Tokoh Katolik IJ Kasimo Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

10 11 2011
detail_img

Salah satu tokoh Katolik ternama di Indonesia Ignatius Joseph Kasimo (1900-1986) dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hari ini Selasa (8/11) di Istana Negara Jakarta.

Ignatius Joseph Kasimo atau dikenal IJ Kasimo adalah mantan Ketua Partai Katolik ini berjasa sebagai salah satu pelaku sejarah pergerakan awal kemerdekaan Indonesia. Kasimo turut berjasa memperjuangkan pluralisme di Indonesia. Sebagai pemimpin yang jujur, berani, dan konsisten, Kasimo juga memberikan teladan nyata dalam pengabdian tanpa pamrih bagi bangsa serta bagaimana berpolitik yang beretika dan bermartabat.

Kasimo pernah menjadi Menteri Muda Kemakmuran (1947-1948), Menteri Persediaan Makanan Rakyat (1948-1949 dan 1949-1950), Menteri Kemakmuran (1949-1950), dan Menteri Perekonomian (1955-1956). Selama menjadi menteri, ia mengusahakan swasembada pangan ketika hubungan dengan dunia luar terputus. Dalam persidangan di Konstituante, Kasimo juga turut memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara.

Lebih prestisiusnya, Kasimo berhasil mengubah citra golongan Katolik sebagai unsur yang melekat dari kolonialisme, menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia. Selain Kasimo, lima tokoh nasional lainnya juga dianugerahi gelar yang sama yaitu Mantan Gubernur Bank Indonesia Syafruddin Prawiranegara, almarhum Idham Chalid serta almarhum Sri Susuhunan Paku Buwono X.

Pemimpin Indonesia saat ini perlu meneladani dan meneruskan karakter dan sifat kepemimpinan para pahlawan nasional seperti IJ Kasimo. Agar cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya untuk masyarakat tidak tergerus oleh kepentingan golongan yang ingin mengambil keuntungan sendiri.

Sumber:
http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/111108142712/limit/0

Artikel lainnya :

Ignatius Joseph Kasimo: Pahlawan Nasional
http://www.sesawi.net/2011/11/08/ignatius-joseph-kasimo-pahlawan-nasional/

Pendiri Partai Katolik, *Ignatius Joseph Kasimo *dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional dilakukan di Istana Negara oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa 8 November 2011 ini sebagai rangkaian dari perayaan Hari Pahlawan 2011.

IJ Kasimo mungkin bagi kebanyakan masyarakat Indonesia merupakan nama yang masih asing dan tidak terlalu dikenal, pun juga bagi sebagian orang Katolik. *Ignatius Joseph Kasimo*, anak seorang prajurit keraton Yogyakarta yang menjadi Katolik di bawah asuhan Pater van Lith, SJ telah menjadi teladan bagaimana berpolitik semestinya dihidupi dan mengabdi kepada kepentingan rakyat.

Pernah menjadi murid Pater van Lith, SJ di Sekolah Guru Muntilan, IJ. Kasimo muda banyak mengabdikan diri dan karyanya di bidang pendidikan. Selain pendidikan, pernah juga IJ. Kasimo muda bekerja sebagai mandor perkebunan karet . Namun karena keberanian IJ. Kasimo membela buruh-buruh yang ditindas, IJ. Kasimo akhirnya dipindah kembali menjadi guru pertanian.
Kedalamannya akan penghayatan iman katolik dalam hidup nyata di masyarakat dan bangsanya sangat dipengaruhi oleh pemahaman IJ. Kasimo tentang Ajaran Sosial Gereja. Inspirasi dari ASG yang menekankan kemerdekaan, persamaan hak dan persatuan bangsa mendorong IJ. Kasimo untuk mulai aktif di berbagai organisasi pergerakan dan politik.

Peranan IJ. Kasimo dalam perjuangan kebangsaan dimulai dari kegigihannya membela dan memperjuangkan hak-hak kemerdekaan di dalam *Volksraad* (Dewan Rakyat) dari tahun 1931-1943. Pidato terkenalnya di*Volksraad* adalah ketika dia menyerukan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia dalam sidang * Volksraad* 19 Juli 1932.

*“Tuan Ketua! Dengan ini saya menyatakan bahwa suku-suku bangsa Indonesia yang berada dibawah kekuasaan Negeri Belanda, menurut kodratnya mempunyai hak serta kewajiban untuk membina eksistensinya sendiri sebagai bangsa, dan karenanya berhak memperjuangkan pengaturan negara sendiri sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan abngsa sesuai dengan kebutuhan nasional, yaitu sesempurna mungkin Ini berarti bahwaNegeri Belanda sebagai negara berbudaya terpanggil untuk ikut mengembangkan seluruh rakyat, dan khususnya sebagai negara penjajah, mempunyai kewajiban untuk membimbing dan merampungkan pendidikan rakyat, sehingga dengan demikian dapat dicapai kesejahteraan rakyat Indonesia, untuk kemudian dapat diberikan hak untuk mengatur dan akhirnya memerintah sendiri.”*

Bagi kalangan Katolik sendiri IJ. Kasimo dipandang sebagai “bapak politik” bagi umat Katolik Indonesia. Lewat *Partai Katolik* yang didirikannya IJ. Kasimo mau menggarisbawahi bahwa iman katolik adalah iman yang harusnya menggema dalam hidup bermasyarakat sehari-hari.

*“…kami orang-orang Katolik Djawa BUKANLAH pengikut yang baik dari perintis besar Misi Jawa ini BILA kami tidak sependapat dengan dia serta pengarang-pengarang Katolik terkenal lainnya seperti Cathrein dan Ferrari, mengenai prinsip kebangsaan, yaitu prinsip yang menyatakan bahwa setiap bangsa mempunyai hak untuk membntuk negara merdeka..”*

IJ. Kasimo melihat politik sebagai sebuah sarana perjuangan yang harus dilaksanakan dengan menjunjung kemanusiaan dan kesejahteraan masyarakat. Dan ini semua dia yakini sebagai sebuah penghayatan akan iman Katoliknya. Sebagai seorang Katolik, IJ. Kasimo berani berdiri di persimpangan, mewartakan yang benar, dan atas keyakinan dan imannya dia berani memperjuangkan kebenaran itu.

Diangkatnya IJ. Kasimo menjadi Pahlawan Nasional seharusnyalah membuat kita umat Katolik diajak untuk kembali bercermin pada sosok IJ. Kasimo. Dewasa ini, baik para uskup, umat dan kita semua, tidak banyak yang berdiri di “persimpangan” untuk mewartakan kebenaran. Mungkin tidak ada lagi para uskup atau awam yang berani bersuara lantang secara individu atas ketidakadilan baik yang menimpa umat Katolik atau masyarakat pada umumnya.
Bagaimana politikus Katolik? Kita patut prihatin misalnya beberapa skandal di DPR baik hukum dan keuangan malah melibatkan politisi Katolik, yang tidak berani bersuara melantangkan kebenaran.

IJ. Kasimo adalah potret bagaimana iman bersuara dan mungkin merupakan sebuah “sketsa” Gereja yang bersuara. Dia adalah potret bagaimana iman itu menggema dalam hidup  dan memberanikan diri berpijak pada “yang benar”.

Semoga kita dan Gereja Katolik Indonesia tidak semakin takut kepada “yang bayar” atau malu-malu berbicara lantang tentang “yang benar”. Bila kita takut, semoga bercermin pada Ignatius Joseph Kasimo dan Yesus sendiri membuat kita berani bangkit.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: