Roti Kehidupan Yang Mengenyangkan

19 08 2012

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga

Sering saya bertanya pada orang muda, untuk apa kalian bekerja setelah lulus kuliah. Jawabannya kurang lebih sama, untuk dapat penghasilan. Lalu penghasilannya untuk apa? Untuk hidup, untuk bayar makan, kost, transport, pulsa, beli baju, nonton dsb. Ada juga yang jawab untuk menjajal kemampuan diri, untuk belajar lebih banyak… idealis ya? Pastinya dengan memasuki dunia kerja mereka belajar dunia kehidupan yang sebenarnya, yang menuntut mereka untuk mandiri. Tentu saja hidup yang sangat berbeda dari kampus. Dunia yang kejam dan kotor serta sering tidak adil bagi yang tidak memiliki uang.

Tapi ada yang menarik saat pertanyaan itu saya lemparkan pada seorang karyawati muda yang bekerja jauh dari kampungnya di Bandung. Ia bekerja di sebuah unit pelayanan keuangan non bank di luar kota Padang. Saya tanya kenapa senang bekerja disini ditempat yang jauh dari rumah dengan fasilitas terbatas sementara teman-temannya lulusan universitas ternama bekerja di bank asing mentereng di Jakarta? Jawabannya mencengankan saya, katanya ” Kalau dari fasilitas memang saya jauh sekali bila dibandingkan teman-teman yang bekerja di kota besar. Tetapi saya menyukai pekerjaan saya. Saya bisa membantu orang-orang yang hidupnya lebih sulit dari saya. Untuk saya uang Rp 50-100 ribu tidak cukup untuk pulsa sebulan. Tetapi uang sejumlah itu ternyata bisa menyambung hidup seorang janda untuk seminggu dengan anak-anaknya, malah bisa bayar uang sekolah yang tertunggak. Saya selalu dihadapkan pada tantangan bagaimana saya bisa mencari jalan keluar bagi orang-orang seperti ini disini.”
Advertisements




Semangkok Nasi Putih

10 02 2010

Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut. “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih.”

Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan : “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.” Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum : “Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : “kuah sayur gratis.” Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih. “Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.” Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini. “Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !” Read the rest of this entry »





Tema Sakti: Berbagi 5 Roti dan 2 Ikan

8 12 2008

Tema kongres Ekaristi KAS: Berbagi lima roti dan dua ikan, memang bisa disebut tema yang sakti. Begitu kena dan menyentuh kedalaman nurani banyak umat KAS. Terbukti jam terbangkan meyakinkan. Kasus anak yang ijazahnya nyaris tertahan di SMP Kanisius Gayam Yogyakarta bertepatan waktu menjelang KEK ternyata bisa terbang lagi. Saat itu roti dan ikannya belum mewujud begitu tapi berupa kepenuhan harapan bersekolah. Juga tentunya banyak pengalaman jam terbang tema sakti itu yang belum tersharingkan dari rekan-rekan sekalian, baru sebagian. Ada gerakan ini itu yang tergerakkan oleh tema sakti: Berbagi 5 roti dan 2 ikan.

Ini satu lagi catatan jam terbang tema sakti kita. Minggu lalu, saya ketahui ada keluarga miskin yang anaknya 4 orang. Keluarga ini tak punya rumah, tak bisa kontrak / sewa rumah sampai ditolong seorang kaya untuk tinggal di show room miliknya, sekalian jadi penjaga gratis tanpa dibayar karena sudah diberi tumpangan. Sudah diusahakan agar anak-anak bisa sekolah, tetap aja kesulitan karena bisa sekolah kalau nggak bisa makan ya lemes. Dalam proses waktu akhirnya 3 dari 4 anaknya sudah bisa ditolong keluarga lain (ini tema itu, tapi terus terang mereka yang menolong itu bukan keluarga katolik, jadi tema sakti sudah bisa menembus batas-batas yang ada). Tentunya untuk ditolong bisa diberi SEPOTONG ROTI DAN IKAN, sementara biaya sekolah fihak lain lagi yang bantu, untunglah yang ini masih warga katolik. Tema itu boleh jadi begitu sakti sampai bernuansa ekonomis dan lintas suku dan agama.

Seminggu yang lalu, keluarga miskin itu, yang sehari-hari bapaknya bekerja mencari nafkah dengan sepeda tuanya, dan meski sudah ngenjot sepeda kesana kemari, hasil yang diperoleh tidak juga mencukupi. Sampai hanya untuk hidup diri bapak itu, isterinya dan seorang anaknya yang masih tinggal dengannya, tidak cukup juga. Kadang mereka masih makan satu kali saja sehari. Komporpun sudah ikut dimakan, alias dijual dan dibelikan makanan. Nah, singkatnya, bapak itu sakit seminggu lalu. Read the rest of this entry »