Rahasia Tersembunyi Bagi Orang Rendah Hati – Belajar Dari CU Atambua

29 04 2013
 “Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”
CU AtambuaHari ini hari kerja pertama saya setelah kembali dari cuti selama seminggu. Satu minggu meninggalkan kantor, tanpa membawa laptop kantor, tanpa buka email kantor bahkan tidak menerima telpon dari kantor itu ternyata bisa membuat pikiran tenang. Badan memang lelah tetapi pikiran bisa terang lantaran ganti suasana. Pada awalnya saya tidak menyangka bahwa perjalanan saya ke ujung timur Indonesia bahkan sampai ke perbatasan Timor Leste ini hanya sekedar pemenuhan janji atas komitmen yang saya buat bagi seorang kawan yang kebetulan romo. Eh memang sejak saya mengenal romo Yance Laka juga sudah jadi romo hehehe… Tetapi ternyata menjadi suatu pencerahan bagi saya, ada rahasia tersembunyi dibalik pelayanan ini.
Sejak tahun lalu romo Yance menghubungi saya untuk meminta waktu saya agar datang ke Atambua memberikan pembekalan bagi aktivis CU (Credit Union) disana. Romo Yance mengenal saya melalui FB (jiaaah…) dan sering melihat aktivitas saya dari status saya. Beberapa tahun kemudian tanpa sengaja kami bertemu di SAGKI 2010 di wisma Kinasih. Saya mewakili Keuskupan Agung Jakarta dan Romo yance mewakili Keuskupan Atambua. Jadilah kita berbincang seru tentang berbagai hal termasuk tentang pemberdayaan masyarakat. Romo Yance yang asli Atambua, sempat membentuk komunitas tukang ojek agar mereka bisa bangkit memperbaiki kehidupannya. Read the rest of this entry »




CU dan Perutusanku (Ant. Sumarwan SJ)

8 05 2008

( Kata Sambutan Romo Sumarwan pada pembukaan sosialisasi CUBG di paroki Blok Q 4 Mei 2008 )

Saudara-saudari yang terkasih, bahwa pada hari ini saya berdiri di hadapan Anda semua, untuk berbicara tentang Credit Union merupakan suatu kejutan tersendiri bagi saya. Saya tak pernah membayangkan diri akan menjadi seorang promotor CU yang fanatik seperti sekarang..

Saya sudah mengenal Credit Union sejak 90-an. Waktu itu bruder-bruder Budi Mulia merintis pendirian CU di desa saya Tengklik, Kedawung Jumapolo.. Setelah sekian tahun berdiri, pada 2006 CU bernama Ngudi Raharja itu beranggotakan 1.397 orang dengan asset Rp 1,1 milyar lebih. Data ini saya peroleh ketika saya mempersiapkan tahbisan imam tahun lalu. Saya heran juga, desa sederhana seperti tempat saya dapat mengumpulkan dana sebesar itu. Sejak itu saya yakin bahwa CU merupakan sarana tepat bagi rakyat miskin untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraan. Ada keinginan pada diri saya untuk meneliti dan tahu lebih banyak tentang kiprah CU ini. Sayang, saya tak punya banyak kesempatan pulang ke desa. Ketika saya berangkat tugas di paroki Blok Q ini, keinginan itu belum kesampaian.

Dan inilah yang saya katakan sebagai kejutan. Di Paroki Blok Q ini Tuhan menjawab keinginan saya. Saya tidak hanya boleh tahu dan meneliti CU, tetapi dipanggil Tuhan untuk ikut mengembangkannya. Read the rest of this entry »





Sosialisasi CU Bererod Gratia di Paroki Blok Q

8 05 2008

Setelah disiapkan selama tiga minggu berturut-turut dengan membagikan flyer serta tulisan tentang Credit Union dan kesaksian anggota CU, akhirnya pada hari Minggu, 4 Mei 2008, di Gedung Loe Soekoto Paroki SP Maria Ratu Blok Q, dilangsungkan sosialisasi Credit Union Bererod Gratia (CUBG). Sosialiasi ini merupakan Aksi Nyata Paskah 2008 yang hendak menawarkan jalan kepada umat untuk meningkatkan kesejateraan dan solidaritas. Sekitar 130 orang dari Paroki Blok Q dan paroki tetangga hadir dalam sosialisasi ini. Empatpuluh orang di antara sudah menjadi anggota CUBG di Blok Q pada awal 2007. Bapak Purwanto dan Harjono (Pengurus CUBG) dan Christine Tandibua (Manajer CUBG) hadir sebagai pembicara.

Dalam sambutan awal, Romo Sumarwan, SJ menempatkan gerak Credit Union dalam kerangka penghayatan iman. “Ketika membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, Allah menjanjikan tanah yang berlimpah susu dan madu!” demikian Romo Sumarwan menegaskan bahwa Allah menghendaki umat-Nya sejahtera. Ditambahkannya pula bahwa “Allah menghendaki umat-Nya, khususnya umat yang miskin, mempunyai hidup yang penuh dan melimpah.” (Yoh 10:10) “Credit Union adalah salah satu usaha kita, bersama-sama dengan Allah, untuk mengubah nasib, mengupayakan agar kehendak Allah terlaksana,” tandasnya.

Dengan tetap mengakui bahwa CU hanyalah satu cara di antara banyak usaha untuk membantu warga miskin meningkatkan kesejahteraan, Romo Sumarwan menampilkan sumbangan besar CU bagi peningkatan ekonomi kerakyatan. Dipaparkannya bahwa hingga akhir 2007 di Kalimantan telah berdiri lebih dari 40 CU dengan total anggota lebih dari 400 ribu orang. Angka ini hampir setara dengan keseluruhan umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta yang berjumlah 447 ribu orang (data 2004). Read the rest of this entry »





Muhammad Yunus dan Bank untuk orang Miskin (Ant. Sumarwan SJ)

3 05 2008

Bank yang tersebar di negeri banjir itu bernama Grameen. Nasabah yang disasar adalah kaum miskin dan papa Bangladesh. Dalam Bank ini semua orang miskin, juga para pengemis, dapat memperoleh kredit tanpa agunan. Muhammad Yunus, pendiri Bank Grameen, percaya bahwa jika diberi modal, jutaan orang miskin dapat menciptakan keajaiban dengan usaha kecil mereka.

Hingga akhir 2006, Bank Grameen telah mengucurkan kredit kepada hampir 7 juta peminjam di 73.000 desa. Para peminjamnya kebanyakan perempuan. Mereka memakai kredit untuk memulai usaha kecil, membangun rumah dan membiayai sekolah. Khusus untuk para pengemis, Bank Grameen menyediakan kredit tanpa bunga. Peminjam boleh membayar kapan pun dengan jumlah berapa pun. Mereka diberi ide agar membawa barang seperti makanan, mainan dan kebutuhan rumah tangga saat mereka meminta-minta dari rumah ke rumah. Lebih dari 85.000 pengemis ikut program ini. Pinjaman untuk mereka biasanya sekitar Rp 120.000.

Berkat Bank Grameen, separo lebih nasabah telah melewati garis kemiskinan dan 5.000 pengemis berhenti meminta-minta. Yakin bahwa kemiskinan adalah acaman perdamaian, Panitia Nobel 2006 menganugerahkan penghargaan Nobel Perdamaian kepada Muhammad Yunus dan Bank Grammen. “Perdamaian,” kata Yunus, “terancam oleh tatanan ekonomi, sosial dan politik yang tidak adil, tiadanya demokrasi, kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak-hak asasi manusia.”

Dengan memberikan kredit kepada kaum papa, Yunus melawan kemiskinan sebagai langkah awal untuk perdamaian. Bagaimana gagasan kredit tanpa agunan ini muncul? Read the rest of this entry »





Kesaksian Anggota CUBG

3 05 2008

(Berikut adalah kesaksian beberapa Anggota Credit Union Bererod Gratia yang berdomisili di paroki Santa Perawan Maria Ratu. Semoga semangat kepedulian bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat bisa diikuti paroki lainnya. AMDG-RA)

Paulus Ledjap
CUBG: solusi dalam ketidakberdayaan

Masih terbayang dalam ingatan Paulus ketika banjir besar meluluh lantakkan rumahnya di awal tahun 2007. Ia tidak tahu bagaimana merenovasi rumah dan membeli peralatan rumah tangga yang hanyut terbawa banjir. Pinjaman dari kantor tak berhasil ia dapatkan. Dalam keputusasaannya, ia teringat CUBG. Mengapa tidak meminjam saja dari CUBG? Bukankah ia anggota CUBG?
Ia pun ke kantor pusat CUBG dan menceritakan masalah yang ia hadapi. Pengurus CUBG memberi tahu bahwa untuk mendapatkan kredit, ia harus melunaskan dulu simpanan wajibnya. Maka ia pun meminjam dari seseorang untuk menutup simpanan wajib sebesar Rp 2.325.000,-. Karena situasi yang ia hadapi tergolong darurat, ia berhasil mendapatkan kredit sebesar 3x simpanan, tak lama setelah ia melunasi simpanan wajibnya. Total pinjaman yang ia terima sebesar Rp 6.600.000,-. Dana itu digunakan untuk mengembalikan pinjaman dan merenovasi rumah. Masih ada sisa, ia gunakan sebagai uang pangkal anaknya yang masuk SMP Tarakanita. Read the rest of this entry »





Mau Maju: Kredit lah ya (Ant. Sumarwan SJ)

3 05 2008

(Diambil dari Berita Sepekan Paroki Santa Perawan Maria Ratu edisi 4 Mei 2008 )

Kredit, dalam kenyataannya, memainkan peran ekonomi, politik, dan sosial yang amat menentukan. Kredit adalah senjata yang ampuh. Siapa pun memiliki senjata ini dapat lebih baik dalam menyiasati keterbatasan keuangan. Lewat kredit yang tepat mengantar orang memasuki jalur menuju sejahtera.

Sulit membayangkan bagaimana keadaan ekonomi keluarga kakak saya, apabila orangtua saya tidak memperoleh kredit. Ketika kakak saya lulus dari STM Mikael, Solo, orangtua saya melihat Akademi Tehnik Mesin Industri (ATMI) sebagai salah satu gerbang untuk meningkatkan taraf hidup. Setelah kakak dinyatakan diterima (1992), orangtua saya mesti menyediakan Rp 3,5 juta sebagai biaya masuk dan ongkos praktik selama 3 tahun. (Biaya masuk ATMI sekarang k.l.

Rp 25 juta). Gaji ayah sebagai seorang tentara waktu itu sekitar Rp 150.000 per bulan. Ibu berdagang kecil-kecilan. Untunglah, waktu itu mereka memperoleh pinjaman dari BRI. Saat ini kakak saya belum kaya, tapi setidaknya taraf ekonominya sudah lebih tinggi dari orangtua saya. Hal ini bisa terjadi, karena orangtua saya memperoleh kredit dari bank.

Masalahnya, tidak semua orang dapat memperoleh kredit dari bank. Pelayanan perbankan tidak menjangkau orang miskin. Karena tidak memiliki agunan, orang miskin tak dipercaya untuk mendapatkan kredit. Inilah lingkaran setan kemiskinan itu. Untuk terbebas dari kemiskinan, orang miskin perlu kredit. Tapi karena miskin, orang miskin tak dipercaya untuk menerima kredit. Read the rest of this entry »





Credit Union : Pilih Kaya Atau Miskin ? (Ant. Sumarwan SJ)

3 05 2008

(Diambil dari Berita Sepekan Paroki Santa Perawan Maria Ratu Edisi 26 April 2008 )

Kalau Anda diminta memilih “menjadi kaya atau menjadi miskin”, Anda pilih mana? Ketika ditanyai pilih “kaya atau miskin”, 95% manusia di muka bumi memilih kaya. Tapi anehnya, 95% orang yang memilih kaya tadi “jatuh miskin” seumur hidup. Sebaliknya, hanya 5% orang di muka bumi ini yang kaya?

Mengapa? Mari kita perhatikan cara orang mengelola uang.

CARA 1: Ngutang dulu à Dapat duit à Bayar hutang à Belanja à Hutang lagi.

Orang yang mengelola uang dengan Cara 1 disebut Kelompok Melarat, “gali lobang tutup lobang.” Hidupnya akan susah terus seumur hidup. Mereka tak punya tujuan hidup jelas. Seringkali hutang-hutang tak mampu dibayar. Di sana sini ia meninggalkan hutang. Banyak orang tak lagi percaya dengan orang ini. Ia dicap penipu dan pembohong.

CARA 2: Dapat Duit à Belanja habis

Orang yang mengelola uang dengan cara ini disebut Kelompok Miskin, “dapat sehari, hidup sehari.” Hidup orang ini akan selalu jalan di tempat. Tidak punya tujuan yang jelas. Bahkan, sewaktu-waktu ia dapat jatuh melarat. Ia tak siap menghadapi goncangan hidup, seperti sakit, bencana alam, menyekolahkan anak, dll. Read the rest of this entry »