Indahnya Berbagi

14 10 2011

Ceritanya dimulai sekitar seminggu lalu.Siang itu saya baru saja selesai menimbang barang hasil pulungan saya di lapak toke tempat saya biasa menjual di dekat pasar angkasa di depan pasar induk Sei Jodoh.Waktu baru jam 11 siang ketika saya menerima uang dari toke/juru bayar.Saya hitung2 semua barang hasil pulungan saya dihargai 60 ribu.

Sambil mengengkol motor yang pake keranjang itu saya berpikir akan saya alokasikan kemana duit yang cuman 60 ribu ini.Sambil mengendara motor saya berpikir apakah akan saya pake minum tuak sebagian, saya kasih ke mamaknya si Butet atau mengisi bensin motor?.Dari depan pasar induk saya lurus melewati Hotel Novotel, lalu lurus ke arah Batu Ampar.Akhirnya saya putuskan mengisi bensi 10 ribu untuk bahan bakar motor sepanjang hari itu dan besoknya.lalu saya putuskan masuk ke areal Pelabuhan Ferry International Harbour Bay.Tujuan saya adalah ke Carrefour untuk beli pampersnya si Butet, karena seingat saya pampersnya di rumah tinggal 3 pieces saja.Masalah minum tuak itu nanti gampanglah, yang penting kebutuhan si Butet harus diutamakan diatas segala-galanya, begitu pikir saya dalam hati.Meski si Butet hanyalah anak seorang pemulung tapi perlu juga kan ya pake pampers supaya dia tetap merasa nyaman di dalam kemiskinannya:)

Setelah memarkir motor berkeranjang itu Saya masuk ke Carrefour dengan gaya pengusaha mapan, meski bersendal jepit dan celana pendek saya sudah bauk karena 3 hari gak diganti:).Hidup ini boleh miskin tapi rasa percaya diri harus selalu dibaharui…ya gak fren?:).Di dalam saya memilih merek pampers yang biasa dipakai si Butet, yang paling murah dgn isi 20 pieces lantas saya pergi ke kasir untuk membayar senilai 25 ribu lebih dikit:)Sambil antri tak lupa saya perhatikan raut wajah kasir yang lumayan cantik, maklum pemulung perlu juga cuci mata sekilas karena kalau di field/lapangan yang kami lihat hanya besi rongsokan dan sampah saja:).
Lalu saya keluar dan menaruh pampers yang saya beli di keranjang.”Pasti mamaknya si Butet senang karena aku sudah membeli kebutuhan anaknya”:pikirku sambil siap2 mengengkol motor.Kawasan ferry International Harbour Bay terletak di Sei Jodoh Batam.Luasnya lumayan dan terdiri dari beberapa baris ruko, hotel, mall dan pelabuhan Ferry.Lalu Saya bergegas berputar menyusuri jalan di pinggir ruko untuk menuju arah keluar sambil menyiapkan karcis parkir Secure Parking.Sambil mengendarai motor entah kenapa saya tak sengaja melihat tumpukan kertas di pinggir ruko.Saya lihat bentuknya adalah dokument kantor dari jenis HVS yang saya taksir beratnya 300 kilo dan minimal 200 kg.Saya berhenti dan mengamati tumpukan kertas bekas tsb, ada juga besi dan cashing komputer bekas tapi orang atau pemiliknya tidak terlihat.

Akhirnya instink/naluri kepemulungan saya langsung muncul  secara refleks:)
Saya liat kiri kanan tak ada orang akhirnya  3 potong buku/dokumen tebal itu saya masukkan ke keranjang lalu saya gas motor secepatnya ke arah luar…ha…ha ya gitulah namanya juga pemulung:).Setelah keluar dari komplek Harbour Bay saya langsung menuju warung tempat saya biasa nge-drink tuak.Saya pesan sebotol …murah hanya 6 ribu saja.Sambil nenggak tuak saya cerita kepada pemilik warung dan beberapa teman disitu bhw di komplek Harbour Bay tadi saya melihat tumpukan kertas yang saya taksir nilainya 400 ribu, tapi saya tak melihat pemiliknya sehingga tak tau itu barang mau dibuang atau dijual.Mereka memotivasi saya untuk masuk lagi ke Harbour Bay dan menanyakan kejelasan barang tsb apakah saya bisa membelinya.

Motivasi dari kawan dan pemilik warung masuk akal saya juga..akhirnya saya buru2 menenggak sisa tuak dan bergegas pulang mengantar pampers ke “apartemen” tempat kami nge-kost:-).Sesudah menyerahkan pampers ke mamaknya si Butet lalu saya bergegas bernagkat lagi ke Harbour Bay.Setelah mengambil karcis masuk saya kembali ke lokasi tumpukan kertas itu.Akhirnya saya bertemu dgn securitynya.Dia menyuruh saya menunggu pemiliknya yang sedang “on the road”. Akhirnya saya bertemu dan dia bilang :”Kau berani berapa semua kertas dan barang ini-ini harus sekali angkut dan harus pakai mobil dan ada surat jalannya ?”.Saya pura2 diam sebentar pasang wajah seolah berpikir keras menaksir harga:), lalu saya jawab:”wah saya beraninya cuman 70 ribu saja Pak”.”Sudah kau bayar saja 100 ribu, tapi harus sekali angkat ya biar ku kasih surat jalannya” katanya.”Okelah pak sebentar saya panggil mobil dan duitnya” kata saya.

Lalu saya bergegas lagi keluar dari kawasan itu dan kembali ke “apartemen” kami untuk mengambil ATM mamaknya si Butet.Setelah itu saya segera ke atm Bank Mandiri di depan Planet Holiday Hotel.Dari atm saya ambil modal 200 ribu saja dan sekilas saya lihat saldo yang tersisa sekitar 380 juta…he…he:-).
dari atm saya langsung ke pangkalan mobil pick-up terbuka di dekat pasar Tanjung Pantun untuk nge-rental mobil mengangkut kertas2 itu.Saya tawar menawar dengan supir pick-up akhirnya kami sepakat 100 ribu untuk mengangkat kertas dari Harbour Bay ke arah Batam Centre.Lalu motor saya tinggalkan disitu dan saya ikut naik pick up itu ke Harbour Bay.Setiba disana langsung pembayaran kertas itu saya kasihkan 100 ribu , lalu kami memuat semua kertas2 itu ke bak mobil sambil ngos2an, beberapa kilo besi juga ikut kami masukkan dan tak lupa kami menerima surat jalan sebagai tanda bahwa transaksi sdh deal, sah dan kamipun bergegas keluar seraya mengucap horas, kamsiah, mauliate dan trima kasih:-)

Karena saya tak punya guang untuk menyimpan maka rencana kertas hvs itu akan langsung saya jual ke toke/pengepresan kardus/kertas disebuah lokasi di Batam Centre yang tidak perlu disebutkan namanya:-).Sepanjang perjalanan saya mengobrol dengan supir itu tentang sulitnya hidup kami di pasaran di Batam terutama beberapa tahun terakhir ini.Tak terasa kami sudah sampai di gudang pengepresan kardus.Lalu saya bergegas menurunkan tumpukan kertas itu dan menghamparkannya di lantai untuk saya sortir dulu sebelum ditimbang.Setelah selesai menurunkan kertas saya masuk ke office untuk meminjam uang untuk membayar si supir.Saya pinjam 20 ribu untuk tambahan yang 100 ribu yg masih ada di kantong saya.Lalu saya berikan 120 ribu ke si supir seraya mengucap terima kasih.Yang 20 ribu adalah bonus untuk dia–“supaya terkesan saya ini seorang pemulung yang pergaulan dan wawasannya luas dan berjiwa sosial tinggi:-)”–“Siapa tau taun 2014 saya mau nyalon jadi caleg , sehingga
basis massa di kalangan grass rootharus mulai dibangun mulai sejak dini “begitu kata hati saya…ha…ha…ha…:)
Masak jadi pemulung terus sih, ya gak fren?:)

Sesudah si supir pergi saya kerja sendirian selama hampir 1 jam lebih untuk mensortir tumpukan kertas dokument itu.Yang kertas HVS putih saya masukkan ke goni plastik jumbo dan yang lain ke goni yang lain.Yang HVS harganya 1900 perkilo sementara yang campur hanya 500 rupiah saja.Karena mengingat harga HVS yang tinggi saya kerahkan segenap tenaga saya dengan maksimal untuk mensortir kertas itu secepat mungkin.Saya sampai ngos-ngosan…maklum aja namanya juga pemulung berusia paruh baya yang 2 malam sebelumnya tenaga saya sudah diserap oleh mamak-nya si Butet….ha….ha…….ha…ha

Akhirnya pensortiran selesai dalam 1 jam lebih sedikit.
Ternyata setelah ditimbang yang HVS beratnya 217 kilo an dan yang kertas campur sekitar 75 kilo.Total uang yang saya terima(dengan penjualan sedikit besi) sekitar 450 ribu.Hati saya lega karena berarti tidak rugi dan ada sedikit untung(sekitar 200 ribu).Menurut ukuran pemulung itu untung yang sedikit dalam membeli barang dengan sistim borongan.Maunya tuh beli 100 ribu tapi untungnya 800 ribu bersih….ha…ha

Tapi tak apalah syukuri saja apa adanya..begitu kata hati saya.Toh saya tidak terlalu meleset dalam menaksir barang dan juga saya sudah bisa memberi kerja/sewa kepada pemilik mobil pick-up.Sehingga dalam kerja hari itu tahbisan kepemulungan saya sdh berdampak pada minimal 4 orang yaitu pemilik barang di Harbour Bay, pemilik mobil pick up, saya sendiri dan toke pengepresan kardus.Lalu saya bergegas pulang dengan memakai angkot untuk menjemput motor butut saya…

Di sepanjang perjalanan saya membayangkan betapa senangnya nanti mamaknya si Butet menerima uang setoran yang 200 ribu hasil kerja hari ini.Maklum aja namanya juga isteri pemulung–yang dia butuhkan adalah duit untuk biaya belanja kami sehari2, kalau kebahagiaan itu sudah pasti:).Ya gitulah namanya juga potret keluarga pemulung yang bahagia tapi belum sejahtera…pulang dimarahi tak pulang dicari:)
Demikian sekedar kisah seorang insan:)
Salam Go Green dari Batam:)

written by: siregar, erwin
Pulau Batam

Jum’at 14 Oktober 2011
Pkl 15:37 Wib

Original published by:erwin siregar limited press
to influence the cities to impact the nations:)


Actions

Information

One response

31 01 2012
dirga

mas erwin, tulisannya menyentuh,salut saya membacanya. kapan2 nulis lagi. salam saya dirgantara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: