Doakan Saya Ya

20 08 2012
“Kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

Rasanya pernyataan  di atas (Doakan saya ya)  sering terdengar bila kita bertemu kerabat, teman dan keluarga yang sedang mempersiapkan suatu tugas besar. Entah akan test masuk sekolah, interview untuk mendapatkan pekerjaan, promosi, mau menikah ataupun mantu, bahkan mereka yang menunaikan ibadahnya ke tanah suci. Disatu sisi ada yang melihatnya sebagai suatu ‘pengumuman’ tapi disisi lain juga menunjukkan adanya kekhawatiran dan juga keinginan untuk berbagi kekhawatiran itu bersama. Dengan mengajak orang lain mendoakan kita, rasanya beban yang ditanggung itu menjadi lebih ringan. Seolah-olah kita mau  rame-rame menggoyang Surga untuk mendoakan kita getu lhooo..

Saat mengucapkannya terasa enteng saja, tapi apakah kita betul-betul ‘sudah’ didoakan oleh orang yang kita minta itu, dan juga apakah kita memberi tahu ‘hasil doa’ ujub kita tersebut dikemudian hari? Walhasil ungkapan diatas menjadi klise, menjadi sekedar basa-basi bunga percakapan karena saking seringnya diucapkan tanpa tindak lanjut. Supaya tidak menjadi klise, dan juga supaya kita tidak lupa memegang janji, lebih baik saat itu juga kita tawarkan untuk berdoa bersama walaupun berbeda iman. Why not? Tidak ada salah nya kan berdoa bersama 1-2 menit, bukankah mereka yang minta kita mendoakan mereka? Rasanya juga tidak pernah ada yang menolak didoakan untuk mendapatkan hal yang baik. Read the rest of this entry »

Advertisements




Untungnya Mengenal Allah (Stefan Leks)

18 05 2010

“Aku berdoa untuk mereka”

Doa meriah
Wejangan perpisahan Yesus dengan murid-murid-Nya ditutup dengan sebuah doa meriah. Walaupun doa ini bukan sebuah rekaman langsung, namun isinya menjadi bahan perenungan para ahli dan pencinta sabda Tuhan sepanjang masa. Mereka memandangnya sebagai sejenis doa konsekrasi atau penyerahan/pengudusan: Yesus menyerahkan kepada Bapa-Nya seluruh karya yang sudah diselesaikan-Nya, sambil mohon supaya karya itu dikuduskan dalam arti menghasilkan buah sebagaimana diharapkan oleh Bapa.

Namun perlu disadari bahwa ini bukan doa biasa! Yesus bicara kepada Bapa-Nya… sambil berbicara kepada murid-murid-Nya. Melalui doa ini Ia menyatakan kepada mereka rencana serta pelaksanaan karya penyelamatan Bapa-Nya itu.

Bapa!
“Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau” (ay 1). Sama seperti di Taman Getsemani nanti, Yesus menyapa Bapa dengan penuh penyerahan diri. Ia tahu bahwa saat-Nya (=wafat dan kebangkitan-Nya) semakin dekat. Begitu saat itu tiba, begitu pula kemuliaan Yesus akan terwujud. Sebab apa saja yang selama ini dilakukan oleh Yesus, dilakukan-Nya demi kemuliaan Bapa, demi menyatakan Bapa. Kemuliaan Bapa tampak dalam kemuliaan Yesus.

Selanjutnya Yesus mulai bicara tentang hidup kekal. Mengapa selama ini Yesus begitu giat berkarya? Sebab Ia mau menyatakan Bapa! Begitu pentingkah hal itu? Sangat, sebab hanya dengan mengenal Bapa, manusia dapat memperoleh hidup kekal.

Dari mana manusia dapat hidup kekal itu? Dari Yesus sendiri! Adakah orang yang sudah diberi hidup kekal itu oleh Yesus? Ya, murid-murid-Nya! Read the rest of this entry »