Susahnya Memberi Bila Sudah Berkelebihan

11 11 2012

“Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya”

Sekretariat paroki paling sibuk kalau sudah masuk musim ‘kawin’ sejak bangunan gereja selesai direnovasi lengkap dengan AC.  Dalam menghadapi umat yang ingin menggunakan fasilitas gereja, terpaksa Dewan Paroki membuat beberapa panduan agar tidak terjadi kesimpangsiuran dan terutama agar aset gereja yang ada juga terpelihara. Maklum itu semua menggunakan uang umat dan harus dikembalikan bagi umat juga. Salah satunya adalah memprioritaskan penggunaannya bagi umat paroki terlebih dulu dibandingkan umat dari luar paroki. Nah yang lebih repot adalah menghadapi umat luar paroki. Lebih ribet lagi kalau yang diladeni adalah … maaf, orang kaya dan berpangkat. Waduuuh serasa koster dan semua orang itu adalah stafnya, semua harus ada dan siap melayani tuan dan nyonya. Belum lagi kalau misanya konselebrasi dengan menggunakan pastor-pastor seleb (istilah saya buat pastor yang dikenal banyak orang) atau malah mendatangkan beberapa Uskup dari luar KAJ. Selain itu peran WO Wedding Organizer umumnya susah diatur dan aroga, padahal mereka kurang mengenal tata ibadat liturgi.

Setelah semua acara selesai jarang sekali ada orang yang kembali dan mengucapkan terima kasih kepada para koster, putera altar dan para staf sekretariat yang pontang panting menyiapkan segalanya. Bisa dibandingkan kalau yang menggunakan fasilitas adalah umat kami sendiri yang umumnya dari kalangan yang bukan berada,  terkadang orang tua mempelai bahkan pengantinnya datang kembali mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan.  Bilamana diperlukan paroki dapat membantu menyediakan koor bagi  keluarga yang tidak mampu. Buku misa dibantu untuk dicetakkan, bahkan kalau perlu rias mantennya sisan lah, yang penting peristiwa sekali seumur hidup itu menjadi kenangan yang indah. Bukan kenangan penuh hutang untuk membayar sana sini hehehe…..Maklum sekarang pesta kawin juga bisa pakai KTA Kredit Tanpa Agunan.

Kejadian di atas sejalan dengan Injil hari ini, semakin kaya rasanya semakin sulit memberi; penuh dengan perhitungan. Saya keluar segini banyak lalu saya dapat apa? Semua dihitung dengan untung rugi. Bahkan untuk berterima kasih pun rasanya berat karena dianggap sudah layak dan sepantasnya. Apalagi bicara tentang perpuluhan seperti yang menjadi tradisi dan ajaran Taurat. Si janda tidak hanya memberikan sepersepuluh bagiannya tapi apa yang tersisa saja sudah tidak cukup untuk kehidupannya.

Bila upah sehari tukang Rp 50 ribu maka memberikan Rp 5,000 saja pasti berat. Lha wong yang Rp 50 ribu perhari saja gak cukup untuk makan 5 orang apalagi untuk bayar uang sekolah dan kontrakan. Bandingkan dengan karyawan yang gajinya Rp 10.000.00,- maka memberikan 10 % nya sebesar sejuta pasti masih membuat ia hidup dengan Rp 9 juta. Tentunya iapun berpikir sejuta itu bisa buat nyicil motor kan? jadi belum tentu juga ia berikan kepada Tuhan apalagi kalau ia merasa doa-doanya tidak dijawab… wkwkwk…

Maka jangankan bicara tentang orang Farisi yang belum pernah kita jumpai, bisa jadi kita sendiri bertindak seperti orang Farisi, masih hitung-hitungan kalau memberi bagi pekerjaan Tuhan. Kita masih mikir juga kalau mau menolong orang lain, kira-kira dia bisa mengembalikan apa gak ya? Memberi hanyalah soal hati, bukan soal untung rugi. Marilah kita mulai memberi kepada orang yang tidak bisa membalas budi baik kita, sehingga kita tidak mengharapkan apa-apa darinya kecuali rasa syukur bahwa kita bisa memberi dan membantu orang lain. Padahal Tuhan kita tidak pernah hitung-hitungan dengan manusia. Yesus Kristus telah melalui sengsara , wafat dan bangkit untuk semua orang baik kaya dan miskin. BerkatNya sama dicurahkan untuk semua orang, yang jahat sekalipun, yang atheis sekalipun.

Percayalah semakin sering memberi, semakin suka cita dihati . Semakin pelit dan penuh perhitungan, rasanya suka cita semakin jauh. Aneh ya? It happens to me too…

==========================================================================================
Bacaan Injil  Luk 21:1-4
“ Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: