Mangan Ora Mangan Ngumpul

13 08 2008

“Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu,di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Pepatah jawa yang satu ini rasanya berlaku universal, paling tidak di berbagai suku di Indonesia, sifat kekerabatan dan kekeluargaan masih dijunjung tinggi. Mungkin pepatah itu dibuat di jaman susah dimana tidak selalu ada makanan yang bisa disajikan saat ada kumpul-kumpul. Tapi kenyataannya dimana-mana, suku apapun, kalau kita mau ketemuan, mau rembugan, pasti ada saja yang disajikan biarpun cuma sepiring singkong rebus dan segelas kopi. Kalau di Jakarta, gak ada Starbuck, warteg pun jadi. Yang penting ada suasana gembira, suasana kebersamaan, senang bertemu satu sama lain dan dengan harapan setelah pertemuan ada kata sepakat yang melegakan banyak pihak. Musyawarah untuk mufakat.

Justru di jaman Yesus hidup, Ia menggunakan diplomasi meja makan dengan orang-orang yang berdosa. Ia menyapa mereka terlebih dulu dengan mau datang makan bersama mereka dirumahnya. Ia melanggar hal yang tabu bagi seorang guru yang posisinya terhormat. Dalam suasana kebersamaan, kekeluargaan di meja makan, seseorang merasa diterima satu sama lain. Tidak merasa tersisih, dan tidak takut lagi seperti Zakeus yang berdosa untuk mengakui kesalahannya dan berjanji memperbaikinya.

Injil hari ini mengingatkan bahwa kalau dua-tiga orang berkumpul dan semuanya berkeinginan baik, merancang yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi orang lain, itu adalah sama dengan menghadirkan Allah juga bagi satu sama lain. Segala yang baik pun datangnya dari Allah, maka kalau setelah berembug dan yakin bahwa yang kita minta itu baik, lalu kita sepakat untuk memintanya pada Allah, pasti apa yang diinginkan bisa terjadi, tentu dengan disertai komitmen mereka yang telah sepakat tadi. Read the rest of this entry »

Advertisements




Gw kan tau elu dulunya

1 08 2008

“Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.”

Selasa kemarin saya datang ke pertemuan reuni akbar IKA UNPAR dan weekend ini juga ada temu kangen alumni IPA Tere. Wah kalau udah reuni bernostalgia deh … serasa lupa anak dan pasangan. Maka biasanya yang datang pasti tidak bawa pasangan. Yang terjadi biasanya bongkar-bongkaran cerita lama, kisah yang lucu yang nyebelin keluar dari perbendaharaan memory. Ada kawan lama yang sekarang pada jadi boss besar, dulunya sempat lupa sekolah bahkan nyaris DO. Komentar pun beragam :”Ternyata bisa juga lu ya, gw kan tau elu gimana dulunya.” Ada juga teman lain yang tidak percaya dan dengan menggoda minta bukti kartu nama si ‘boss’. Justru karena temen deket sedari muda, enak saja lah mengalir itu semua kata-kata banyolan yang membuat kuping merah. Maklum semua yang datang adalah teman-teman dijaman sama-sama susah kan? Sementara kalau dikantor ‘boss’ ini pastinya amat dihormati karyawannya, karena mereka tidak tahu latar belakang kehidupannya. Mereka hanya melihat statusnya saat ini sebagai atasan mereka.

Kita sering mengaitkan kejadian masa lalu yang kondisinya tidak ideal menjadi jaminan bahwa nantinya pasti berantakan. Kita sering lupa bahwa sesuatu bisa berubah karena ada kerja keras, ada impian dan ada rahmat Allah yang menyertai setiap orang yang berharap akan perubahan menuju perbaikan kualitas hidup. Tinggal kita mau memilih menerima atau menolak kesempatan mendapatkan rahmat penyelenggaraan Ilahi.

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa manusia cenderung mengingat segala sesuatu yang negatif yang buruk dari masa lalu bahkan juga terhadap orang lain. Read the rest of this entry »





Email dari Rm Mardi Santosa SJ di Nabire

30 07 2008

Saya sertakan email dari romo Mardi yang bertugas sebagai guru matematika ini agar kita bisa membayangkan kesulitan yang dihadapi dunia pendidikan di ujung timur negri ini. Orang miskin disana terpaksa membayar lebih mahal untuk mendapatkan buku paket dibandingkan kita yang hidup dipulau Jawa. Kualitas SDM yang sangat rendah pun menyulitkan mereka keluar dari kemiskinan. Kemiskinan memang bisa terjadi akibat struktural seperti minimnya prasarana. Jangan salahkan pemerintah saja untuk menjadikannya sempurna dalam 5 tahun tapi mari kita lakukan yang terbaik semampu kita bagi negri ini. Walaupun rasanya seperti menggarami lautan, tapi untuk satu dua anak di pedalaman tindakan kita menjadi berarti bagi mereka. (RA)

Mbak Ratna kinasih,

menyambung email kemarin berkenaan dengan buku pelajaran dan khususnya LKS. Jika memang bisa diusahakan di Jawa saya kira juga lebih baik, karena harga di jawa jauh lebih murah. Setelah saya muter-muter, saya dapatkan informasi bahwa di nabire ini harga sebuah LKS matematika untuk kelas 1 bisa mencapai 10 rb/buku (beli minimal 100 buku). Padahal dalam setahun seorang anak butuh 2 buah buku. Jika di Jawa harga eceran paling tinggi 7 rb rupiah. Kenapa bisa demikian? Ya karena transportasi dari jawa ke papua ini memang amat mahal. Lha sekarang mangga saja panjenengan mau bantu saya dan anak-anak untuk mengirim LKS matematika kelas 1 dalam bentuk buku atau mengirim dana dan saya belikan di sini, he…. Jika dalam bentuk uang ya tinggal dikalikan saja: 200 X Rp. 10 rb. Oh ya jangan lupa tolong carikan bahan pembelajaran multimedia karena kami baru dibelikan komputer sehingga anak-anakbisa belajar sendiri. Disini mana ada yang begituan?

Kemarin saya mengadakan tes penjajagan anak-anak kelas 1 SMA yang baru masuk dengan materi matematika kelas 6 SD. Dari 30 buah soal, rata-rata seorang siswa bisa menjawab benar hanya 8 soal, alamakkkkkk …..Kepada mereka saya berikan 30 buah materi soal matematika (soal-soal saya ambil dari contoh-contoh yang tertulis dalam buku paket), dan dari test itu saya dapatkan data sbb … baca selengkapnya disini.





Wanted: Men for Others

8 07 2008

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Beberapa hari lalu saat saya sedang berada di Pengadilan Negri Jakarta Selatan, ada demo beberapa LSM yang memperkarakan para konglomerat yang terlibat dalam penggelapan pajak, pembalakan hutan bahkan mengemplang dana BLBI. Penggelapan pajak nya saja diperkirakan sebesar Rp1,3 triliun yang cukup untuk membangun 2,600 gedung puskesmas. Kok bisa? Rupanya modusnya adalah dengan membuat pengeluaran fiktif dengan transfer pricing yang dilakukan kepada perusahaan fiktif di luar negri. Dijualnya murces abiz lalu perusahaan fiktif itu menjualnya kembali dengan harga pasar. Duh! Dengan demikian so pasti perusahaan begini akan terus menerus rugi dan lolos dari beban pajak. Ck ck ck…

Begitu banyak cara-cara digunakan untuk memperkaya diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Sedemikian hebatnya sehingga sudah putus rasa iba-nya, rasa kemanusiaannya; apapun menjadi halal. Sementara disisi lain jumlah orang miskin terus bertambah, apalagi dengan naiknya harga BBM. Inipun akan terus naik karena harga minyak dunia masih terus naik. Maka makin lelah lah orang miskin mengikuti segala biaya hidup yang semakin meningkat. Dimanakah rasa keadilan? Padahal dengan adanya pemasukan negara dari pajak akan banyak sarana serta fasilitas pelayanan pendidikan dan kesehatan (seharusnya) bisa dibangun. Read the rest of this entry »





Why Me, Lord?

6 07 2008

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?” Ashe menjawab, “Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’ Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?'”

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Ashe, seperti juga kisah Ayub dalam Alktab, tidak demikian. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat

*KETIKA MENERIMA SESUATU YANG BURUK, INGATLAH SAAT-SAAT KETIKA KITA MENERIMA YANG BAIK*

Tentang Arthur Ashe yang lain.





Papaya Mangga Pisang Jambu

25 06 2008

Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.”

Papaya, mangga, pisang, jambu…. Dibawa dari Pasar Minggu.. Disana banyak penjualnya, dikota banyak pembelinya.

Ini lagu jadul banget, lagu anak-anak jaman tahun 60an. Tapi sekarang kalau kita pergi ke supermarket buah papaya dan pisang sudah bukan dari Pasar Minggu lagi, sudah import dari luar negri semua. Pasar Minggu sudah jadi kampus dan mall. Mangga dan jambu pun berlabel, sudah dibudidayakan sehingga tidak kenal musim lagi. Berita baiknya buah lokal mulai di jual dalam kemasan cantik sehingga membawa nilai tambah. Berita buruknya buah import menggelontor pasar buah, konsumen harus membayar lebih bagi biaya packaging serta transportasi dan devisa yang terpotong karenanya. Petani buah tradisional tergilas oleh para kapitalis. Lebih baik tanah kebun dijual ke pengembang daripada pusing mengurus tanaman buah yang kena hama terus.

Kita juga mungkin maunya praktis membeli buah apa saja yang sudah terpajang cantik di depan mata. Apalagi kalau memberi bingkisan terdiri dari buah import kan kesannya ‘keren’ dan bergengsi. Tanpa sadar keputusan kita ini pelan tapi pasti mematikan para petani buah lokal. Kita mau yang instan dan gak mau pusing, gak mau sabar menunggu membaiknya budidaya tanaman lokal. Walhasil harga pun sulit naiknya. Sayangnya semua butuh kerja keras untuk mendapatkan hasil yang baik.

Semua membutuhkan kerja keras, untuk dapat buah yang baik maka pohon yang baik pun harus tetap dipelihara. Diberi pupuk, disiangi dan di pangkas bila perlu sehingga terus menerus berbuah tanpa mengenal musim. Diusahakan jangan kena hama tanaman. Bunga pun dijaga jangan sampai rontok. Read the rest of this entry »





Keluargaku sebagai Gereja (Jansi Kuntag)

13 06 2008

Keluarga adalah gereja kecil dan masyarakat kecil. Dalam keluarga sebenarnya kita bisa memulai segala sesuatu sebelum terjun kepada kelompok yang lebih besar. Ayah dan ibu yang berhasil menjadi orang tua yang baik, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang baik dan berhasil di kantor, di masyarakat pun dalam organisasi gereja.

Seperti sharing Bu Ratna, akan menjadi lucu ketika kita tampil menawan di luar tetapi kacau dalam rumah yang kecil itu. Rumah dan keluarga adalah tempat kita melatih diri dalam banyak aspek kehidupan. Anak-anak tidak bisa melihat kebaikan Tuhan yang nyatanya memang tak terlihat, jika Papa-Mama di rumah tidak menampakkan kebaikan. Bukankah sapaan kepada Bapa di surga adalah Bapa, Ayah? Dan Bunda Maria dengan Bunda, ibu? Bagaimana anak-anak bisa mengatakan Bapa di surga itu baik, jika mereka melihat bapa di rumah kerjanya marah melulu, pulang kantor baca koran, nonton TV, anak2 tak disapa. Bagaimana anak-anak bisa mengatakan Bunda Maria baik, lemat lembut, penyayang, sederhana jika ibunya di rumah dandan menor melulu dan keluar terus, tak ada waktu dengan anak2? Kapan anak2 di belai, dipeluk, disapa, diperhatikan jika ibu tak pernah di rumah?

Pernah ada jawaban seorang murid dalam test di sekolah dasar, dimana ada gambar wanita menggendong bayi. Ada pilihan jawaban, gambar ini adalah gambar ibu, ayah atau pembantu; Jawaban sang murid adalah pembantu. Itu pasti rekaman yang ia dapati di rumah. Bahwa sang anak lebih mendapat kasih sayang ‘mbak’ daripada ibunya sendiri. Read the rest of this entry »