Malaikat Pelindung “Baby Sitter” Kita Seumur Hidup

2 10 2012
“Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga.”
Pernahkah anda memperhatikan betapa riuhnya keadaan hari-hari pertama anak-anak TK dan SD bersekolah? Kita banyak menjumpai para ibu yang dengan setia ingin memastikan bahwa anak-anaknya bisa menghadapi suasana pergantian lingkungan dari rumah ke sekolah dengan gembira. Tidak jarang memang dijumpai beberapa anak masih menangis, tidak mau ditinggal ibunya. Bahkan beberapa ibu berusaha mendapatkan ijin gurunya agar boleh mendampingi si anak beberapa waktu di kelas. Tentu saja umumnya para guru ini tidak akan membiarkannya, mereka berharap anak-anak cepat mandiri dan dapat beradaptasi dengan singkat. Banyak sekolah menerapkan aturan para penunggu/pengantar diminta menunggu diluar garis batas tertentu. Setelah lewat beberapa waktu, umumnya para ibu menyerahkan ‘penjagaan’ terhadap anak-anak mereka pada para baby sitter.
Baby sitter menjadi pengganti para ibu dalam melayani anak-anaknya. Kalau anda perhatikan merekalah yang paling sering ditelpon oleh para ibu untuk menanyakan keadaan anaknya. Apakah anak-anak sudah makan, sedang berbuat apa, apakah sudah diganti baju kalau basah, termasuk mereka sedang bermain apa dsb. Ada juga orangtua yang memasang CCTV dirumah untuk memastikan bahwa anaknya ‘aman’ dan sekaligus mengecek apakah para baby sitter ini bisa dipercaya untuk menjaga anak-anak yang dicin Read the rest of this entry »
Advertisements




Makan Untuk Hidup VS Hidup Untuk Makan

23 04 2012
“Apakah yang harus kami perbuat  supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”
Sering saya bertanya pada orang muda, untuk apa kalian bekerja. Jawabannya kurang lebih sama, untuk dapat penghasilan. Lalu penghasilannya untuk apa? Untuk hidup, untuk bayar makan, kost, transport, pulsa, beli baju, nonton dsb. Ada juga yang jawab untuk menjajal kemampuan diri, untuk belajar lebih banyak… idealis ya? Pastinya mereka belajar dunia sebenarnya, yang sangat berbeda dari kampus. Dunia yang kejam dan kotor serta sering tidak adil bagi yang tidak memiliki uang.
Tapi ada yang menarik saat pertanyaan itu saya lemparkan pada seorang karyawati muda yang bekerja jauh dari kampungnya di Bandung. Ia bekerja di sebuah unit pelayanan keuangan non bank di luar kota Padang. Saya tanya kenapa senang bekerja disini ditempat yang jauh dari rumah dengan fasilitas terbatas sementara teman-temannya lulusan universitas ternama bekerja di bank asing mentereng di Jakarta? Jawabannya mencengankan saya, katanya ” Kalau dari fasilitas memang saya jauh sekali bila dibandingkan teman-teman yang bekerja di kota besar. Tetapi saya menyukai pekerjaan saya. Saya bisa membantu orang-orang yang hidupnya lebih sulit dari saya. Untuk saya uang Rp 50-100 ribu tidak cukup untuk pulsa sebulan. Tetapi uang sejumlah itu ternyata bisa menyambung hidup seorang janda untuk seminggu dengan anak-anaknya, malah bisa bayar uang sekolah yang tertunggak. Saya selalu dihadapkan pada tantangan bagaimana saya bisa mencari jalan keluar bagi orang-orang seperti ini disini.” Read the rest of this entry »




Melihat Tapi Tidak “Melihat”

10 04 2012
“Aku telah melihat Tuhan!
Mengenali kehadiran orang lain rupanya tidak mudah dilakukan hagi sementara orang. Mereka memang melihat kehadiran orang-orang disekitarnya bahkan ada yang hadir didepannya. Tetapi seringkali orang-orang tertentu hanya melihat pada dirinya sendiri dan menganggap kehadiran orang lain tidak penting. Atau dengan kata lain kehadirannya justru lebih penting untuk ‘dilihat’ orang lain.
Hal ini tampak bagaimana mereka mendominasi pembicaraan; hanya ingin berbicara tapi tidak memberi kesempatan orang lain berbicara. Hanya ingin didengar tapi tidak mau mendengar kisah orang lain. Kata-kata yang digunakan banyak berawalan “saya” atau “aku”. Saya memiliki bla bla bla, pekerjaan saya sangat berat.., keluarga saya…, paman saya…, saudara saya…, teman saya …. Seolah orang lain tidak memiliki kisah seperti dirinya, atau seolah-olah kisahnya memang perlu diperdengarkan kepada semua orang. Read the rest of this entry »




Siap Hidup atau Siap Mati?

17 02 2012
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan nyawanya”
Menjelaskan tujuan hidup bagi orang lain memang tidak mudah, apalagi bagi anak sendiri. Apalagi kalau kita sendiri masih belum menemukan apa tujuan hidup kita? Apa yang menjadikan kita puas dan bahagia dalam menapaki kehidupan, apakah cukup untuk membahagiakan keluarga atau ingin memberi arti bagi masyarakat? Atau ingin mengubah dunia? Halaah… Pertanyaan ini memang gampang dilontarkan, tapi susah dijawabnya. Memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menemukan jawaban yang tepat… itupun kalau memang disadari perlu untuk dijawab. Maka saat anak saya yang masih SMP bertanya “Bunda, are you scared of death?” saya sempat terdiam beberapa waktu. Saya harus memutar otak mencari awaban apa yang tepat untuk anak seusianya, yang bisa membuat dia berani menapaki hidup, betapapun beratnya. Sempat curiga juga, jangan-jangan ia takut kehilangan ibunya. *Ge er juga…
Apa jawaban anda bila pertanyaan tersebut dilontarkan anak tercinta? Apakah anda akan cerita panjang lebar tentang Jesus sang Juru Selamat, yang telah menderita sengsara,  wafat di kayu salib  dan bangkit dihari ketiga untuk menebus dosa kita semua? Well,,… itu mah jawaban standar katekis yang penjelasannya bisa 1 sesi sendiri. Bisa jadi si anak terbengong-bengong, dan malah takut bertanya lebih jauh karena bakal ada kuliah sesi kedua hehehe…. Read the rest of this entry »




Hidup itu Memilih vs Hidup itu Pilihan

10 02 2012

“Maria telah bagian yang memilih terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Hidup memang isinya hanya memilih dan memilih keputusan, dari bangun tidur sampai tidur lagi kita selalu membuat keputusan sebelum melakukan sesuatu. Tetapi karena terbiasa, kita seringkali tidak lagi berpikir apakah perlu atau tidak. Kita tidak berpikir lagi mana kaki yang dipakai untuk melangkah lebih dulu, menyisir rambut ke kiri atau kekanan, mau makan sendok di tangan kanan apa kiri. Halaaah….. bisa gila mikirin itu semua.

Walaupun demikian yang ‘sudah terbiasa’ sering pula tidak kita pikirkan apakah yang dilakukan tersebut memang ‘baik’? sudah benar? dan benar menurut ukuran siapa? Salah satu MLM mengajarkan bahwa suatu tindakan yang dilakukan setiap hari selama 90 hari akan menjadi kebiasaan. Aristoteles mengatakan kebiasaan-kebiasaan yang terus menerus dilakukan tanpa disadari akan membentuk karakter. Kalau terbiasa tidak jujur, maka dalam berbagai kesempatan seseorang akan selalu tidak jujur sehingga karakternya menjadi tidak jujur. Demikian pula bila seseorang terbiasa rajin melakukan sesuatu, maka lama kelamaan karakternya terbentuk menjadi rajin. Maka mengubah karakter seseorang perlu dimulai dengan mulai melatih kebiasaan-kebiasaan baru. Read the rest of this entry »





A shoulder to cry on

7 12 2011
“Aku akan memberi kelegaan kepadamu”
Pernahkah teringat masa-masa kelam beberapa waktu sebelum ini?Dalam setiap kehidupan manusia pasti ada saat-saat dimana Tuhan rasanya dekat sekali, tetapi ada juga masa-masa sulit dimana Tuhan rasanya jauh sekali. Beban hidup rasanya kok berat betul sampai-sampai ada keraguan apakah saya bisa bertahan? Mungkin itu juga yang membuat beberapa orang memutuskan terjun dari lantai sekian di mall dan apartemen di Jakarta akhir-akhir ini. Kalau mode baju jadi trend rasanya wajar. Tapi ini kok trendnya terjun bebas dari mall …ah… sudah sedemikian beratnya sehingga tidak tertanggungkan?
Beban hidup memang tidak pernah selesai. Bahkan menjadi murid Kristuspun tidak ada jaminan bahwa kita akan terlepas dari beban kehidupan. Masalah tidak berhenti dari mereka yang usia muda. Sulit belajar, diganggu teman di sekolah, tidak dapat pasangan, sulit mendapatkan pekerjaan, susah lulus, belum lagi urusan rumah tangga dan keluarga lainnya. Read the rest of this entry »




First Thing First

28 08 2011

Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia

Ingatkah anda saat orangtua memuji-muji anda, memeluk dan mencium manyatakan kasih sayang dan kebanggaannya akan anda? Tapi pernahkah anda juga teringat saat dimana orangtua memarahi kita habis-habisan, sampai kuping merah, malah kalau bisa kita serasa ingin masuk kedalam bumi.. kalau bisaaaa. Saat kita memberikan yang terbaik tentu kita mendapatkan pujian, tetapi saat kita lengah dan berbuat kesalahan kitapun tidak lepas dari teguran.

Saya ingat sekali sebagai anak tertua dari 7 bersaudara, saya merasa orangtua saya pilih kasih. Aturan-aturan untuk saya sangat berat (waktu itu), tidak seperti adik-adik saya lainnya. Kalau yang lain waktu SMA adik-adik bisa keluar bermalam minggu, saat saya SMA hanya boleh pergi sampai dengan jam 22. Itupun diantar dan dijemput alm bapak sendiri. Ketika itu saya malu sekali dengan teman-teman saat bapak sampai turun dari mobil dan datang kedalam pesta. Kadang beliau mencari tuan rumah juga… halaah, kayak polisi deh hahaha….. Pernah saya pulang jam 23 karena pestanya seru banget, wah habis saya disidang bapak-ibu sampai merah kupingku. Mau jadi perempuan apa kamu pulang larut malam? Bagaimana kamu bisa jadi contoh buat adik-adik kamu? Weleh… mana pernah kepikir, lha wong masih belasan tahun. Read the rest of this entry »