Belajar Setia? Belajarlah dari Anjing

9 02 2012
Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
Susah sekali belajar setia; setia saat semua baik-baik itu gampang. Tetapi setia saat keadaan tidak seperti yang diharapkan itu butuh perjuangan. Disinilah rahmat Allah diperlukan. Saya belajar setia justru dari Bozo, anjing kesayangan di rumah.
Sebenarnya saya tidak begitu suka memelihara anjing karena pada umumnya rumah jadi beraroma kurang sedap. Tetapi karena anak-anak memintanya, dan memang salah satu terapi menumbuhkan kepedulian dan tanggungjawab anak adalah dengan memelihara binatang, maka sayapun mengalah. Tentunya dengan catatan anak-anak harus menjaga kebersihan, baik memandikannya, memberi makan dan mengajarinya BAB/BAK termasuk ke dokter hewan. Akhirnya Bozopun terhitung sebagai anggota keluarga selama dua tahun ini. Ia bisa kapan saja masuk/keluar rumah dan kamar. Biasanya justru tidur di kursi sebelah tempat tidur si mas. Malah pernah saya menemukannya tidur diatas tempat tidur. Weleh…
Rupanya anjing inipun tahu kalau saya tidak begitu suka padanya, tidak seperti suami dan anak-anak yang selalu mengajak main dan mengurusinya. Saya jarang menyentuhnya atau bercakap-cakap dengannya. Maklum pulang paling akhir di rumah tentu memilih bercengkerama dengan anak sendiri…. masa iya dengan anjing duluan? Tapi rupanya Bozo pintar ambil hati saya. Ia tahu saya sering pulang malam, dan biasanya ia tidur di salah satu kamar anak saya. Selama ini ia tidak pernah berani masuk kamar saya. Tapi entah bagaimana ia sering menunggu saya membuka pintu kamar, dan masuk ke kamar mandi untuk minum air yang berada didalam ember. Rupanya ia lebih senang minum air di ember kamar mandi saya daripada yang sudah disediakan. Sehingga setiap kali saya pulang pasti dia menanti kesempatan untuk masuk menyelinap ke kamar mandi. Selesai minum keluar lagi …Gak tega juga mengusirnya keluar kamar, toh cuma sebentar… mampir ngombe tok.
Kebiasaan berikutnya adalah menunggui saya makan malam, mungkin karena saya orang terakhir pulang kerumah jamnya cocok dengan jam jaga malam bozo. Bozo dilatih untuk tidak mengambil makanan tanpa perintah. Jadi apapun yang disekitarnya, termasuk remah-remahpun tidak akan dimakan tanpa perintah “Eat!”  Namanya anjing kampung, walaupun makanannya Alpo ternyata Bozo lebih doyan tempe dan kerupuk. Saya yang tidak suka makan ditungguin anjing, lama-lama jatuh hati juga melihat kesetiaannya menunggui saat makan malam. Walaupun tidak diberi remah-remah makanan, ia tetap setia duduk manis sambil memandang saya yang sedang makan. Ah si Bozo, anjing kampung ini memang pinter mencuri hatiku ya…
Injil hari ini mengajak kita merenungkan betapa Tuhan itu murah hati. Ia begitu mengasihi kita tanpa memandang siapa kita. Kita manusia yang sering membeda-bedakan orang dengan apa yang kita lihat, sering menghakimi mereka yang tidak sejalan dengan kita. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan kita. Ia mencintai kita tanpa syarat, tanpa pandang bulu. Allah itu setia menemani kita saat susah dan malang. Tetapi kita yang susah belajar untuk setia, setia saat doa yang kita naikkan belum juga dijawab. Setia saat kita harus belajar sabar menanti.
Maka marilah kita belajar setia padaNya, setia dalam perkara kecil, setia dengan menunjukkan cintaNya kepada orang-orang disekitar kita. Setia dalam berdoa dengan penuh iman percaya bahwa Tuhan pasti menjawab doa kita. Masa sih kita kalah dengan Bozo yang begitu setia walau tuannya sering menganggapnya sepele dan hanya memberikan remah-ramah,  anjing gitu lhooo…
===========================================================================================
Bacaan Injil Mrk 7:24-30

“ Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.”


Actions

Information

2 responses

13 11 2012
ferry

blog yg bagus, kl boleh sy tambahkan satu cerita, sy baru saja kehilangan anjing kesayangan sy namanya Riky, yg sy pelihara sejak lahir dr induknya (peliharaan alm Mama saya). Riky tumbuh berbeda dgn anjing2 yg lain, dia adalah jenis campuran antara wels corgy & pom, sehingga dia punya kepintaran corgy & kelucuan pom. Tanpa pernah diajari dia selalu tau menempatkan dirinya sesuai dgn keadaan, contoh ketika sy lagi marah atau lagi bad mood, dia akan memandangi sy & bersuara wuwu (seperti bersiul) seakan-akan bertanya mengenai masalah sy. Riky suka sekali lapis legit (tp hanya buatan sendiri), pernah suatu ketika sy meninggalkan sepotong lapis legit di meja, didalam kotak kue dr plastik, dan diatasnya sy taruh kotak vit enevorn C utk menahan supaya tidak terbuka. Tp entah bagaimana tanpa sepenglihatan sy, sy tinggal keatas 1/2 jam, Riky bisa memindahkan kotak enevorn c nya dengan posisi yg sama tegak berdiri, kotak kuenya terbuka, tanpa pindah posisi & lapis legitnya hilang, sampai skrg sy msh bertanya2, bagaimana cara Riky melakukannya, & pd saat itu tdk ada org lain lagi di rm sy. Dan masih byk lagi cerita2 tentang Riky, yg membuat dia berbeda dgn anjing2 yg lain. Tapi yg pasti walaupun dia sy marahi, pukuli (krn dia nakal), sy tinggalkan dia di rm yg dia blm tau (pernah sy titipin di rm saudara), sy lupa kasih dia mkn, tapi setiap ketemu sy, Riky selalu senang, selalu mengibas2 ekornya, selalu ikut kemanapun sy melangkah & selalu mencari sy ketika dia blm melihat sy dlm 1 hari. Ya walaupun Riky cm seekor anjing, dia selalu mengajarkan arti kesetiaan yg sangat besar kpd sy, bahkan ketika detik2 terakhir hidupnya, dia msh coba mengangkat kepalanya utk melihat sy
Yg pd saat itu menurut dokter kl anjing lain, mungkin sdh mati dr beberapa hari yg lalu, tapi Riky masih kuat. Akhir kata Selamat Jalan Riky. km akan selalu ada dihatiku.

Thanks for let me sharing

14 11 2012
ferry

oh ya sebelumnya salam kenal Mbak Ratna, nama saya Ferry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: