HR Allah Tritunggal

19 06 2011

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Seminggu ini saya mendapatkan beberapa berita duka. Kematian itu begitu dekat pada kita, tapi sering kita kurang menyadarinya dan menganggap kehidupan hari ini adalah biasa saja, seperti kemarin. We just take it for granted.

Seorang mantan karyawan orang tua kami, yang sudah bekerja puluhan tahun, kehilangan istrinya. Ia begitu berduka karena istrinya begitu setia menemaninya dalam suka dan duka, tidak pernah menuntut apa-apa. Saat saya datang melayat kerumahnya, ia seperti bernostalgia bagaimana dulu ia membantu bapak-ibu dalam usahanya selama puluhan tahun. Tentu kami bersyukur atas kesetiaan dan dedikasinya. Olehkarenanya anak-anak datang melayat. Ia mengisahkan bahwa sesaat sebelum meninggal, diantara sakitnya, istrinya berkata ” Pak, saya tinggal bapak duluan ya. Nanti seminggu lagi saya jemput Bapak.” Sambil berurai airmata, ia mengatakan “Semua kehidupan ada ditangan Allah, janganlah kita mendahului apa yang sudah digariskan Allah.” Tentu itu diucapkannya karena sang istri begitu mencintainya.

Kejadian lainnya saat saya mendapatkan berita duka dari Solo, dimana salah satu alumni kursus pendidikan di tempat kami meninggal dunia. Anak perempuan pertama, sangat rajin dan ceria, usianya belum lagi 10 tahun. Saat itu sepulang dari Solo menuju Klaten bersama ayahnya, mereka kembali dengan menggunakan mobil. Ditengah perjalanan mereka dihantam truk dari belakang. Si anak terlempar keluar dan luka parah, sementara ayahnya selamat walau menderita patah tulang kakinya. Sejak kecelakaan itu ia tidak sadar selama dua minggu sampai dengan ajalnya.  Saya begitu sedih mendengarnya dan mendoakan dari jauh. Anak bungsu saya berkata ” Mom, the good thing is she doesnot feel pain at all until she died. She had been loved and have a good life with her parent”.

Kematian begitu dekat, tapi sering kita tidak menyadarinya. Berat tentunya bagi mereka yang ditinggalkan oleh orang terkasih, tapi juga menakutkan bagi yang tidak siap menghadapinya. Siapkah kita menghadapinya bila satu persatu orang yang kita kasihi dipanggil pulang dan akhirnya tibalah giliran kita?

Dari seluruh kitab suci, bagian Perjanjian Baru merupakan penyempurnaan pewahyuan dari Perjanjian Lama. Dan bila disarikan dari seluruh kitab di Perjanjian Baru, intinya adalah Joh 3:16 – iman kepada Allah Tritunggal. Beruntunglah saya yang dibaptis katolik dari bayi, diberi kesempatan memahami apa arti iman kepada Allah Tritunggal. Seluruh Perjanjian Lama mengisahkan bagaimana Allah mengasihi dunia yang diciptakannya, Ia berusaha menyampaikan cintaNya melalui nabi-nabiNya. Tetapi manusia tetap jatuh dalam dosa, sehingga Ia mengutus PutraNya menjelma menjadi manusia dan tinggal diantara kita. Ia rela menderita sengsara, wafat dan bangkit dihari ketiga untuk menebus dosa seluruh manusia, agar kita semua yang percaya kepadaNya bisa kembali bersatu bersama Allah Sang Pencipta. Setelah kebangkitanNya, diutuslah Roh Kudus menyertai manusia sampai keujung bumi sampai dengan akhir jaman.

Maka kalau kita berdoa “Ya Allah sertailah kami senantiasa” atau mengucapkan “Tuhan sertamu (saat ini)”, atau bisa juga “Allah tinggal bersama kita, kita percaya itulah Allah Roh Kudus yang menyertai kita senantiasa. Bagi mereka yang telah menerima sakramen penguatan, kita bertugas merasul menjadi seperti Kristus, untuk mewartakan Kabar Baik. Kita telah diberikan karunia-karunia untuk saling membangun diantara anggota Gereja diantaranya:

1)Karunia hikmat : bijaksana,  menghargai, mencintai, dan mengutamakan cita-cita Ilahi
2)Karunia pengertian, memahami ajaran Yesus, dan melaksanakannya
3)Karunia nasihat, mau berbagi perjalanan hidup agar dapat melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat
4)Karunia keperkasaan – tabah menghadapi segala kesulitan dan derita serta sanggup memikul salib kehidupan sebagai murid Kristus
5)Karunia pengenalan akan Allah.  Tidak mudah tertipu dengan apa yang disediakan di dunia. sifatnya sementara saja dan digunakan untuk kemuliaan Tuhan
6)Karunia kesalehan, setia untuk terus berbakti. tahu berterima kasih atas segala kebaikan Bapa dan berani menjadi teladan kesalehan
7)Katunia takut akan Allah di mana pun berada, hanya melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah.

Semoga seluruh karunia ini kita tanggapi dan kita mohon senantiasa agar terwujud dalam setiap hari kehidupan kita sebagai tanda kasih kita kepada Allah Tritunggal. Dengan demikian kita berani terus memiliki pengharapan akan Dia yang senantiasa mendampingi kita dan menginginkan kita kembali bersamaNya.

================================================================================================

Bacaan Injil, Yoh 3:16-18
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: