Nyaman Tapi Aman

9 10 2011

Masih ingat saat peraturan menggunakan sabuk pengaman disosialisasikan? Banyak orang menggerutu karena dendanya besar. Walau misuh-misuh akhirnya sekarang mau tidak mau, suka tidak suka, toh secara otomatis siapapun duduk di depan pasti memasang sabuk pengaman. Memang tidak nyaman pakai sabuk pengaman, tapi demi keamananlah sabuk pengaman itu dirancang dan dipasang didalam mobil. Tentu semua karena hasil penelitian dimana banyaknya korban kecelakaan mobil itu pada umumnya duduk didepan. Demikian pula kebiasaan berdoa setiap pagi dan setiap sebelum bepergian selalu dibiasakan di rumah. Berdoa dulu, pakai sabuk pengaman baru berangkat. Berdoa untuk orang-rang yang kita temui, kita tinggalkan dirumah dan apapun yang kita lakukan agar tetap memuliakan Tuhan.

Kejadian pagi ini membuat saya bersyukur memiliki dua kebiasaan tersebut, berdoa dan pakai sabuk pengaman. Pagi-pagi saya bangun dan bersiap-siap berangkat ke gereja. Bukan untuk mengikuti misa, tetapi untuk memberikan pembekalan bagi para anggota Dewan Paroki yang baru terpilih untuk periode 2011-2014. Semua pengurus lingkungan, pengurus seksi dan pengurus harian wajib mengikuti pembekalan yang diadakan 3 minggu berturut-turut sebelum dilantik pada bulan November nanti. Pembekalan ini dinilai penting agar seluruh pelayan paroki SPMR memahami Arah Dasar KAJ, reksa pastoral paroki, cara menyusun proposal dan laporan kegiatan sampai dengan hal-hal praktis persiapan sakramen-sakramen, tata cara ibadat dan pengenalan fasilitas paroki. Selain itu masih akan ada rekoleksi awal sebelum mulai bertugas. Semoga ini menjadi tradisi baru agar para pengurus semakin profesional dan memiliki hati dalam melayani umat.

Biasanya memang suami yang mengantarkan tetapi kali ini saya pergi sendiri karena suami sudah berangkat gowes. Berhubung acara pembekalan sampai sore, kami sekeluarga baru akan mengikuti Misa sore hari nanti. Setelah selesai berdoa, saya memasang sabuk pengaman dan meluncur ke gereja. Sengaja berangkat jam 8 agar sempat mampir untk foto copy bahan serta agar masih dapat tempat parkir di bagian strategis mengingat saya akan berada di gereja sampai sore. Sampai di gereja rupanya misa pertama baru selesai, dan saya bersiap mencari tempat parkir. Sambil menunggu antrian mobil didepan saya, saya  berhentikan mobil dan injak rem. Oh ya mobil saya volvo dengan persneling otomatis. Jadi kalau berhenti biasanya saya pasang persneling di N (netral) atau P kalau parkir.

Bruuug! Praang…. Tiba-tiba mobil saya ditabrak dari belakang. Tentu saja saya kaget, mobil berhenti lampu rem saya menyala, kok ya ditubruk? Wah kesel hati juga karena merusak suasana nih, sudah mau memberikan session kok ada yang bikin kesel hati. Jangan marah, jangan marah, tarik nafas dalam-dalam. Lewat kaca spion saya lihat sebuah sedan biru dengan pengemudi perempuan rupanya yang menabrak mobil saya.  Akhirnya saya turun dari mobil memeriksa bumper belakang mobil saya.Tidak penyok sama sekali, bumper volvo aman terbuat dari baja. Hanya baret-baret karet luarnya, tidak ada yang penyok. Sementara lampu mobil ibu itu hancur dan bumpernya penyok juga.

Saya tanyakan “Ada apa bu, mobil saya berhenti lampu remnya menyala kok masih ditabrak? Apa mobil ibu remnya blong?” Rupanya si ibu ini mengobrol dengan anaknya, mengambil barang dan tidak melihat ke depan bahwa ada mobil saya berhenti. Tentu saja fatal akibatnya. Mobilnya meluncur mencium bumper mobil saya. Kesel rasa hati ini mendengar penjelasan si ibu muda, kok ya teledor banget. Bagaimana bila yang ditabrak pejalan kaki? Nyawa orang lain jadi korban ketidakhati-hatian seorang pengemudi.

Tadinya saya mau menegur ibu ini karena keteledorannya, tapi tiba-tiba anak lelakinya, mungkin sekitar 7 tahun, turun dari kursi depan  dan menghampiri kami berdua. Hati saya langsung luruh, duuh … Puji Tuhan anak ini selamat. Dengan spontan saya raih rambutnya dan saya tanyakan “Kamu gak apa-apa kan? Gak kejedug kaca?” Sambil tersenyum ia menggeleng, nggak tante aku gak apa-apa, kan pakai seatbelt. Syukur pada Tuhan. Saya rasakan tabrakan tadi cukup keras sehingga kepala saya terantuk pada senderan kepala di kursi. Bisa dibayangkan kalau anak ini tidak menggunakan sabuk pengaman, karena keteledoran ibunya, ia bisa terantuk dashboard ataupun kaca depan mobil.Memang tidak nyaman pakai sabuk pengaman, apalagi untuk anak-anak yang tidak bisa duduk diam, tetapi yang pasti aman buat mereka.

Rupanya ibu ini baru selesai misa pertama, tinggalnya di paroki tetangga. Biasanya anaknya ikut bina iman jam 9 tetapi karena ayahnya keluar kota dan ada acara mereka mengikuti misa pertama jam 7. Kejadian pagi ini membuat saya bersyukur, tabrakan tadi memang ringan tetapi mengingatkan saya pentingnya berdoa dan menggunakan sabuk pengaman senantiasa (walau duduk dibelakang sekalipun). Satu rahmat yang saya terima lagi, saya dapat kenalan baru apalagi dapat nomor HP…. siapa tahu ibu ini yang katanya lebih sering ikut misa di Blok Q bisa jadi pengurus di paroki saya pada periode berikutnya kan?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: