Mengenal Arah Angin

15 04 2012

“Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Kalau sudah mendapat predikat ‘guru’, ‘pengajar’, ‘pemimpin’ maka ada suatu standar yang dituntut lebih tinggi dari yang lain. Tentu guru dan pengajar harusnya lebih pandai dari murid, pemimpin lebih bijaksana dari yang dia pimpin. Mana ada guru berenang yang tidak bisa berenang? Mana bisa kita mengajari orang lain naik sepeda kalau kita tidak bertahan merasakan jatuh bangunnya belajar naik sepeda terlebih dulu? Biar sakit, yatetap bangun dan bangkit lagi belajar lagi sampai lancar.

Hal ini menjadi tuntutan berat pada seorang ‘guru’ seperti Nikodemus, yang statusnya di kelas atas dalam masyarakat Yahudi. Pejabatpun tunduk pada para pengajar dan ahli Taurat, yang menentukan siapa bisa masuk surga dan tidak. Tapi rupanya jam terbang Nikodemus tidak berarti dihadapan Yesus. Pemahamannya tentang hal-hal ‘surgawi’ jauh dari apa yang dimaksud Yesus. Nikodemus masih berfikir ditingkat duniawi. Para guru ini tentunya berada di atas angin, jadi harusnya tahu apa yang sedang terjadi diatas ‘sana’. Mereka dianggap sudah lebih tinggi jam terbangnya, sehingga seharusnya bisa membimbing dan mengajari yang lain.Kita perlu memahami kemana suara Roh Allah yang dilambangkan seperti angin itu bertiup. Mereka yang bergerak mengikuti arah angin adalah mereka yang ‘peka’ akan tuntunan Tuhan. Mereka tahu kemana arah angin sebenarnya, sehingga akanselalu siap sedia mengikutinya. Tidak ada paksaan dan tidak ada penolakan.

Saya pribadi mengalami ‘lahir baru’ dalam arti dilahirkan kembali secara Roh, mengerti kembali arti cinta Yesus bagi saya pribadi, setelah melalui suatu perjalanan iman yang cukup panjang. Bahkan sampai sekarang pun masih perlu diperbaharui terus menerus, terutama saat menerima Sakramen Ekaristi dan Pertobatan.  Tetapi yang membutuhkan waktu paling lama adalah melatih diri untuk lebih peka akan suara Roh yang sangat halus, seperti angin berdesir. Kita tahu ada angin, kita rasakan angin bertiup, tapi perlu perhatian extra untuk mengamati  ke arah mana yang diinginkanNya kita bergerak agar kita tidak salah arah.

Semua itu membutuhkan latihan. Bukan hanya atlit yang membutuhkan latihan jasmani setiap hari agar bisa bertahan dalam lari maraton. Ada atau tidak ada pertandingan, sang atlit terus berlatih setiap hari. Apalagi kalau akan bertanding, pasti lebih intensif. Kitapun perlu melatih rohani kita setiap hari agar bisa kuat bertahan dalam perjuangan hidup. Ada atau tidak ada kesulitan, latihan rohani tetap dilakukan. Mirip seperti belajar berenang, ya pasti minum air. Belajar naik sepeda,pasti pernah jatuh. Practice make perfect.

Dengan tugas tambahan sebagai guru KEP/SEP, selain katekis dan prodiakon, saya harus semakin rajin melatih diri dalam kepekaan memahami arah mana saya harus melangkah. Paling tidak dengan merenungkan sabdaNya setiap hari, dengan melakukan refleksi setiap malam, dengan  mengikuti Sakramen yang telah tersedia; kita belajar mengenali kembali apa yang Tuhan mau dalam hidupkita hari ini. Sudahkah aku mengenali kehadiranNya lewat orang-orang yang menyapaku? Apakah aku merasakan desiran cintaNya? Sapaan kasih Nya? Kalau ya berarti roh kita telah diperbaharui – Born Again ! …. dan siap jadi guru bagi orang lain, siap mengajak orang lain menerima kasihNya. Kalau rohani kita tidak diperbarui, tidak mengalami dan merasakan dicintai Tuhan maka sulit bagi kita membawa orang lain mengalami cinta Tuhan.

=======================================================================================================

Bacaan Injil Yoh 3:1-8
“Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: