Puasa = Retreat

24 02 2012
“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa

Di saat saudara-saudara kita umat muslim berpuasa , tidak ada yang menyelenggarakan pesta pernikahan. Demikian pula pada masa adven dan prapaskah, ajaran Gereja Katolik meminta umat tidak menyelenggarakan Sakramen Penikahan.Walaupun kenyataannya masih ada saja pasangan yang menyelenggarakannya di masa adven/puasa. Pada akhirnya kembali kepada kebijakan pastoral karena umumnya para pastor menyarankan agar pesta resepsinya dirayakan setelah Paskah/Natal.  Kemungkinan besar para pengantin dan keluarganya ini kurang memahami apalagi menjalankan ‘puasa’ yang seharusnya. Yang penting gedungnya ‘available’ dan tanggalnya bagus, langsung ‘dibooking’.Saya sendiri menikah di gereja dan dirayakan pada saat 1 Sura, satu-satunya hari dimana gedung pernikahan banyak kosong karena ‘pamali’ bagi orang jawa. Ternyata aman sentosa dan tahun ini menginjak 25 tahun … weeeww……Aturan tradisi Yahudi mewajibkan puasa 2 kali seminggu pada hari-hari tertentu. Bisa jadi kebiasaan orang jawa puasa senin-kamis merupakan ‘turunan’ ajaran yahudi kuno ya. Ajaran tersebut masih dipegang dan diikuti oleh para murid Yohanes pembaptis, tapi tidak diikuti murid-murid Jesus.  Teguran para ahli Farisi pada Jesus pada bacaan hari ini menunjukkan bahwa tradisi itu harus dipegang teguh, jangan nyeleneh dari pakemnya. Sementara pada jaman itu pesta kawin tradisi Yahudi itu bisa memakan waktu berhari-hari sehingga bisa jatuh di hari-hari wajib puasa tadi. Maka biasanya keluaga pengantin dan para tamu dibebaskan juga untuk tidak berpuasa.

Maka teguran Jesus kali ini mengingatkan bahwa kita perlu menyediakan waktu untuk mundur (retreat) sejenak melihat kehidupan kita selama ini untuk bisa  kembali menata merajut masa depan yang penuh harapan. Dengan merefleksikannya di masa puasa atau saat retreat, kita perlu membuat tekad-tekad yang baru sebagai pengikut Kristus untuk mewujudkan harapan dan impian yang lebih baik. Komitmen untuk meninggalkan kebiasaan lama harus segera ditunjukkan. Untuk mendapatkan hal yang berbeda mencapai hasil yang lain, kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan baru dengan semangat yang baru.

Jangan kita terlena dengan pesta-pesta pora, kemabokan dan kenikmatan yang ada disekeliling kita sehingga kita lupa bahwa kita sebenarnya juga bersama Jesus disaat senang dan susah. Bukan hanya mencari Yesus saat susah, tapi juga mensyukuri ada penyertaan tangan Tuhan dalam segala sukacita dan damai sejahtera yang ada. Tidak ada gunanya menjadi pengikut Kristus, kalau kita tidak mau meninggalkan kebiasaan buruk dan tidak menunjukkan kebiasaan-kebiasaan baru. Lepaskan kebiasaan lama, gantilah dengan kebiasaan baru untuk bisa menerima rahmat dan karunia pemahaman yang senantiasa diperbarui Roh Kudus.

===========================================================================================================================
Bacaan Injil Mat 9:14-15

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: