Kisah Martir: John Fisher & Thomas More

22 06 2011

John Fisher adalah manusia yang berprinsip yang pernah menggambarkan diri sebagai “Profesor Kebenaran”. Pada suatu saat ketika standar studi teologi di antara Uskup amat rendah, Fisher menjadi seorang doktor teologi dan dipilih menjadi ketua penanggungjawab Universitas Cambridge, kedudukan bergengsi yang dipegangnya sampai meninggalnya. Pada tahun yang sama Raja Henry VIII menunjuknya sebagai Uskup Rochester Ketika itu ia masih muda, dalam usia 35 tahun, namun menurut kata-kata duta besar Kaisar Charles V untuk Inggris, merupakan “teladan Uskup-Uskup Kristiani dalam hal keilmuan dan kesucian” dan terutama Fisher dianugerahi kharisma Injili keberanian, yang akan ditunjukkan dalam sejarah selanjutnya.

Raja Henry memiliki pemikiran yang metodis, cerdas, dan sistematis. Ia membeberkan masalahnya sebagai kasus orang yang terganggu oleh skrupel-skrupel keagamaan. Ia sungguh tidak dapat memahami bagaimana, sesudah nikahnya yang bertahun-tahun lamanya, Allah tidak menganugerahkan kepada dirinya pewaris laki-laki. Ia menemukan penjelasannya pada teks Kitab Imamat 20:21. “Bila seorang laki-laki mengambil isteri saudaranya, itu suatu kecemaran, karena ia melanggar hal saudaranya laki-laki dan mereka tidak akan beranak” Itulah yang persis terjadi padanya. Ketiadaan pewaris laki-laki merupakan pertanda jelas atas ketidakberkenanan Allah terhadap pernikahannya dengan Catherine, yang masih ada ikatan saudara dengannya.

Satu-satunya pengecualian dalam keruntuhan itu justru John Fisher, Uskup Rochester. Pada tahun 1529, banyak Uskup cenderung bersikap menunggu dengan menyatakan bahwa situasinya amat sangat kacau membingungkan dan kebenaran untuk menangani masalah pertama perkawinan Raja belum menentu. Pada waktu itulah Uskup Fisher menyatakan dengan jelas dan tegas. “Saya adalah profesor kebenaran. Saya tahu Allah kebenaran sendiri, yang berkata: “Apa yang sudah dipersatukan oleh Allah janganlah dipisahkan oleh manusia…” (Mat 10:9) Dan sejauh perkawinan ini dibuat dan disatukan oleh Allah untuk maksud baik, saya mengatakan bahwa saya mengetahui kebenaran, yang tiidak dapat dilanggar atau diceraikan oleh kekuasaan manusia.

Perlawanan yang gigih itu sesungguhnya membahayakan hidup Fisher. Sebelumnya ia pernah menjalani hukuman penjara dalam waktu pendek. Sekurang-kurangnya satu kali seseorang tak dikenal telah mencoba meracuninya, tetapi gagal. Pada kesempatan lain seseorang telah menembakkan peluru senapannya ke jendela perpustakaannya dari seberang sungai. Meski demikian, Fisher tidak mengubah pendapatnya dan dengan tekun tetap menulis, berkotbah dan memprotes maksud Raja untuk menikah lai. Ia memang menempuh jalan yang berbahaya.

Pada tanggal 13 April 1535 untuk pertama kali Fisher menolak untuk menerima Undang-undang Supermasi, dan karena itu ia dibawa ke penjara. Beberapa minggu kemudian ada usaha kedua untuk membuatnya menjadi manusia yang “berakal sehat” seperti Uskup-uskup lain. Usaha kedua itu ditolaknya juga. Kemudian Raja mengutus beberapa Uskup untuk mengunjunginya di Menoza, entah seorang diri atau berkelompok. Tujuannya sama untuk mematahkan perlawanannya, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya. Maka Raja memutuskan untuk mencoba kartu trufnya dan mengirimkan Sekretaris Negaranya, Cromwell yang perkasa, disertai sejumlah anggota dewan. Seluruh kelompok mendatanginya dua kali dengan negatif yang sama: Uskup tetap teguh dalam penolakannya untuk membubuhkan tanda tangan. Kemudian, karena usaha-usaha itu tidak berhasil, diambil bentuk intimidasi yang lembut: ia mendengar (atau malah melihat sendiri dari kamar atasnya di Menara) sekelompok biarawan Kartusian telah dihukum mati karena menolak untuk tunduk. Pelaksanaan hukuman itu dijadikan tanda peringatan bagi Fisher bahwa akhir hidup yang sama menunggu dirinya, jika ia terus bertahan pada sikap negatifnya.

Pada waktu itulah ada berita sampai London bahwa Paus mengangkat Fisher menjadi Kardinal. Raja memandang hal itu sebagai perlawanan pribadi dan dengan ketus berkata: “Baik, biarlah Paus mengirimkan sebuah topi kepadanya jika ia mau; tetapi saya juga akan berusaha sedemikian rupa sehingga bila topi itu tiba, ia akan mengenakan pada bahunya, karena sudah tak ada lagi kepala untuk dikenakan topi.” Tetapi pada akhirnya Raja Henry reda dan memutuskan untuk melakukan percobaan terakhir. Fisher telah memohon kepada Raja melalui Cromwell agr mengambilnya dari Menara dan membebaskannya. Raja menjawab dengan mengirimkan lagi anggota-anggota dewan untuk mengancamnya secara terbuka dengan hukuman mati bila ia menolak. Fisher tetap tak tergoyahkan.

Pengadilan dimulai. Dua belas orang disumpah untuk memutuskan apakah orang terhukum, Fisher, bersalah pengkhianatan tinggi atau tidak. Saksi utama, Jaksa Agung sendiri, yang telah melakukan tipu daya sehingga Fisher membuat pengakuan terus terang, maju ke depan dan mengatakan bahwa dirinya sendiri sudah mendengar dari Uskup kata-kata yang tidak dapat diragu-ragukan lagi di Menara pada tanggal 7 Mei. Setelah mendengar kesaksian yang memberatkan dari satu-satunya saksi, hakim-hakim berkumpul untuk membuat pertimbangan antar mereka dan pada akhirnya sampai keputusan. tetapi sebelum sampai keputusan, Hakim Agung menegaskan kepada hakim-hakim keputusan pengadilan yang diharapkan dengan ancaman hukuman berat atau perampasan harta milik. Untuk menciptakan kesan baik, hakim mengambil waktu untuk sampai pada keputusan, dan pada akhirnya mengadakan pertimbangan kembali dan menyatakan bahwa, menurut pendapatnya, si terhukum, Fisher, dinyatakan bersalah karena pengkhianatan.

Waktunya pukul 10 pagi. Algojo siap melaksanakan tugasnya, sebagaimana biasa, berlutut di depan Fisher dan mohon pengampunannya. “Saya mengampunimu sepenuh hati”, jawab Fisher. Kemudian pakaian dan kain lehernya diambil, “dan dia berdiri dengan pakaian dalam dan kaos kaki, di hadapan pandangan semua orang. Tampaklah tubuh tinggi, ramping dan kurus, dan tak ada cukup daging sehingga tinggal kulit dan tulang-belulang. Ia tampak seperti gambar sang maut. Ketika Kardinal sampai ke tempat penggantungan, ia berbicara kepada umat yang menyaksikannya: “Umat Kristiani semua, saya datang ke sini untuk mati demi iman Gereja Katolik Kudus Yesus Kristus…. Dan saya memohon kepada Allah Mahakuasa dalam kebaikan-Nya yang tidak terbatas agar menyelamatkan Raja dan Kerajaannya.”

Kemudian Fisher berlutut mendoakan Te Deum, madah syukur penuh gembira, dan algojo menutup matanya dengan kain. Ia masih mengucapkan beberapa doa dan kemudian “ia menundukkan kepalanya di tengah kotak kecil tempat pemancungan kepala, dan algojo yang siap dengan kapak yang berat dan tajam, dengan satu tebasan memotong lehernya yang jenjang memisahkan kepalanya dari tubuhnya dan darahnya mengalir deras sedemikian banyak sehingga banyak orang terheran-heran bagaimana mungkin sedemikian banyak darah keluar dari tubuh yang ramping dan kurus itu. ” Yohanes Pembaptis baru dipenggal kepalanya dan meninggal.

Seperti terjadi pada Yohanes Pembaptis, saat terbesar dari hidup Fisher adalah kematiannya, karena kematiannya yang di atas segala-galanya menunjukkan kebesaran manusia. Dua hal yang mengesan bagi saya dalam kisah kemartirannya: keberaniannya yang tak dapat dipercaya dan mengagumkan dalam menaati suara hatinya dan menolak untk mengucap sumpah, dan kegembiraan batinnya. Menurut Perjanjian Baru, keberanian dan kegembiraan, terutama jika terjadi bersama-sama, merupakan tanda pasti dari Roh Kudus dalam diri manusia. Yohanes tegar dan orang yang berbahagia. Kata-kata Yeremia 1:18-19 yang secara tepat diterapkan oleh Yohanes Pembaptis dalam Liturgi Gereja, amat cocok juga diterapkan pada Fisher: Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau….” Dengan demikian, Allah menyertai Fisher. Dan John Fisher berdiri teguh seperti menara kekuatan di tengah-tengah keruntuhan massal.

Peristiwa Fisher jelas merupakan kemartiran, namun baru empat abad kemudian Gereja mengkanonisasi Fisher. ia diangkat ke atas altar baru pada bulan Mei 1935, pada peringatan 4 abad kematiannya. Pada tanggal 22 Juni seluruh Gereja bergembira mengenak keberanian dua martir Inggris, John Fisher dan Thomas More, Kardinal dan bapak keluarga, kedua-duanya dipersatukan secara tidak dapat dipisahkan dalam kesaksian darah mereka yang unggul.

Sumber: Novena IV St Antonius – Purbayan, Surakarta


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: