Hati Yang Berkobar-kobar

8 05 2011

Emaus “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Kalau kita akan bertemu dengan orang yang kita cintai, yang ditunggu-tunggu kehadirannya, jantung berdegup kencang. Hati berdebar-debar, bahkan saat bertemu pun penuh dengan luapan sukacita yang membuat kita semakin bersemangat berlama-lama dengannya. Apalagi seperti saya, rata-rata perempuan tidak bisa menyembunyikan perasaannya bila menunggu dan bertemu si jantung hati. Masih ingat saat-saat baru jadian, saat jadi pengantin baru, saat kelahiran anak, semua momen ini membuat jantung berdegup.

Pertanyaannya apakah setelah puluhan tahun berjalan , masih adakah rasa ‘deg-degan’ dengan si jantung hati tadi? Karenanya kita harus terus menerus memelihara dan mengusahakan agar cinta tidak kembali dingin dihantam rutinitas keseharian. Mungkin kita perlu perhatikan ritme detak jantung kita sebagai warning signal, tidak hanya untuk kesehatan fisik tapi juga kesehatan cinta dan iman kita. Biarlah jangan ada dusta diantara kita…

Demikian halnya yang terjadi pada kedua murid Yesus, yang dikatakan ‘So Slow‘ bahkan ‘foolish’ – bukan hanya stupid lho! Mereka sudah mendengar bahwa Yesus bangkit, tidak hanya dari para Maria – Maria yang menjadi saksi di makam yang kosong, juga dari Rasul Petrus. Bukannya menjadi percaya, mereka berdua malah mudik ke Emaus! Yesus turun tangan sendiri menyapa dan menggiring mereka kembali ke Yerusalem.

Banyak hal telah ‘membutakan’ dua murid ini sehingga tidak mengenali kehadiran Yesus, padahal sudah lebih dari 3 tahun mereka hidup bersama-sama Yesus. Banyak hal juga telah membutakan kita akan kehadiran Tuhan disekeliling kita sejak hari pembaptisan kita. Kesibukan dan kegiatan bagi keluarga, karir, kegiatan sosial dsb menghabiskan hari-hari kita. Kita pun telah banyak mendengar kesaksian melalui ucapan syukur dalam intensi Misa dari mereka yang doanya dijawab Tuhan. Tapi tetap juga kita tidak percaya, dan bertahan pada pemahaman kita sendiri. Mungkin kita pikir Tuhan terlalu sibuk, dan belum saatnya Tuhan memperhatikan kita.

Baru setelah Yesus mengadakan perjamuan makan dan memecahkan roti, mereka mengenali kehadiran Yesus. Hati yang berdebar-debar adalah tanda bahwa mereka masih memiliki relasi akrab dengan Yesus. Kapan terakhir kali kita berdebar-debar saat bertemu Tuhan Yesus, saat Dia menyapa kita, memanggil nama kita? Saat menerima hosti? Saat mendengarkan dan membaca Kitab Suci? Saat berada dalam kamar pengakuan? Kalau kehadiran Yesus lewat Sakramen, lewat SabdaNya tidak lagi membuat hati kita berdebar-debar, jangan-jangan cinta kita pada Tuhan sudah mulai dingin. Jangan-jangan kita sudah melangkah terlalu jauh dari rencanaNya, diam-diam ikut melenceng ke Emaus. Padahal Tuhan ingin membawa kita kembali ke Jerusalem sesuai dengan janjiNya.

Sama halnya kita perlu menjaga relasi dengan meluangkan waktu khusus dengan pasangan kita agar cinta selalu membara sampai maut memisahkan kita. Marilah kita pelihara relasi kita dengan semakin sering menyambut TubuhNya dan menikmati SabdaNya. Syukuri setiap saat atas kehadiranNya. Sehingga setiap perjumpaan kita denganNya membuat hati berkobar-kobar senantiasa.

===============================================================================================

Bacaan Injil, Luk 24:13-35
Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
Yesus berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: “Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?”
Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”
Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?”
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”
Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: