang sakit, susah disembuhkan, yang letih lesu disegarkan, bahwa setiap doa pasti dijawab…… bukannya ” mari sini saya kasih tahu bahwa  sebentar lagi akhir zaman datang!? Kita tahu banyak sekali berbagai cerita horor yang menyebutkan tahun segini akan kiamat, menurut suku indian tahun segini juga kiamat, tapi pada akhirnya dengan deg-degan menanti-nanti kok belum terjadi juga ya?
Dalam kamus wikipedia, eskatologi disebut adalah bagian dari teologi dan filsafat yang berkaitan dengan peristiwa-perisitwa terakhir dalam sejarah dunia, atau nasib akhir dari seluruh umat manusia, yang biasanya dirujuk sebagai kiamat (akhir zaman). Ternyata setiap agama memiliki pemahaman tersendiri tentang akhir zaman. Tapi intinya sama, tentang satu pengharapan akan datangnya dunia yang baru – awal hidup baru sebagai lawannya akhir zaman atau kiamat. Akhir zaman akhir segala yang jahat dan akhir dari segala penderitaan bagi mereka yang terzolimi.
Lalu adakah alasan kita untuk takut menghadapi akhir zaman? Read the rest of this entry »