Hidup itu Memilih vs Hidup itu Pilihan

10 02 2012

“Maria telah bagian yang memilih terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Hidup memang isinya hanya memilih dan memilih keputusan, dari bangun tidur sampai tidur lagi kita selalu membuat keputusan sebelum melakukan sesuatu. Tetapi karena terbiasa, kita seringkali tidak lagi berpikir apakah perlu atau tidak. Kita tidak berpikir lagi mana kaki yang dipakai untuk melangkah lebih dulu, menyisir rambut ke kiri atau kekanan, mau makan sendok di tangan kanan apa kiri. Halaaah….. bisa gila mikirin itu semua.

Walaupun demikian yang ‘sudah terbiasa’ sering pula tidak kita pikirkan apakah yang dilakukan tersebut memang ‘baik’? sudah benar? dan benar menurut ukuran siapa? Salah satu MLM mengajarkan bahwa suatu tindakan yang dilakukan setiap hari selama 90 hari akan menjadi kebiasaan. Aristoteles mengatakan kebiasaan-kebiasaan yang terus menerus dilakukan tanpa disadari akan membentuk karakter. Kalau terbiasa tidak jujur, maka dalam berbagai kesempatan seseorang akan selalu tidak jujur sehingga karakternya menjadi tidak jujur. Demikian pula bila seseorang terbiasa rajin melakukan sesuatu, maka lama kelamaan karakternya terbentuk menjadi rajin. Maka mengubah karakter seseorang perlu dimulai dengan mulai melatih kebiasaan-kebiasaan baru.

Mungkin diantara kita sering berkata “Saya bukan pemarah kok” tapi tanpa sadar karena terbiasa marah, maka dengan hal-hal remeh temeh pun bisa memunculkan kemarahan. Tanpa kita sadari terbentuklah karakter pemarah. Mari kita rekam kebiasaan-kebiasaan yang tidak kita sadari ini, sejauhmana orang lainpun juga merekamnya. Kalau kita tidak pernah mengambil waktu untuk melihat kembali pilihan-pilihan yang kita lakukan sebelum memutuskan suatu tindakan, jangan-jangan kita sendiri tidak mengenal diri kita.

Tanpa sadar pula kebiasaan-kebiasaan baru muncul akibat perubahan disekitar kita atau dengan sengaja kita mengubahnya. Lambat laun karakter kitapun terbentuk. Contoh: dulu tidak ada HP kita terbiasa menghafal nomor telpon rumah dan tanggal lahir orang-orang yang kita kasihi. Sekarang  berapa banyak nomor telpon rumah kerabat yang kita hafal? Semua sudah tersimpan di HP. Dulu tidak ada HP kita berupaya menghubungi seseorang lewat telpon rumah dan berinteraksi langsung. Ekspresi pun tampak disana. Sekarang ada email dan HP tinggal kirim pesan dan tinggal tunggu balasan (kalau ada) tanpa tahu ekspresi lawan bicara. Gara-gara HP pula kita yang terbiasa bercengkerama dengan orang-orang disekitar kita, berubah menjadi cuek dan tidak perduli. Coba lihat di foodcourt, banyak yang duduk berempat semeja tapi masing-masing sibuk dengan gadgetnya, tidak perduli teman didepan dan sampingnya.

Pernahkah kita mengambil waktu merenungkan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan setiap harinya? Adakah itu berguna bagi orang lain, atau justru menyakiti orang lain? Atau kita berkilah menjawab ah… orang lain juga begitu. Seperti itu pula yang dilakukan oleh para koruptor yang akhirnya berkolusi dan beramai-ramai melakukan korupsi. Mungkin kita bukan koruptor uang, tapi sudah masuk koruptor waktu dan koruptor perhatian serta koruptor kepedulian. Tidak peduli dengan kondisi sekitar, apalagi kondisi bangsa. Bukan urusan saya TTK HBS.

Injil hari ini mengingatkan kita, apakah dalam setiap kesempatan kita sudah memilih yang paling baik dan benar. Marta dan Maria walaupun bersaudara memiliki cara berpikir yang berbeda dalam mengambil keputusan. Menurut Marta pilihan Maria salah. Menurut Maria pilihan Martapun salah. Baik dan benar menurut ukuran siapa? Baik buatku atau baik buat orang lain? Benar menurut saya, benar seperti kata orang atau benar menurut ajaran Kristus? Apakah kebiasaan-kebiasaan kita telah memunculkan karakter Kristus dalam diri kita sehari-hari?

Memang tidak mudah memilih yang baik yang tidak akan diambil dari kehidupan kita. Memilih yang baik yang sifatnya kekal abadi membutuhkan permenungan yang dalam. Bukan hanya sekali-dua kali saat retret saja, tetapi perlu menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari sampai terjadi perubahan karakter menyerupai Kristus sendiri. Dengan demikian kita akan menyadari mana kebiasaan-kebiasaan yang harus segera kita tinggalkan dan memutuskan memulai kebiasaan baru yang sifatnya kekal dan menyelamatkan hidup kita dan orang-orang sekitar kita. Keputusan akhir memang ditangan kita sendiridan dengan sadar siap mempertanggungjawabkan setiap pilihan.

===========================================================================================
Luk 10:38-42
“ Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: