PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI DALAM RANGKA PERAYAAN HARI PERDAMAIAN SEDUNIA 1 JANUARI 2012

1 01 2012

“MENDIDIK KAWULA MUDA DENGAN KEADILAN DAN DAMAI”.

1. Permulaan sebuah tahun baru, yang adalah pemberian Tuhan pada kemanusiaan, mendorongku untuk menyebarkan pada semua, hasrat hatiku yang baik dengan penuh keyakinan dan perasaan. Masa yang ada di hadapan kita sekarang ini mungkin ditandai dengan keadilan dan damai secara kongkrit.Dengan sikap yang bagaimanakah kita menyongsong tahun baru itu? Kita menemukan sebuah gambaran yang indah dalam kitab Mazmur 130. Pemazmur mengatakan bahwa orang yang beriman menunggu Tuhan “lebih dari penjaga menantikan fajar” (ayat 6). Mereka menunggunya dengan harapan yang teguh karena mereka tahu bahwa dia akan membawa cahaya, belas kasih, dan keselamatan.

Penantian ini lahir dari pengalaman bangsa yang terpilih, yang menyadari bahwa Allah mengajar mereka untuk memandang dunia dalam kebenarannya dan tidak dikuasai oleh goncangan-goncangan. Saya mengundangmu untuk menatap tahun 2012 dengan sikap kepasrahan yang penuh keyakinan. Adalah tepat bahwa tahun yang sedang berakhir telah ditandai oleh rasa frustasi yang memuncak terhadap krisis yang datang mencekam masyarakat, dunia perburuhan dan ekonomi, sebuah krisis yang akarnya yang utama adalah bersifat budaya dan antropologis. Tampaknya seolah-olah ada sebuah bayangan telah melingkupi masa kita, mencegah kita untuk melihat dengan jelas terang dari hari itu.

Namun dalam bayangan ini, hati manusiawi kita terus menunggu fajar yang diucapkan oleh pemazmur itu. Karena harapan itu sangat kuat dan terbukti terutama di kalangan orang muda. Pikiranku mengarah pada mereka dan pada sumbangan yang dapat dan harus mereka buat kepada masyarakat. Karena itu saya ingin mengkhususkan pesan ini dalam rangka Hari Damai Se-dunia yang XVI pada tema pendidikan: “Mendidik Kawula Muda dengan Keadilan dan Damai.” Dengan suatu keyakinan kawula muda, dengan idealisme dan kegairahannya, dapat menawarkan sebuah harapan baru kepada dunia.

Pesan saya juga dialamatkan pada orangtua, keluarga dan semua yang terlibatdalam bidang pendidikan dan pembentukan. Juga saya sampaikan kepada pemimpin-pemimpin dalam aneka lingkungan agama, masyarakat, politik, ekonomi dan hidup yang berbudaya dan pemimpin-pemimpin dalam media. Pemerhatian kepada kawula muda dan kepedulian-kepedulian mereka, kemampuan untuk mendengar dan menghargai mereka bukanlah semata sebagai sesuatu yang bijaksana. Ini juga menampilkan suatu kewajiban utama untuk masyarakat secara keseluruhan demi pembangunan masa depan darikeadilan dan damai.

Hal ini menyangkut pengkomunikasian kepada kawula muda sebuah penghargaan terhadap nilai-nilai positif dari hidup dan membangkitkan dalam diri mereka sebuah keinginan untuk mengisi hidup dengan pelayanan kepada Sang Kebaikan itu. Ini adalah tugas yang melibatkan masing-masing kita secara pribadi. Kepedulian yang diungkapkan dalam masa sekarang ini oleh banyak kawula muda seluruh dunia menunjukkan bahwa mereka berkehendak untuk menatap masa depan dengan pengharapan yang teguh. Pada saat ini, mereka sedang mengalami keprihatinan tentang banyak hal. Mereka ingin menerima suatu pendidikan yang menyiapkan mereka untuk dapat secara penuh berhubungan dengan dunia nyata. Mereka melihat betapa sulit untuk membentuk sebuah keluarga dan menemukan pekerjaan yang stabil. Mereka mempertanyakan apakah mereka dapat sungguh memberikan sumbangan kepada kehidupan politis, budaya dan ekonomi agardapat membangun suatu masyarakat dengan wajah yang lebih manusiawi dan penuh persaudaraan. Adalah penting bahwa idealisme yang menggelisahkan dan mendasar ini menerima perhatian yang sepantasnya pada setiap tingkat masyarakat. Gereja menatap kepada kawula muda dengan harapan dan keyakinan. Gereja menyemangati mereka mencari kebenaran, membela kebaikan umum, membuka diri pada dunia sekitar mereka dan berkeinginan melihat “hal-hal yang baru” (Yes 42:9 ; 48:6).

Para Pendidik

2. Pendidikan adalah suatu petualangan yang sangat menarik dan sulit dalam hidup. Pendidikan – berasal dari bahasa Latin “educere” – yang berarti menuntun kawula muda untuk bergerak melampaui diri mereka sendiri dan memperkenalkan mereka dengan kenyataan, kepada suatu kepenuhan yang membawa pada suatu pertumbuhan. Proses ini didukung oleh pertemuan dari kedua kebebasan itu, dari yang dewasa dan dari yang muda. Hal ini menyerukan suatu tanggungjawab pada pihak yang belajar, yang harus terbuka pada bimbingan ke pengetahuan akan realitas, dan pada pihak pendidik,yang harus siap untuk memberi diri mereka sendiri.

Untuk alasan ini, masa kini kita lebih memerlukan kesaksian yang otentik lebih dari sebelumnya, dan tidak begitu saja membungkus peraturan dan fakta. Kita memerlukan saksi-saksi yang mampu melihat lebih jauh dari pada yang lain karena hidup mereka berwawasan jauh lebih luas. Saksi adalah seorang yang pertama menghidupi kehidupan itu dan dia mengajukannya pada orang-orang lain.

Dimanakah pendidikan keadilan dan damai yang tepat berlangsung? Pertama, dalam keluarga, karena orangtua adalah pendidik yang pertama. Keluarga adalah sel utama dari masyarakat “Dalam keluargalah anak-anak belajar nilai-nilai manusiawi dan kristiani yang memungkinkan mereka untuk hidup berdampingan secara konstruktif dan damai. Dalam keluarga mereka mempelajari solidaritas di antara generasi, hormat pada peraturan, pengampunan dan bagaimana menyambut orang lain.” Keluarga adalah sekolah pertama yang di dalamnya kita dilatih dengan keadilan dan damai.

Kita sedang hidup dalam dunia di mana keluarga-keluarga, dan hidup itu sendiri, terus menerus terancam dan tercerai-beraikan. Kondisi kerja yang sering tidak dapat terdamaikan dengan tanggungjawab-tanggungjawab keluarga, kecemasan-kecemasan akan masa depan, kehingar-bingaran langkah hidup, kebutuhan yang sering-sering untuk berpindah untuk memastikan kehidupan yang memadai, untuk menyatakan tidak akan bertahan hidup saja – semua ini membuat susah untuk memastikan bahwa anak menerima harta yang paling berharga yaitu kehadiran orangtua. Kehadiran ini membuat mungkin untuk berbagi secara lebih mendalam dalam perjalanan hidup dan menyampaikan pengalaman-pengalaman dan keyakinan-keyakinan yang diperoleh sepanjang tahun, pengalaman-pengalaman dan keyakinan-keyakinan yang hanya dapat dikomunikasikan dengan menghabiskan waktu bersama. Saya mau mendesak para orangtua untuk tidak menumbuhkan kekerdialan hati! Semoga mereka menyemangati anak-anak dengan teladan hidup mereka dengan menaruh harapan mereka dalam Allah di atas segalanya yang lain, satu sumber dari keadilan dan damai yang otentik.

Saya juga ingin menyampaikan sepatah kata pada mereka yang bertugas dalam institusi pendidikan; dengan sebuah tanggungjawab yang besar semoga mereka menjamin martabat setiap orang selalu dihormati dan dihargai. Biarlah mereka peduli bahwa setiap orang muda mampu untuk menemukan panggilannya sendiri-sendiri dan membantu mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan. Semoga mereka meyakinkan kembali keluarga-keluarga bahwa anak-anak mereka dapat menerima sebuah pendidikan yang tidak bertentangan dengan suara hati dan prinsip religius mereka.

Setiap pengaturan pendidikan dapat menjadi sebuah tempat akan keterbukaan kepada hal yang ilahi dan orang-orang lain. Ini sebuah tempat untuk dialog, kelekatan dan mendengar dengan penuh perhatian, di mana kawula muda merasa dihargai karena kemampuan pribadi mereka dan kekayaan-kekayaan batiniah dan dapat belajar untuk menghargai saudara-saudarinya. Semoga kawula muda diajari untuk menikmati sukacita yang datang dari praktek-praktek belas kasih sehari-hari dan rasa belas kasihan terhadap orang-orang lain dan dari keterlibatan dalam pembangunan masyarakat yang lebih manusiawi dan bersaudara. Saya meminta pemimpin-pemimpin politis untuk menawarkan bantuan kongkrit kepada keluarga-keluarga dan institusi-institusi pendidikan dalam praktek hak dan kewajiban mereka untuk mendidik. Dukungan yang kuat tidak pernah bisa kurang kepada orangtua dalam tugas mereka. Biarlah mereka berkeyakinan bahwa tidak seorang pun dilarang untuk jalan masuk ke pendidikan. Dan bahwa keluarga-keluarga dapat dengan bebas memilih struktur-struktur pendidikan yang mereka kira sesuai untuk anak-anak mereka. Biarlah mereka melibatkan diri pada penyatuan kembali keluarga-keluarga yang terpisah karena kebutuhan hidup. Biarlah mereka memberi kawula muda sebuah gambaran politik yang transparan sebagai suatu pelayanan yang tulus kepada kebaikan semua orang.

Saya tidak bisa juga gagal untuk menyerukan kepada dunia media untuk menawarkan sumbangan mereka sendiri untuk pendidikan. Dalam masyarakat masa kini alat media mempunyai peranan khusus. Mereka bukan hanya memberikan informasi tetapi juga membentuk pemikiran dari pembaca-pembaca, dan dengan demikian mereka dapat memberikan sebuah sumbangan yang berarti kepada pendidikan orang-orang muda. Perlu untuk tidak pernah lupa bahwa hubungan antara pendidikan dan komunikasi sangat dekat sekali. Pendidikan berlangsung melalui komunikasi, yang mempengaruhi, demi yang lebih baik atau lebih buruk, pembentukan orang-orang.

Kawula muda juga butuh untuk mempunyai keberanian untuk hidup dengan standard hidup yang sama tingginya yang mereka siapkan untuk orang lain. Ada sebuah tanggung jawab yang besar. Semoga mereka menemukan kekuatan untuk membuat penggunaan yang baik dan bijaksana dari kebebasan mereka. Mereka juga bertanggungjawab untuk pendidikan mereka, termasuk pendidikan keadilan dan damai.

Mendidik dalam kebenaran dan kebebasan

3. St. Agustinus bertanya suatu waktu: “Quid enim fortius desiderat anima quam veritatem – Apakah yang lebih mendalam diinginkan manusia selain dari kebenaran? Wajah manusiawi dari sebuah masyarakat sangat tergantung pada sumbangan pendidikan untuk tetap membuat pertanyaan yang tidak dapat ditahan ini hidup. Tentu pendidikan peduli dengan pembentukan menyeluruh manusia, termasuk dimensi moral dan spiritual, yang berfokus pada tujuan manusia dan kebaikan dari masyarakat yang padanya ia berada. Karena itu, supaya dapat mendidik dalam kebenaran, adalah perlu pertama dan terutama untuk mengetahui siapakah manusia itu, mengetahui kodrat manusia. Dengan mengkontemplasikan dunia sekitarnya, pemazmur merefleksikan, ”Ketika saya melihat langit, karya buah tanganmu, bulan dan bintang yang Kau atur, apakah manusia sehingga kau perhatikan, manusia yang dapat mati sehingga kau memperhatikannya?” (Mzm8:4-5). Ini adalah pertanyaan fundamental yang harus dipertanyakan. Siapakah manusia? Manusia adalah suatu mahluk yang menanggung di hatinya suatu kehausan akan sesuatu yang tidak terbatas, suatu kerinduan akan kebenaran – suatu kebenaran yang tidak sebagian tetapi mampu untuk menjelaskan makna kehidupan. Karena dia diciptakan dalam gambaran dan keserupaan dengan Allah. Pengakuan syukur bahwa hidup adalah hadiah yang tidak ternilai, kemudian membawa kepada penemuan akan martabat yang mendalam dari diri seseorang dan ketidakmampuan pelecehan terhadap setiap pribadi. Karena itu langkah pertama dalam pendidikan adalah belajar untuk mengenal gambaran pencipta di dalam diri manusia, dan selanjutnya belajar untuk memiliki hormat yang mendalam terhadap semua mahluk manusia dan menolong mereka untuk menghidupi suatu kehidupan yang sesuai dengan martabat yang agung ini. Kita seharusnya tidak pernah lupa bahwa “perkembangan manusia yang otentik menyangkut keseluruhan dari orang itudalam setiap dimensi”. Termasuk di dalamnya dimensi transenden, dan bahwa orang tidak dapat dikurbankan demi mencapai sebuah kebaikan khusus, apakah ini berupa ekonomi atau sosial, individu atau kolektif.

Hanya dalam hubungan dengan Allah manusa sungguh sampai pada pengertian juga tentang makna dari kebebasan manusiawi. Ini adalah tugas dari pendidikan untuk membentuk orang dalam kebebasan otentik. Ini bukan berarti ketidakhadiran pembatasan atau keagungan kehendak bebas, ini bukan keabsolutan diri.

Ketika manusia percaya dirinya absolute, untuk tidak tergantung pada suatu apa pun dan seorang pun, untuk mampu melakukan apa saja yang dia mau, dia berakhir pada perlawanan terhadap kebenaran dari keberadaan dirinya sendiri dan menyerahkan kebebasannya. Sebaliknya, manusia adalah mahluk yang berelasi, yang hidup di dalam hugungan dengan orang lain dan khususnya dengan Allah. Kebebasan yang otentik tidak akan pernah dapat dicapai secara bebas dari Allah.

Kebebasan adalah sebuah nilai yang berharga, tetapi rapuh; hal ini dapat disalahmengerti dan disalahgunakan. “Saat ini, halangan yang tersembunyi yang khusus pada tugas pendidikan adalah kehadiran yang kuat di dalam masyarakat dan budaya akan relativisme yang, mengakui tidak suatu pun definitif, meninggalkan kriteria yang paling akhir hanya pada diri dengan segala keinginannya. Dengan cara pandang relativistik seperti itu, maka pendidikan yang sungguh tidak mungkin tanpa cahaya kebenaran; cepat atau lambat, setiap orang nyatanya akan terjerumus pada keraguan akan kebaikan dari hidupnya sendiri dan hubungan-hubungan yang darinya kebaikan itu terkandung, keabsahan dari komitmennya untuk membangun bersama dengan orang lain sesuatu yang sama secara umum”

Untuk melaksanakan kebebasannya, maka manusia bergerak melampaui cara pandang relativistik dan sampai pada pengetahuan akan kebenaran tentang dirinya sendiri dan kebenaran tentang yang baik dan yang jahat. Jauh di dalam hatinuraninya, manusia menemukan sebuah hukum yang tidak ditempatkan diatas dirinya tetapi yang dia harus patuhi. Suara hukum itu memanggilnya untuk mencintai dan melakukan apa yang baik, dan mencegah apa yang jahat dan bertanggungjawab atas hal yang baik yang dia lakukan dan yang jahat yang dia perbuat. Jadi pelaksanaan kebebasan dihubungkan erat dengan hukum moral kodrati, yang adalah bersifat universal, yang mengungkapkan martabat setiap orang dan membentuk dasar dari hak manusiawi yang hakiki dan kewajiban. Sebagai akibatnya, dalam analisa akhir, hal ini membentuk dasar untuk keberadaan bersama yang adil dan damai.

Maka penggunaan yang tepat akan kebebasan adalah pusat dari promosi keadilan dan damai, yang membutuhkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain, termasuk mereka yang cara hidupnya berbeda sekali dengan seorang yang lain. Sikap ini menimbulkan unsur-unsur yang tanpa keadilan dan damai tinggal hanya isapan jempol tanpa isi: saling percaya, kemampuan untuk berpegang pada dialog yang membangun, kemungkinan akan pengampunan, yang setiap orang terus ingin menerima tetapi menemukan kesulitan untuk menganugerahkannya, saling berbelaskasih, rasa kasihan terhadap yang lemah, juga kesediaan untuk membuat pengorbanan-pengorbanan.

Mendidik dalam keadilan

4. Dalam dunia kita ini, meskipun di dalamnya pengakuan akan tekad-tekad yang baik, nilai dari orang, dari martabat manusiawi dan hak-hak manusiawi sungguh terancam oleh menyebarnya kecenderungan untuk kembali secara tertutup pada kriteria kegunaan, untung, kepemilikan materi, adalah perlu untuk tidak melepaskan konsep keadilan dari akar-akar transendennya. Sungguh, keadilan bukan hanya semata sebuah kesepakatan manusiawi, karena apa yang adil, pada akhirnya bukan ditentukan oleh hukum positif, tetapi oleh identitas yang mendalam dari manusia. Inilah pandangan menyeluruh dari manusia yang menyelamatkan kita dari kejatuhan pada sebuah konsep keadilan yang berdasarkan pada perjanjian. Ini memampukan kita untuk menempatkan keadilan dalam cara pandang dari solidaritas dan cinta. Kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa beberapa arus dari budaya modern, yang dibangun atas rationalis dan prinsip-prinsip ekonomi yang individualis, telah memotong konsep keadilan dari akar transendensinya, melepaskannya dari belaskasih dan solidaritas.

’Kota dunia’ dipromosikan bukan hanya dengan hubungan-hubungan akan hak-hak dan kewajiban-kewajiban, tetapi pada suatu hal yang bahkan lebih besar dan mendasar yang dikembangkan dengan hubungan-hubungan akan rasa syukur,belas kasih dan kesatuan. Kemurahan hati selalu menampakkan cinta Allah dalam hubungan manusiawi juga. Ini memberi nilai teologis dan penyelamatan kepada semua ketekadan akan keadilan di dunia”. “Terpujilah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6). Mereka akan puas karena mereka lapar dan haus akan hubungan-hubungan yang benar dengan Allah, dengan diri mereka sendiri, dengan saudara dan saudari mereka, dan dengan semua ciptaan.

Mendidik dalam damai

5. “Damai bukanlah semata ketidakhadiran perang, dan tidak terbatas pada pemeliharaan sebuah keseimbangan kekuatan di antara musuh-musuh. Damai tidak dapat dicapai di bumi tanpa penjagaan yang aman dari hal-hal yang baik dari manusia, komunikasi yang bebas di antara manusia, hormat terhadap martabat orang-orang dan bangsa-bangsa, dan praktek yang tekun akan persaudaraan.”

Kita, kristiani, percaya bahwa Kristus adalah damai kita yang sesungguhnya: di dalamnya, lewat salib-Nya, Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya sendiri dan telah menghancurkan tembok pemisah yang menceraikan kita satu sama lain (konfr. Ef 2:14-18). Dalam dia, ada, hanya satu keluarga yang telah didamaikan dalam cinta.

Namun damai bukanlah semata sebuah pemberian untuk diterima. Ini juga suatu tugas yang perlu dijalankan. Agar kita menjadi pembuat-pembuat perdamaian, kita harus mendidik diri kita sendiri dalam rasa belas kasih, solidaritas, kerjasama, persaudaraan, aktif dalam komunitas dan peduli untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu nasional dan internasional dan pentingnya mencari mekanisme yang memadai untuk pembagian kembali kemakmuran, promosi dari pertumbuhan, kerjasama untuk pengembangan dan pemecahan konflik. “Terpujilah orang-orangyang membuat damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”, seperti Yesus katakan dalam kotbah di bukit (Mat 5: 9).

Damai bagi semua adalah buah dari keadilan bagi semua, dan tidak seorang pundapat melalaikan tugas mendasar ini untuk mempromosikan keadilan, seturut bidang kemampuan dan tanggungjawab khusus seseorang. Kepada kawula muda, yang memiliki kelekatan yang kuat dengan idealisme, saya menyebarkan undangan khusus untuk menjadi sabar dan gigih dalam mencari keadilan dan damai, dalam mengolah rasa dari apa yang adil dan benar, bahkan ketika itu melibatkan pengorbanan dan berenang melawan arus.

Mengarahkan mata orang pada Allah.

Sebelum tantangan yang sulit dari menjalani langkah-langkah keadilan dan damai, kita mungkin tergoda untuk bertanya, dalam kata-kata pemazmur: “Saya mengarahkan pandanganku kegunung: dari mana akan datang pertolonganku?” (Mzm 121:1).

Kepada semua, khususnya kawula muda, saya ingin mengatakan secara emphaty: “bukanlah ideologi-ideologi yang menyelamatkan dunia, tetapi hanya sebuah pertobatan kepada Allah yang hidup, pencipta kita, penjamin dari kebebasan kita, penjamin dari apa yang sungguh baik dan benar…. Sebuah pertobatan tanpa syarat kepada Allah yang adalah ukuran akan hal yang baik dan yang sekaligus adalah cinta yang sejati. Dan apa yang dapat memisahkan kita dari cinta?” Cinta bersukacita dalam kebenaran, ia adalah kekuatan yang memungkinkan kita untuk sebuah komitmen kepada kebenaran, keadilan, damai, karena cinta itu mengemban semua hal, percaya semua hal, berharap pada semu hal, menanggung semua hal (Konfr. I Kor 13:1-13).
Kawula muda terkasih, kamu adalah hadiah berharga untuk masyarakat. Jangan menyerah pada keputusasaan berhadapan dengan kesulitan dan jangan mengabaikan dirimu sendiri pada pemecahan-pemecahan yang salah yang sering kelihatan menjadi cara yang paling gampang untuk mengatasi masalah-masalah. Jangan takut membuat komitmen, untuk menghadapi kerja keras dan pengorbanan, untuk memilih langkah-langkah yang membutuhkan kesetiaan dan kesinambungan, kerendahan hati dan dedikasi. Yakinlah dengan kemudaanmu dan keinginannya yang mendalam untuk kebahagiaan, kebenaran, keindahan dan cinta yang asali! Hidupilah secara penuh waktu ini dalam hidupmu yang begitu kaya dan penuh dengan antusiasme. Sadarilah bahwa kamu sendiri adalah sebuah teladan dan inspirasi bagi orang-orang dewasa, bahkan lebih lagi sampai pada tahap bahwa engkau mencari jalan mengatasi ketidakadilan dan korupsi dan berusaha membangun sebuah masa depan yang lebih baik. Sadarlah akan potensimu; jangan pernah menjadi berpusat pada diri tetapi bekerja untuk masa depan yang lebih cerah untuk semua orang. Kamu tidak pernah sendiri. Gereja meyakinimu, mengikutimu, menyemangatimu dan ingin menawarkan padamu suatu hadiah berharga yang dia miliki: kesempatan untuk mengarahkan matamu kepada Allah, untuk bertemu dengan Yesus Kristus, yang dirinya sendiri adalah keadilan dan damai. Pada semua pria dan wanita seluruh dunia, yang peduli akan penyebab damai: damai bukanlah sebuah rahmat yang telah diperoleh, tetapi sebuah tujuan yang padanya setiap dan semua kita harus bercita-cita. Marilah melihat dengan harapan yang lebih besar ke masa depan; marilah kita saling menyemangati satu sama lain dalam perjalanan kita; marilah kita bekerjasama untuk memberi wajah yang lebih manusiawi dan bersaudara kepada dunia kita; dan marilah merasakan suatu tanggungjawab bersama terhadap generasi-generasi yang sekarang dan yang akan datang, khususnya dalam tugas untuk melatih mereka menjadi orang pembawa damai dan pembangun damai. Dengan pemikiran-pemikiran ini saya menawarkan refleksi-refleksi saya dan saya menyerukan kepada setiap orang: marilah menyatukan sumber-sumber spiritual, moral dan material untuk tujuan yang besar “mendidik kawula muda dengan keadilan dan damai”.

Dari Vatikan, 8 Desember 2011.

Diterjemahkan oleh Team JPIC KapusinMedan, dari

MESSAGE OF HIS HOLINESS

POPE BENEDICT XVI

FOR THECELEBRATION OF THE

WORLD DAY OFPEACE 1 JANUARY 2012
© Copyright2011 – Libreria Editrice Vaticana.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: