Bukan Siapa Tetanggaku, Tapi Jadilah Tetangga Yang Baik

3 10 2011

Sudah hampir setahun saya pindah ke tempat kost baru di areal perumahan kelas menengah ke atas itu, yang hampir semua rumah terbalut pagar tinggi berjeruji dan berduri, bahkan kadang saya tidak pernah melihat bentuk rumah indah yang terhalang oleh pagar indah nan mahal harganya lebih dari harga rumah ayahku di kampung halaman. Rasanya aku terkurung dalam sangkar emas. Untuk tetangga yang disamping dan di depan rumah pun aku tak pernah mengenalnya bahkan melihat wajah mereka saja susah. Apakah aku kuper (kurang pergaulan) mungkin saja benar. Tanpa membela diri tapi bagaimana mungkin kita bisa bertemu dengan orang-orang di sebelah rumah kita bila antara dia dan aku ada tembok pemisah, bahkan anjing-anjing yang harga makanan dan perawatannya lebih mahal dari biaya hidupku di Manila dalam sebulan.

Injil hari ini menceritakan tentang kisah orang Samaria yang baik hati, yang hatinya tidak pernah terbatasi oleh tembok permusuhan antara Israel dan bangsanya Samaria, yang cintanya mengalir tanpa bertanya siapa yang dibantu, yang tanpa merasa menjadi sebuah kerugian bila ada kesempatan untuk bisa menyalurkan kasih kepada orang lain, siapa pun dia. Cinta orang Samaria seharusnya ada di hatiku sehingga bisa meruntuhkan tembok-tembok tinggi di sekitar rumahku untuk menyapa jiwa di sebelah pagar dan tembok pemisah. Cinta orang Samaria hendaknya menjadi obat penjinak anjing-anjing herder yang dijadikan penjaga rumah-rumah mewah itu. Namun, hati cuma menjerit karena terkadang hati tak mampu melompati dan meruntuhkan tembok-tembok pemisah itu. Read the rest of this entry »

Advertisements




Adakah Yang Baik dari Indonesia?

24 08 2010

“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Rasanya hari-hari ini kita paling minder diapit negara-negara tetangga kita. Panggilan “indon” benar-benar melecehkan, apalagi dengan keadaan barter petugas DKP dengan nelayan negara tetangga membuat supir taksi bisa berkomentar “negara anda memang bodoh!” … hadooh! Apa yang baik dari Indonesia, kalau yang keluar hanya berita-berita tentang skandal korupsi, berita kemiskinan silih berganti dan skandal video mesum yang    jadi trending topic di twitter sekian lama. Ditambah lagi tingginya frekwensi kekerasan yang muncul oleh para ormas atas nama agama menjelang bulan puasa.

Betulkah tidak ada yang baik dari indonesia seperti apa yang dikatakan penduduk negara tetangga kita? Marilah kita berkaca pada diri-sendiri dengan pertanyaan yang sama. Kita – anda dan saya – adalah orang Indonesia, adakah yang baik yang kita lakukan selama ini? Apakah orang lain perlu tahu dan harus tahu?  Atau karena kita juga tidak mau tahu apa yang sudah baik yang dihasilkan Indonesia, sehingga kita tidak mau terlibat untuk ‘mensiarkan’ KABAR BAIK tentang Indonesia?

Injil hari ini menampar kita dengan dua hal, kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai orang Indonesia tetapi apakah kita telah mengambil waktu merefleksikan diri dengan bertanya “Kebaikan apa saja yang telah saya lakukan selama ini?”. Baik untuk saya atau baik bagi orang lain? Kacamata siapa yang kita gunakan? Apakah orang lain merasakan dampak dari kebaikan kita? Menjadi lebih baikkah dia? Kabar baik apa yang kita akan utarakan saat seseorang bertanya “Apa kabar?” Bukan apa yang sudah dilakukan Indonesia, apa yang kudapat dari Indonesia, tetapi apa yang sudah aku lakukan bagi bangsaku ? Read the rest of this entry »





Jangan Ikut Marah Berjamaah

31 08 2009

“Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.

Saat ini negri kita sedang gonjang ganjing akan berita yang pencaplokan budaya oleh negara tetangga, bahkan persoalan makin merembet ke soal-soal lama yang sungguh berbeda urusannya. Saya akhirnya tergelitik untuk memperhatikan masalah ini, ternyata belum ada penjelasaan atau pengumuman resmi secara kenegaraan bahwa negara jiran yang merupakan tetangga kita tersebut berniat mengakui budaya Indonesia.

Memang ada di dalam iklan pariwisata mereka, sekelumit iklan Tari Pendet dari Bali ini rupanya menjadi sumber ketersinggungan kita, menganggap itu sebuah pengambilan budaya. Ketika mendengar penjelasan Mentri Budaya dan Pariwisata, Jero Wacik di Metro TV semalam, jelaslah tampak kita mudah marah tanpa jelas dulu duduk perkaranya. Diceritakan oleh beliau, ketika terjadi masalah Reog Ponorogo 2 tahun yang lalu, itu adalah kesalahan biro iklan swasta disana, pemerintah Malaysia tidak ikut campur, tetapi setelah diajak bicara baik-baik, mereka paham dan langsung mengoreksinya serta minta maaf. Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Read the rest of this entry »