Makanan Rohani dan Jasmani

2 08 2010

Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.

Almarhum ibu saya punya hobby koleksi tas, tapi yang disukainya adalah tas yang besar dan kuat, maka umumnya tas nya terbuat dari kulit. Ibu memang orang yang ‘macak’ sejak remaja, bahkan dalam keadaan terbatas pun masih kreatif menghasilkan segala sesuatu untuk tampil rapi tanpa memberi kesan berlebihan. Sayangnya kedua anak perempuannya tidak  ‘semacak’ sang ibu :D Tapi yang membuat saya kagum adalah isi tas ibu itu lho. Segala nya ada didalam tas ibu, seperti tas Doraemon layaknya. Dari  keperluan anak seperti permen, kadang ada mainan kecil terselip, tensoplast sampai berbagai obat-obat P3K ada. Masih diluar perkakas perempuan seperti  peralatan kosmetik kadang terselip juga baju ganti anak.

Lho? untuk siapa barang sebanyak ini bu. Ibu saya cuma tersenyum, nanti kamu juga tahu. Maklum ibu terbiasa bepergian dengan anak banyak. Total 7 orang lho. Jadi ada saja yang dibutuhkan anak-anak waktu kecil. Tapi itu kan dulu waktu kami masih kecil. Ternyata kebiasaan itu tidak berhenti dan tas ibu tetap saja tidak berubah. Saya baru mengerti saat di gereja ada umat yang pingsan, maka ibulah yang pertama-tama bangkit dan paling repot mengurusinya. Isi tasnya keluar semua.  Ada obat gosok, ada minyak angin, ada salonpas.

Demikian juga setiap kali pergi pasti ia membawa setumpuk uang tunai, buat apa ibu bawa banyak uang, apakah untuk belanja, tanya saya. Ternyata setelah saya amati, ia selalu saja siap membantu siapa saja yang ia temui hari itu. Apakah itu pendeta, romo, suster, bahkan tukang yang istrinya sedang sakit, dan siapapun yang sedang susah, pasti dengan cepat ibu membuka tas Doraemonnya.Wah.. sungguh saya bangga punya ibu yang memikirkan orang lain lebih dari dirinya sendiri. Read the rest of this entry »

Advertisements




Mengatasi Rasa Lapar

20 04 2010

“Tuhan berikanlah kami roti itu senantiasa.”

Penyakit masyarakat yang paling membahayakan bisa timbul saat kelaparan melanda. Logika sudah tidak bisa bekerja saat perut lapar. Bahkan orang sepintar apapun bisa nekad kalau perut sudah lapar. Berbagai kasus penyakit masyarakat sampai kerusuhan anarkis timbul karena rasa lapar berkepanjangan. Akibat kemiskinan membelit, rasa lapar tidak dapat dipenuhi dengan makanan yang cukup. Apapun dilakukan asal bisa makan, termasuk mempekerjakan anak-anak di berbagai lampu merah agar mereka bisa mendapatkan recehan bahkan sekarang bisa lembaran 2-ribuan. Karena rasa lapar, seorang ibu hamil bisa menggadaikan bayi dalam kandungannya.  Dan akibat rasa lapar berkepanjangan anak-anakpun dinikahkan dibawah umur asal bisa mendapat mahar untuk menghidupi anak-anak yang lain.

Yang berpendidikan tinggi, laparnya sudah meningkat bukan sebatas perut lagi, tetapi sudah meningkat sampai lapar kekuasaan dan kehormatan. Demi tercapainya gelar tertinggi, plagiatpun dilakukan – bukan hanya terjadi di perguruan tinggi gurem tapi bahkan di PT  papan atas ! Korupsi termasuk penyakit masyarakat terparah, dari tingkat ktp dan SIM sampai urusan pajak yang milyaran dan triliunan di bank century.

Maka kalau hari ini kita diingatkan perlunya mengatasi rasa lapar dengan memilih makanan yang benar – apalagi makanan dari Sorga – tentunya rasa lapar itu pasti terobati. Bahkan dijamin kita tidak akan lapar lagi, karena kita sudah mendapatkan apa yang dicari dalam hidup sebenarnya. Jaminan keselamatan serta keamanan adalah pemuas rasa lapar dalam kehidupan setiap manusia di bumi.  Bukan materi, bukan kekuasaan. Itu semua hanya sementara sifatnya, hanya 70-80 tahun – tidak ada artinya dengan jaminan keselamatan yang tidak terbatas waktu. Read the rest of this entry »





Roti Kehidupan Abadi

16 08 2009

“Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

hosti“Ketika masih anak-anak dan tinggal di desa mau makan enak tidak ada, dan setelah dewasa seperti saat ini serta menjadi pastor cukup banyak makanan enak tersedia tetapi tidak boleh makan”, demikian komentar salah seorang rekan komunitas. Maklum rekan kami tersebut sesuai dengan hasil laboratorium rumah sakit berkolesterol tinggi alias terlalu memiliki lemak jahat cukup banyak di dalam darahnya. Maka demi  masa depan alias hidup lebih panjang yang bersangkutan harus bermatiraga dalam hal makanan dan minuman. Makanan-makanan yang enak pada masa kini memang pada umum berlemak dan tentu saja kurang sehat atau baik bagi mereka yang berkolesterol tinggi. Cukup banyak orang kiranya mendambakan berusia panjang alias jangan segera mati atau dipanggil Tuhan, maka untuk itu mereka dengan berbagai upaya dan usaha berusaha agar dirinya tetap sehat wal’afiat, segar-bugar alias tidak mudah jatuh sakit, agar diperkenankan hidup di dunia ini lebih lama. Jika orang berhasil dalam mengusahakan hidup yang baik, sehat dan segar-bugar di dunia ini kiranya yang bersangkutan untuk mendambakan atau berharap kelak ketika dipanggil Tuhan alias setelah meninggal dunia akan hidup selama-lamannya, mulia di sorga bersama Tuhan. Read the rest of this entry »





Sang Roti Kehidupan

29 04 2009

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi”

Pagi ini saya membaca koran Kompas, ada berita Uskup Paraguay yang menjadi Presiden di negara tersebut membuat pernyataan dihadapan publiknya bahwa dia mengakui telah mempunyai anak yang beusia 2 tahun dari seorang perempuan bernama Viviana Carillo berusia 26 Tahun.

Rasanya ingin tidak percaya, tetapi semua surat kabar sangat kredibel menulis berita demikian adanya, begitu banyak yang kecewa, bahkan menurut kabar burung ada yang bunuh diri, karena sosok Fernando Lugo yang demikian mempersona, Uskup bagi kaum miskin atau “option for the poor” – tiba-tiba menjadi sosok yang begitu mengecewakan.

Saya membayangkan, seandainya ada Uskup di Indonesia yang juga seperti Fernando Lugo (maskudnya tiba-tiba punya anak), alangkah malu, heboh dan repotnya kita menghadapi ini, tetapi disisi lain Uskup juga manusia yang tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Maka dari itu sejak awal Yesus sudah mengatakan dengan tegas, sebagai Roti Hidup, Jalan Kebenaran, Empunya Kerajaan Sorga, Allah yang kita percaya, tentu tujuannya agar kita tidak kecewa dengan sosok pemimpin Gereja yang seperti ini. Read the rest of this entry »





Tidak Lapar dan Tidak Haus Lagi

28 04 2009

“Barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya kepadaKu ia tidak akan haus lagi”

Kalau mengacu pada teori motivasinya Maslow, manusia mengalami berbagai tingkatan motivasi berdasarkan kebutuhannya. Tingkat terendah adalah pemenuhan kebutuhan fisik seperti pangan, papan dan sandang. Lalu naik pada kebutuhan akan keamanan seperti takut bangkrut, PHK, keamanan lingkungan dan jaminan kesehatan. Ada lagi kebutuhan akan dicintai, diterima dalam komunitas dan pertemanan secara sosial…. gak heran kalau bahasa Indonesia menempati urutan kedua terbanyak digunakan di FB (Facebook) ! Kayaknya semua orang harus tahu apa yang saya lakukan 😀 Tingkat berikutnya adalah kebutuhan akan penghargaan yang kadang sulit dimengerti orang lain. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan self esteem bisa berakibat fatal seperti banyaknya kasus bunuh diri di Jepang;  kalau di Indonesia ratusan caleg stres berat menghadapi kegagalan peraihan suara. Tingkat kehausan dan kelaparan manusia tertinggi menurut Maslow adalah kehausan akan pemenuhan atas keadilan, kebenaran serta kebijaksanaan setara apa yang sedang diperjuangkan para korban Tragedi Semanggi,  meninggalnya David Hartanto bahkan kasus para TKI/TKW dan  kasus Manohara serta ribuan perempuan korban KDRT.  Tidak banyak orang bisa mencapai tingkat kepuasan ini karena memang dibutuhkan perjuangan yang lama dan mahal harganya.

Tantangan kita sebagai murid Kristus adalah mengenali berbagai tingkat kelaparan dan kehausan ini, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi diri orang-orang lain. Kegagalan mengenali kebutuhan diri membuat kita terobsesi pada hal-hal yang menipu diri dan berujung kekecewaan dan frustasi berkepanjangan, ujungnya bisa meninggalkan iman dan tidak lagi percaya pada Tuhan. Betulkah kita menginginkan suatu posisi karena kebutuhan finansial atau karena tidak mau kalah dengan kawan sekantor atau karena gengsi? Demikian pula bila kita alpa mengenali kebutuhan orang lain, memberikan ribuan kata-kata yang menghibur dan meneduhkan padahal yang dibutuhkan adalah pekerjaan yang menghasilkan uang bagi seorang kepala keluarga agar harga dirinya tidak jatuh. Gak heran banyak karya sosial terkesan seperti proyek mercusuar karena tidak menyentuh pada kebutuhan hakiki para korban atau warga binaan. Read the rest of this entry »





Roti vs Batu, Ikan vs Ular

5 03 2009

“Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.”

Selama hampir 5 bulan sosialisasi di dapil sampai tadi malam, tidak jarang saya bertemu komunitas-komunitas yang menganggap caleg DPR RI adalah mesin ATM yang beredar. Gak pandang agama, gak pandang tokoh masyarakat, baik tua muda,  konstituen perempuan dan laki-laki memiliki paradigma serupa. Inilah kesempatan ‘meminta’ perhatian dari para caleg sekali dalam 5 tahun, apalagi ketemu caleg DPR RI yang paling jarang turun dan yang kebanyakan hanya TP Tebar Pesona lewat baliho dan stiker. Ada juga konstituen yang tidak perduli bahwa apa yang mereka minta, biasanya sekitar ASU : Aspal, Semen dan Uang, masuk dalam kategori money politic. Kemasannya bisa berbentuk proposal  pembangunan rumah ibadah, pembuatan seragam, sarana jalan dan fasilitas olahraga dsb. “Begitulah bu permintaan masyarakat, maka lebih baik saya utarakan terlebih dulu daripada panjenengan membuang waktu jauh-jauh kemari bertemu mereka”. “Ini penting untuk memperlihatkan bahwa panjenengan tidak sama dengan caleg lain yang cuma janji-janji saja dan seterusnya melupakan kami.” Inilah kalimat yang membuat saya  tidak bersemangat untuk meneruskan pertemuan seraya mempersilahkan mereka mencari caleg yang berani mengambil resiko dalam memenuhi keinginan konstituen.

Saya tidak mempersalahkan para konstituen ini, karena memang sejak puluhan tahun biasa ‘dimanjakan’ dengan money politic lewat berbagai pemilu dan pilkada. Tapi masalahnya saat ini berlaku UU  Nomor 10 Tahun 2008  pasal 274 tentang pemilu dengan ancaman  hukuman penjara  minimal selama enam bulan dan maksimal 24 bulan. Atau denda materiil minimal Rp 6 juta dan maksimal 24 juta. Read the rest of this entry »





Refleksi Natal 2008: Betlehem Rumah Roti (Mgr Pujasumarta Pr)

25 12 2008

Hari-hari ini mata semua orang tertuju ke suatu kota kecil di Tanah Palestina, kota yang dikenal dengan nama Betlehem. Saya ingat, Betlehem itu artinya rumah roti. ( Lh: http://id.wikipedia .org/wiki/ Betlehem). Di Betlehem itulah lahir Sang Juru Selamat, karena Ia menjadikan diri-Nya Roti Hidup bagi kita semua. Ia, yang menjadi Roti Hidup itu, kita rayakan kelahiran-Nya di Betlehem, rumah roti.

Mari kita juga membangun kesediaan untuk berbagi dengan menjadi roti hidup bagi sesama kita pula, terutama bagi mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Dari rumah roti itu tersimpan suatu gerakan kecil yang berdampak sangat luas, yaitu gerakan berbagi lima roti dan dua ikan.

GERAKAN BERBAGI LIMA ROTI DAN DUA IKAN

Dari Betlehem ke Seluruh Dunia

Dari Betlehem mulailah gerak perjalanan Sang Roti ke Tanah Mesir, suatu tanah keselamatan untuk keturunan Yakob pada masa kekurangan roti di Palestina. Ke Mesir itu pula Roti diamankan, agar tidak hancur sebelum matang. Setelah dipertimbangkan kondisi mendukung, Sang Roti lalu diboyong ke Nazareth. Dalam kesederhanaan hidup di Nazareth itu Ia tentu juga membantu ayahanda-Nya untuk bekerja setiap hari mengumpulkan kayu bakar untuk memanggang roti. Dan di dapur Ia menolong ibunda-Nya memanggang roti, rejeki sehari-hari. Ia tahu apa artinya membuat roti yang enak dimakan. Roti harus dipanggang sampai matang. Dan memang setelah matang, siaplah Sang Roti menempuh perjalanan yang panjang, berkeliling sekitar danau Tiberias. Di pantai danau Tiberias ada sebuah kota namanya Betsaida. Di Betsaida, rumah ikan itu, Sang Roti mengadakan mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan. Penggandaan itu ternyata tidak hanya terjadi tempo dulu, tetapi juga pada zaman kita sekarang ini.

Masih saya ingat dengan jelas cerita tentang Candra yang saya kemukakan pada waktu homili pada perayaan Ekaristi pembuka Kongres Ekaristi Keuskupan I (KEK I) Keuskupan Agung Semarang, 27 Juni 2008, di gereja Santo Yusup Ambarawa. Cerita itu saya undhuh dari email Br. Yoanes FC yang menuturkan, bahwa Candra tidak boleh mengikuti ujian karena belum membayar uang sekolah.

BERKAT MULTIPLY Read the rest of this entry »