Sri Sultan: Kini sukar mendapat tokoh nasional Katolik

21 12 2012

Note: Semoga keprihatinan Sri Sultan menjadi pemicu pembangkit semangat kaderisasi OMK sebagai generasi penerus yang mewariskan nilai keimanan dan keindonesiaan sekaligus.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X menyoroti kelemahan pendidikan kader sebagai penyebab sulitnya orang-orang Katolik saat ini yang tampil sebagai tokoh-tokoh nasional dibanding dengan pada masa-masa awal kemerdekaan.

“Bahkan, nyaris tidak ada aktivitas orang muda Katolik yang mengarahkan mereka pada peran dan tanggung jawab dalam politik. Hal ini berbeda dengan pada masa-masa awal kemerdekaan, dimana kala itu, banyak sekali tokoh-tokoh Katolik yang mengambil peran sentral,” katanya saat memberi keynote speech dalam acara Dies Natalis ke-67 Pemuda Katolik di Kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Minggu, (16/12). Read the rest of this entry »





Umat Katolik Harus Bangun Politik yang Mulia

12 10 2011

 Jakarta, Kompas – Umat Katolik perlu membangun kondisi perpolitikan di Indonesia yang mulia dan beradab. Caranya, umat Katolik, sesuai peran masing-masing, harus memperjuangkan kepentingan orang banyak dan kepentingan bangsa tanpa membedakan-bedakan golongan, status sosial, suku, agama, dan ras.

Pengamat politik J Kristiadi menyampaikan hal tersebut dalam seminar dengan tema ”Menuju Gereja yang Makin Mengindonesia” di gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta, Rabu (12/10).

Seminar itu digelar dalam rangka perayaan 50 Tahun Hierarki Gereja Katolik Indonesia. Tampil sebagai pembicara dalam seminar itu antara lain Mgr FX Hadisoemarto, OCarm; Staf Pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STF) Madya Utama, SJ; dan pengamat politik J Kristiadi. Read the rest of this entry »





Paus Benediktus XVI: Masa Depan Eropa

14 08 2011

Hari Orang Muda Sedunia 2011, yang akan diselenggarakan di Madrid tgl 16-21 Agustus, adalah moment penting di mana Paus Benedictus akan mengingatkan akar-akar kekristenan Eropa dan mengajak Eropa memahami nilai-nilai demokrasi. Seperti dinyatakan oleh Paus dalam sambutannya di Zagabria, Croatia, pada awal juni lalu, dua hal penting yang perlu ditekankan ialah: menemukan kembali akar-akar kekristenan Eropa dan memperdalam pengertian demokrasi pada masyarakat Eropa abad 21.

Berbicara di hadapan para pemimpin agama, politik, bisnis dan budaya, Paus meringkaskan kembali pandangannya tentang agama dan masyarakat yang sudah ia sampaikan sejak Ia terpilih menjadi Paus tahun 2005.

1.     Agama bukanlah sesuatu yang berada di luar atau terpisah dari masyarakat. Agama adalah bagian inti dari masyarakat. “Agama tidak terpisah dari masyarakat, melainkan adalah elemen natural di dalam masyarakat yang menunjuk dimensi vertikal: yaitu mendengarkan kehendak Tuhan dalam rangka mencari cara terbaik mewujudkan kebaikan umum, keadilan dan kebenaran.
Read the rest of this entry »





Cerita dari Pedalaman: Camping Rohani Paroki Balai Berkuak

29 06 2011
Malam itu sekitar 100 orang secara spontan berkumpul di bawah menara salib kayu besar yang dipersembahkan orang muda dan dewan pra paroki Meraban bagi segenap peserta Camping Rohani 2011 paroki Balai Berkuak. Pra paroki Meraban adalah bagian dari paroki Balai Berkuak yang sedang menyiapkan diri menjadi paroki mandiri.
Mereka menyanyi dan menari mengelilingi  salib yang berkerlipan  karena lampu-lampu hias yang  dipasang di seluruh bagian salib kayu itu. Lingkaran salib itu sendiri terbentuk secara spontan, setelah mereka mengakhiri malam kesenian dengan pentas komunitasnya. Dengan dipandu frater, mereka berbagi apa yang mereka temukan dalam kemah rohani yang sedang berlangsung. Dua orang secara spontan minta didoakan bagi keluarga mereka yang baru saja meninggal. Doa dan harapan bersahutan, hingga terdengar isak tangis dari beberapa peserta malam itu.
Empat hari, 400 orang muda Katolik dari 9 paroki di keuskupan Ketapang bagian tengah dan utara berkumpul dan berbagi kegembiraan, persaudaraan, kisah, keprihatinan dan harapan. Mereka berasal dari Penyumbung, Traju, Sepotong, Semandang, dll . Mereka datang menggunakan berbagai kendaraan mulai dari sepeda motor, truk, hingga perahu motor. Mereka tidur di tenda sederhana, MCK di tempat yang sangat sederhana, memasak sendiri makanan mereka, tetapi mereka tak kehilangan semangat dan antusiasme mereka.
Acara CR 2011 ini merupakan yang pertama sejak jalan trans Kalimantan perlahan membuka kawasan Simpang Hulu dari ketertutupan. Balai Berkuak memang terletak di pedalaman, kira-kira 5 jam perjalanan dari Pontianak. Dahulu sebelum jalan Trans Kalimantan diperkeras, perjalanan dapat mencapai 4-5 hari perjalanan darat di musim hujan, mengingat sangat buruknya infrastruktur jalan raya waktu itu.
Acara CR kali ini memang berlangsung meriah, meski dikemas sangat sederhana. Acara dibuka dengan misa kudus yang dipersembahkan oleh romo Ignatius Made, pr. Romo mengundang orang-orang muda kembali pada ajaran Bapa Suci benediktus XVI : Kami ingin memberikan kalian keutamaan-keutamaan : keberanian, pengorbanan, kemurahan hati, keadilan, persahabatan, kebesaran kasih, dan keunggulan intelektual.
Lewat makan malam, peserta diajak untuk berkenalan dalam beragam permainan keakraban yang dipandu Tim Lingkarmuda dari Yogyakarta. Tim yang terdiri dari 4 orang secara bergantian menganimasi para peserta.




Domba Ditengah Serigala (2)

18 10 2010

“Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.”

Hari ini kita memperingati pesta St Lukas, yang menuliskan Injil Lukas dan Kisah Para rasul. Ia mengisahkan perjalanan hidup Yesus yang dimulai dari kemiskinan di Bethlehem sampai kemuliaan di Jerusalem. Dimulai dari kawanan kecil keluarga Nazaret menjadi gereja perdana yang akhirnya sampai terpencar ke seluruh penjuru dunia. St Lukas menunjukkan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus, kita harus siap menyerahkan diri secara total meninggalkan semuanya untuk memiskinkan diri. Dengan menjadi miskin kita bisa dengan rendah hati dan meninggalkan ketakutan kita untuk mau diubahkan menjadi serupa dengan Yesus.

Lima  tahun lalu saya menghadapi keraguan besar saat mengambil keputusan masuk ke dunia politik. Selain minimnya pengetahuan dan tidak ada sanak keluarga yang politikus, sebagai perempuan jawa apalagi katolik, saya termasuk ‘hewan’ langka di dunia asing ini. Namun perjalanan  pelayanan serta aksi-sosial ke berbagai pelosok daerah di Indonesia membuat hati saya teriris melihat ketidak-adilan, kemiskinan dan semakin besarnya jurang antara kehidupan kota dan di daerah terpencil. Berdoa dan berpuasa bagi bangsa dan negara menjadi bagian dari ‘to-do list’ saya. Sampai suatu saat sebaris sabda Tuhan rasanya menampar saya dalam Yes 6:8 “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Beranikah saya menjawab seperti nabi Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!”.

Setiap kesempatan yang menyenangkan bagi kita sudah pasti tidak akan disi-siakan. Kalau ada  teman bertanya siapa mau ikut makan-makan, pasti banyak yang mau ikut. Tapi kalau ditanya siapa yang mau bertanggungjawab memberi makan, pasti tidak ada yang angkat tangan.  Maka pertanyaan di atas tidak mudah dijawab saat kita berdoa bagi bangsa dan negara bila Tuhan kembali bertanya ” Ok Aku jawab doamu, tapi siapa yang Ku utus?” Yang sudah-sudah, kita akan menjawab ” Ini aku Tuhan, utuslah dia!” sambil menunjuk orang lain yang kita rasa lebih mampu atau berbagai alasan masih banyak cara lain mengabdi pada bangsa dan negara.  Lebih banyak yang lebih siap dengan litani alasan-alasan untuk menolak.Not me, not this time. Read the rest of this entry »





Tidak Dihormati Keluarga

3 02 2010

“Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka”

Ibu pernah bercerita saat bapak  memutuskan meninggalkan karirnya di pemerintahan, waktu itu posisi terakhirnya sebagai pembantu menteri (Dirjen-lah kalau sekarang) dan memutuskan menjadi wiraswasta sepenuhnya, keluarga besar seperti kakak adik mereka memberikan komentar yang cukup keras juga. Maksudnya mungkin baik, sudah bagus-bagus punya karir yang pasti kok malah dilepas untuk sesuatu yang tidak pasti. Lebih baik masuk dunia pendidikan karena keluarga kita kan keturunan guru dan pendidik, gak ada yang jadi pengusaha. Apalagi di jaman itu jarang sekali etnis jawa berbisnis, lha yang warga keturunan saja masih dihitung jari – kebanyakan pedagang dari etnis padang, keturunan arab dan fihak asing. Toh akhirnya mereka berdua bertahan dan terus maju menghadapi tantangan puluhan tahun. Walhasil sejalan dengan keberhasilan mereka, banyak keponakan yang dibiayai sampai menjadi sarjana.

Demikian juga saat saya memutuskan menjajal dunia politik dengan masuk ke salah satu parpol,  ada kesan’berat’ untuk  bisa diterima oleh keluarga besar.  Mungkin maksudnya juga karena sayang dengna saya dan tidak ingin saya kecewa, beberapa orang yang boleh dikata sesepuh mengatakan: Apa kamu yakin kamu bisa bertahan disana (politik)? Politik itu kejam, politik itu kotor … bla…bla… bla bahkan keluarga kitapun tidak ada yang terjun didunia politik. Coba pikirkan baik-baik. Saya tetap melangkah dengan mengandalkan restu suami dan bapak – waktu itu ibu sudah meninggalkan kami terlebih dulu. Tapi saya yakin ibu pasti senantiasa mendoakan dari atas sana seperti kebiasaannya berdoa dengan menyebut nama kami satu persatu setiap hari dari pagi sampai malam, baik dalam doa pribadinya maupun dalam persekutuan doa dan doa lingkungan.

Kita hidup didalam tradisi timur dimana banyak sekali pertimbangan keluarga plus keluarga besar termasuk ipar bisa menjadi ikut penentu arah dalam pengambilan keputusan. Coba lihat saja kalau ada pasangan menikah tanpa dirayakan dengan mengundang keluarga, reaksinya bisa wuaaaah.. kebanyakan sih negatif. Read the rest of this entry »





Kisah Damai Untuk Indonesia (Rm A. Budi Purnomo, Pr)

7 01 2010

Berikut saya lampirkan artikel yang saya tulis dan dimuat di kolom opini Harian Wawasan Sore (6/1/2010). Di dalamnya saya menyebut dan merefleksikan peristiwa langka ketika pada tanggal 25 Desember 2009 lalu (dari pukul 20.00 hingga 03.00) saya “Natalan” di Masjid Baiturrahman Semarang bersama Ikatan Remaja Pemuda Masjid Baiturrahman (IKAMABA) dan para santri dari Ponpes Al Ishlah Tembalang. Silahkan dicermati sebagai “obat duka” setelah Gus Dur wafat. – A. Budi Purnomo, Pr

MENJELANG berakhirnya tahun 2009, kita kehilangan seorang guru bangsa, tokoh besar dunia, pejuang demokrasi, bapak pluralisme, dan multikulturalisme Indonesia, pelindung kaum minoritastertindas, yakni KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Wafat Gus Dur membuat Indonesia dan dunia berduka. Secara spiritual-kultural, Gus Dur adalah tokoh penting dan sentral bagi komunitas Nahdlatul Ulama.

Namun, sebelum Gus Dur wafat, ada kabar gembira dari Semarang, yang dipelopori oleh ’’anak-cucu spiritual” Gus Dur yang mempraksiskan secuil kisah indah untuk anak bangsa. Kisah indah tentang perdamaian dan harmoni hidup bersama lintasagama terjadi di Masjid Baiturahman Semarang. Dan kisah ini memuat pesan damai untuk Indonesia dan dunia.

Tanggal 25 Desember 2009, bersama Emha Ainun Nadjib (budayawan dengan Kiai Kanjeng-nya), KH Budi Hardjono (Pengasuh Ponpes Al Ishlah Tembalang-Semarang), M Tafsir (Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Tengah), Giok Lan (Pengurus Makin Jateng) dan Ronny Chandra (Rohaniwan GIA Pringgading Semarang), Mustofa W Hasyim (PW Muhammadiyah DIY), saya diundang menghadiri silaturahmi damai dengan mediasi seni dan budaya di halaman Masjid Raya Baiturrahman Semarang. Read the rest of this entry »