“DAMAI SEPERTI APA YANG KITA BAGIKAN? – Homili Malam Natal

24 12 2011
 Yes 9:1-6; Tit 2:11-14; Luk 2:1-14

Akhir-akhir ini suasana menjelang Natal terasa sepi. Tidak banyak hiasan Natal di toko-toko. Tidak banyak iklan Natal di televisi, apalagi lagu-lagu Natal di radio. Konon ada sebuah ‘peringatan’ dari sebuah majelis agama, agar “jangan merayakan Natal berlebihan, sehingga mereka yang bukan Kristiani tidak merasa terganggu.” Kata-katanya memang tidak persis seperti itu, namun toh ‘peringatan’ ini ditaati juga oleh pusat pertokoan, televisi, dan radio. Kata-kata ‘Christmas’ diganti ‘season’ atau ‘holiday’. Tak satu pun gambar Keluarga Kudus di koran-koran. Kedamaian dicurigai. Kegembiraan dianggap sebagai gangguan. Suasana Natal ternyata bisa ‘menakutkan’ sementara orang.

Mungkin itu semua ada baiknya, karena orang diajak kembali berkumpul di keluarganya masing-masing. Belanja dan makan-makan di luar bukanlah suatu kewajiban. Tetangga dan orang-orang terdekat mendapat perhatian lebih. Di salah satu koran dikisahkan bahwa umat Kristiani di Cigugur, Kuningan, punya kebiasaan berbagi kue-kue kering dengan tetangga di hari Natal. Sebaliknya, mereka pun sudah biasa dibagi ketupat di hari Lebaran. Memang, damai itu seharusnya mudah diungkapkan, tidak mahal, tidak dengan curiga, dan tidak usah jauh-jauh. Saat keadaan di sekitar kita menekan, damai seperti apa yang masih bisa kita bagikan?

Sensus penduduk yang dimaklumkan kaisar Agustus waktu itu menjadi kegemparan tersendiri. Sensus ini mewajibkan semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Rupa-rupanya pamor Kekaisaran Romawi mulai pudar, padahal kaisar harus memperhitungkan posisi dan kekuasaannya di masa depan. Ia tidak terlalu peduli pada jumlah penduduk, tetapi jumlah pajak yang akan diraupnya untuk kepentingan sendiri. Sensus ini jelas amat menyusahkan banyak orang. Dan kabar kelahiran seorang Juru Selamat di Betlehem hanyalah debu yang ditiup angin. Tapi, itulah kehendak Allah sendiri!

Kehadiran Yesus, cinta dan kehangatan keluarga ilahi, hanya sampai di telinga orang-orang kecil, gembala-gembala di padang yang tidak diperhitungkan siapapun. Ketika semua orang sibuk dan terpaku pada sensus dan keributan yang diakibatkannya, ada kelompok yang seakan-akan tidak masuk hitungan sensus. Dan mereka inilah yang justru diperhitungkan Allah untuk menjadi saksi. Para pembawa damai adalah orang-orang yang seakan-akan tidak penting, tidak punya apa-apa, tidak punya kuasa dan bukan pula pemimpin atau pejabat.

Siapa orang-orang yang merasa tertekan di hari Natal ini? Tahukah kita, bahwa mereka yang hidupnya tertekan seringkali justru menunjukkan sikap keras, main kuasa, sinis, dan bahkan kejam. Tapi kita masih menganggap bahwa mereka ini tidak bisa ditolong lagi. Kita pikir kita sudah menasihati dan menegur mereka, tapi tetap saja mereka bertahan dalam kekerasan hati. Lalu kita berhenti mendoakan mereka. Berhenti menawarkan damai. The End. Tidak ada Natal untuk mereka.

Bagaimana kalau kita keliru? Bagaimana kalau obat yang akan menyembuhkan mereka hanya ada dalam senyuman kita? Bagaimana kalau kita yang lemah ini, yang kecil dan tak berdaya, ternyata adalah pembawa damai bagi mereka yang berkeras hati, kesembuhan bagi mereka yang penuh kekerasan, cinta bagi mereka yang tak berperasaan? Kelahiran seorang bayi mampu mendamaikan seorang ayah dengan anaknya. Kepolosan seorang sahabat mampu mencairkan kecurigaan seseorang. Doa seorang korban mampu mempertobatkan si pelaku kejahatan. Siapa bilang Penyelamat kita itu sosok yang hebat?

Yesaya dalam bacaan I menubuatkan Sang Penyelamat yang adalah seorang anak kecil. Tapi di atas bahu anak kecil ini ada lambang pemerintahan. Namanya disebut-sebut orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai! Seorang anak kecil yang tak berdaya dan tak diperhitungkan kelahiran-Nya! Tidakkah sebutan-sebutan itu terlalu berat bagi-Nya? Tidak. Kita terkecoh oleh penampilan Tuhan. Kita terlalu curiga pada setiap kegembiraan dan kesederhanaan. Kita malah ‘takut’ kalau diberi ucapan selamat oleh saudara-saudara yang beragama lain, dan karenanya juga ‘takut’ untuk berbagi damai dengan mereka. Padahal, damai itu jelas bukan ketakutan!

Banyak yang berpikir bahwa kedamaian di negara kita hanya mungkin kalau para penguasa itu ‘bertobat’. Salah. Kedamaian terjadi kalau orang kecil seperti kita mau menjadi saksi-saksi kelahiran Yesus, kalau kita mulai mengulurkan tangan dan menyapa mereka yang hidupnya masih tertindas oleh rasa benci. Kalau atasan kita marah-marah, berilah ia sapaan damai. Kalau orangtua kita menjengkelkan, berilah mereka senyum manis. Kalau teman kita mencurigai dan menuduh, berilah dia hadiah Natal. Kalau tetangga kita menggosipkan kita, undanglah mereka makan bersama. Kita punya banyak ‘damai’. Bagikanlah!

Maka, Natal takkan pernah ‘sepi’. Apa yang kita lihat di televisi, kita dengar di radio, kita temukan di mal-mal, hanyalah ‘hiasan’ Natal. Kita tidak perlu mencari ke sana untuk memberi hadiah ke orang-orang di sekitar kita. Kita sudah punya damai di hati. Pikirkanlah saja damai seperti apa yang akan kita bagikan, dengan semua keterbatasan dan kekurangan kita. Harusnya memang semudah itu. Amin.

Rm Tedjo OSC

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: