Ketekunan – Kebiasaan – Kebisaan

17 09 2011

“Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Kali ini Yesus berbicara soal keteguhan iman. Iman yang teguh ibarat benih yang jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah seratus kali lipat. Untuk bisa menghasilkan buah yang berlipat-lipat itu diperlukan benih yang baik dan juga tanah yang baik. Firman Allah adalah benih yang baik, tidak perlu lagi dipertanyakan. Yang perlu dipertanyakan adalah kualitas dari tanahnya, apakah berbatu-batu, dipenuhi semak duri, ataukah merupakan tanah yang subur.

Tanah yang baik adalah tanah yang dapat memberikan zat-zat makanan dan air yang diperlukan bagi tumbuhan. Energi yang dibutuhkan pada pertumbuhan didapat dari proses fotosistesis. Fotosistesis terjadi jika sel-sel tumbuhan memiliki pigmen yang oleh energi dari sinar matahari akan berubah menjadi glukosa sebagai sumber energi pertumbuhan. Proses pertumbuhan tidak terjadi seketika, melainkan melalui suatu proses yang panjang, bisa berminggu-minggu dan bahkan bertahun-tahun. Selain pertumbuhan, juga akan dihasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh manusia dan hewan.

Diperlukan ketekunan agar firman Allah tetap berada di dalam hati kita. Firman Allah tidak tumbuh dengan sendirinya pada diri kita, seperti halnya tumbuhan yang memerlukan zat-zat makanan dan intensitas cahaya yang cukup. Hal yang terpenting adalah ketekunan.
Musuh ketekunan adalah rasa bosan dan degradasi iman. Motivasi yang kuat mampu memelihara ketekunan itu.
Ketekunan dalam pertumbuhan iman akan menghasilkan iman yang teguh dan keteguhan iman akan mampu melawan semak duri yang bisa mengganggu pertumbuhan iman. Ketekunan memerlukan kebiasaan dan kebiasaan akan menghasilkan kebisaan.

Pada saat awal saya memutuskan untuk membuat renungan setiap pagi, saya hanya berbekal motivasi saja. Sangat sulit menulis sesuatu yang saya sendiri tidak bisa. Lambat laun akhirnya menjadi kebiasaan, terlebih lagi saya memperoleh banyak dukungan yang sangat meneguhkan.
Iman yang teguh ibarat rumah yang dibangun di atas fondasi yang kokoh, tak mudah diterpa badai. Mungkin Tuhan belum membayar upah untuk saya, tetapi apalah perdulinya?

Motivasi saya bukan untuk mendapatkan upah, melainkan ingin berbenah diri agar menjadi lebih baik, itu karena saya memang menginginkannya. Perbaikan pada diri sendiri sudah merupakan upah besar bagi saya. (Sandy Kusuma)

====================================================================================================

Bacaan Injil, Luk 8:4-15
Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.
Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: