Pastor Yahudi

29 04 2011

Kisah yang inspirasional ini muncul di koran San Francisco Examiner pada tanggal 10 Oktober 1999. Seorang imam Katolik di Polandia yang belakangan hari menemukan bahwa ia ternyata adalah seorang Yahudi. Ia menjadi seorang imam, dan tanpa disadari telah memenuhi nubuat yang diucapkan ibunya ketika ia masih bayi dan diserahkan kepada seorang wanita Polandia untuk dipelihara dan diselamatkan dari bencana Holocaust.

Kisah ini adalah sebuah contoh yang bagus tentang nubuat-nubuat yang terus terjadi di sekitar kita dan terutama untuk mengingatkan kita akan kewajiban sebagai umat Kristen untuk mengasihi sesama kita, bahkan dengan taruhan nyawa. FYI Koran Examiner bukanlah koran yang pro Gereja Katolik. (Kiriman dr Andry)

Lublin, Polandia, 1999.
Sang imam berjalan dengan keheningan melewati galian-galian dimana beribu-ribu orang di eksekusi oleh Nazy, krematorium yang disebut-sebut digunakan untuk membakar seribu mayat perharinya, dan kamar gas yang sedang dikunjungi oleh sejumlah anak-anak sekolah dari Israel.

Sosok tubuhnya lumayan tinggi, berambut gelap. Sang anak-anak Israel, beberapa diantaranya tubuhnya dibaluti oleh bendera kebangsaan Israel, memperhatikan sang imam dengan seksama. Beberapa menunjukkan sikap bermusuhan, bahkan kemarahan. Yang lain-lainnya penuh rasa ingin tahu, seolah-olah imam Katolik ini adalah seorang yang mereka kenal.
Sang imam Polandia tidak merasa nyaman, disini di tempat bekas perkampungan konsentrasi Nazi di Majdanek, dikelilingi oleh orang-orang Israel. Sungguh dia tergoda untuk bicara. Tetapi kisahnya sangat rumit, dan mungkin mereka tidak akan mempercayainya. “Melihat anak-anak dari Israel ini, ” akhirnya dia berkata, “saya ingin mendekati mereka dan berkata, ‘saya punya penderitaan yang sama seperti yang kamu rasakan.'”

Namanya adalah Romuald-Jakub Weksler-Waszkinel. Dia adalah seorang imam dan guru di Universitas Katolik Lublin. Dia juga – seperti baru diketahuinya setelah dewasa – adalah seorang Yahudi.

Kini dia percaya bahwa ibunya, yang tidak pernah dikenalnya, terbunuh di Majdanek pada tahun 1943. Dia menyebut abu di tempat krematorium tersebut sebagai “makam ibu saya”.

Perlu waktu berpuluh-puluh tahun untuk mencapai titik ini, bertahun-tahun keragu-raguan yang berulang muncul dan konfrontasi. Seperti banyak orang yang lahir sebagai generasi yang punah di Eropa tengah, Weksler-Waszkinel terperangkap dalam dua jepit kediktatoran yang tidak kenal ampun: Nazi dan komunisme. Yang tertinggal adalah potongan-potongan kisah kehidupan.

Sekarang, sepuluh tahun setelah runtuhnya blok Soviet, sang imam merasa puas bahwa ia berhasil merangkai kembali potongan-potongan kisah ini menjadi mirip sebuah kebenaran. Hidupnya – seperti hilangnya kehadiran kaum Yahudi di banyak kota di Polandia – telah merangkak keluar dari bayangan komunisme.

“Komunisme menyembunyikan banyak hal,” kata Henryk Lewandoski, seorang anggota organisasi Children of Holocaust, sebuah grup yang dibentuk di Warsawa pada tahun 1990 setelah berakhirnya kekuasaan komunis dan sikap anti-Yahudi yang kadang dijalankannya. “Kami mengetahui berlusin-lusin orang yang telah menemukan di beberapa tahun belakangan ini bahwa mereka sesungguhnya adalah orang-orang Yahudi.”

Persaingan Antara Korban

Tetapi posisi sang imam jauh dari nyaman. Orang Yahudi nyaris musnah dari Polandia, tiga juta orang Yahudi terbunuh oleh Nazi Jerman selama Perang Dunia 2. Tiga juta umat Katolik Polandia juga terbunuh.

Persamaan yang mengerikan ini turut menyumbang terhadap isu yang tampaknya tidak terpecahkan: persaingan antara korban, tingkat kerjasama orang Polandia terhadap pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Nazi, atau apakah identitas Polandia sebagai negara Katolik atau multi-etnis.

Sehingga Weksler-Waszkinel kadang-kadang berusaha menjembatani hal yang tidak dapat dijembatani. “Kami sekarang adalah negara bebas, dan kami harus membersihkan segala kekotoran,” begitu katanya. “Terlalu banyak orang yang masih percaya pada stereotip Yahudi sebagai musuh Polandia, membayar secara politis. Terlalu sedikit yang menemukan tempat bagi dosa perang Polandia.”

Apa yang tampak jelas adalah bahwa hidup sang imam menyerupai perumpamaan modern, yang menggambarkan kebenaran yang bermacam-macam atas Polandia, kebenaran-kebenaran yang menutupi slogan-slogan yang berpolarisasi.

Dia adalah putera seorang Katolik Polandia yang baik yang bernama Waszkinel. Ayahnya, Piotr, adalah pandai besi. Ibunya, Emilia, memanjakan dia. Ini adalah fakta-fakta yang tidak terbantahkan sewaktu dia tumbuh besar.

Setelah perang, keluarga itu tinggal di Paslek, sebuah kota di bagian Timur Polandia. Memang, sepasang pemabuk pernah meneriakkan “Yahudi yatim-piatu” terhadapnya. Memang, kadang-kadang dia berusaha mencari kemiripan dirinya terhadap orang-tuanya. Tetapi ini cuma hal-hal kecil dalam kehidupan yang umumnya berjalan mulus.

Rasa Bersalah dan Duka-cita

Sang anak lelaki menyukai pesta-pesta, gadis dan akordion. Sehingga ketika pada umur 17 tahun dia memberitahu Piotr dan Emilia tentang keinginannya untuk menjadi seorang imam, mereka sungguh ragu-ragu. Sang ayah memohon kepadanya untuk mengurungkan niatnya.

Di seminari, pada minggu-minggu pertama memang muncul keraguan. Piotr datang mengunjunginya, membawanya ke kapel, dan menangis tersedu-sedu. Beberapa minggu kemudian, dia meninggal karena serangan jantung.

Iman sang calon imam-pun goncang. Dia merasa bersalah dan berduka-cita atas kematian lelaki yang selalu dikenalnya sebagai ayahnya tersebut. Tetapi lantas kemudian sebuah keyakinan yang kuat berkembang: “Jika ayah saya takut saya menjadi seorang imam yang buruk, terserah saya untuk membuktikan bahwa saya bisa menjadi imam yang baik. Keputusan saya menjadi tidak dapat ditarik kembali.”

Kesulitan-kesulitan lainnya muncul. “Perasaan saya makin terbelah,” kata sang imam. “Gereja dulu mengajarkan bahwa orang Yahudi membunuh Yesus. Saya tidak ingin menjadi salah satu dari gerombolan pembunuh. Sungguh mengerikan untuk memikirkan bahwa saya adalah orang Yahudi.”

Setelah dia membaca lebih banyak, dan bisa melihat bahwa ajaran-ajaran ini adalah penyelewengan dari ajaran Gereja Katolik yang sesungguhnya, rasa takutnyapun memudar. Dia memberitahu Emilia – wanita yang sekarang dipanggilnya sebagai “ibu Polandia saya” – bahwa dia merasakan suatu rahasia. Dia menyimak bahwa ketika dia membacakan tulisan tentang Yahudi kepada ibunya, Emilia yang buta huruf, mata ibunya sering berkaca-kaca.

“Mengapa ibu menangis? Apakah saya seorang Yahudi?” sang imam menanyakan ibunya pada tahun 1968, segera setelah dia pindah ke Lublin dan mulai belajar di Universitas Katolik. “Apakah saya kurang mengasihimu?” demikian jawab Emilia.

Meskipun ini bukan jawaban langsung, tapi terjawablah sudah. Dan demikianlah Weksler-Waszkinel mengerti tanpa mengetahui. Ketika dia menceritakan hal ini, matanya berkaca-kaca, masih terguncang, tampaknya, oleh kebohongan yang berlangsung lama, yang juga adalah faktor yang menyelamatkannya.

Akhirnya pada tahun 1978, ketika Emilia dirawat sebentar di rumah sakit karena kemungkinan kanker, sang imam menghampiri ibunya. “Saya mencium kedua tangannya,” dia berkata. “Saya berkata bahwa waktunya sudah tiba baginya untuk memberitahu saya.”

Emilia, akhirnya, memberitahu sang imam bahwa orang-tua kandung yang sesungguhnya adalah orang-orang yang baik hati yang mengasihi dia. Emilia menceritakan bahwa mereka adalah pasangan suami-istri Yahudi dan bahwa mereka telah dibunuh. Emilia mengatakan bahwa dia hanya ingin menyelamatkan si anak lelaki dari kematian yang sama.

Sebagian dari kisah tersebut lantas muncul. Sang anak lelaki dilahirkan pada tahun 1943 – tanggal tepatnya tidak diketahui – dari pasangan Yahudi di kota Stare Swieciany, dulu termasuk wilayah Polandia, tetapi sekarang dikenal sebagai Svencionys di Lithuania. Dia punya kakak lelaki. Ayahnya adalah penjahit terkenal. Ibunya, terperangkap di ghetto (perkampungan konsentrasi, khusus bagi orang Yahudi), mencoba menghubungi Emilia dan memohon kepadanya agar membawa sang bayi dan menyelamatkannya.

Emilia ragu-ragu. Tetapi kemudian ibu kandung sang imam yang adalah seorang Yahudi, mengatakan sesuatu yang sangat menentukan dan suatu nubuat yang mendirikan bulu roma yang tidak akan pernah dilupakan oleh Emilia sang ibu angkat: “Engkau adalah seorang Katolik yang taat. Engkau percaya kepada Yesus, yang adalah orang Yahudi. Maka dari itu cobalah selamatkan bayi Yahudi ini demi orang Yahudi yang engkau percayai. Dan suatu hari ia akan tumbuh besar menjadi seorang imam.”

Mendengar hal ini, Weksler-Waszkinel menjadi gemetar, karena dia telah memenuhi nubuat yang diucapkan ibundanya, seorang wanita yang tidak pernah dikenalnya. “Engkau harus mengasihi ibumu karena ia sangat bijaksana,” Emilia berkata kepadanya. “Kata-kata itu yang diucapkan oleh ibumu adalah kata-kata yang menyelamatkan jiwamu karena kata-kata itu yang telah meyakinkan kami untuk membawamu.”

Melacak Jejak Keluarganya

Tetapi apakah nama-nama kedua orangtuanya? Bagaimana cara mereka terbunuh? Bagaimana nasib kakak laki-lakinya? Emilia mengatakan bahwa dia sama sekali tidak mengetahui kelanjutannya. Dia dengan sengaja berusaha melupakan nama-nama tersebut karena dia sangat takut bahwa, dibawah penyiksaan, dia akan mengaku.

Sang imam memutuskan untuk tidak memberitahu siapapun – kecuali Sri Paus Yohanes Paulus II. Sebuah surat dukungan moral yang luar biasa diterimanya dari Sri Paus yang baru terpilih pada waktu itu, dialamatkan kepada “Saudaraku Yang Terkasih”. Surat tersebut menjelaskan bahwa sengsara sang imam adalah bagian dari sengsara salib, sebuah tanda kasih. Isi surat tersebut juga mendorong dia untuk tetap tabah.

Tetapi mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Yahudi, apakah Weksler-Waszkinel pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan kepastoran? “Tidak, saya tidak pernah punya keragu-raguan,” dia berkata. “Saya tahu bahwa Yesus telah menyelamatkan saya. Dia menemukan saya di ghetto. Dia adalah orang Yahudi yang paling saya bangga-banggakan”

Sisa detil keluarganya muncul bertahun-tahun kemudian, melalui bantuan seorang biarawati yang bernama Sister Klara Jaroszynksa. Sang imam pernah mendengarkan pengakuan dosanya dan mendorong sang biarawati untuk tidak takut terhadap hal apapun karena dia sendiri “telah diselamatkan lima menit menjelang tengah malam dan tiada sesuatupun dapat terjadi kepada seseorang yang ber-Tuhan.”

Sang biarawati, ternyata, telah menyelamatkan banyak orang Yahudi selama masa perang, dan ketika mendengar referensi tentang penyelamatan “lima menit menjelang tengah malam”, diapun mengerti. Dia datang menghadap sang imam sehari kemudian dan berkata singkat, “Engkau adalah seorang Yahudi!”

Surat-suratpun dilayangkan kepada orang-orang di Israel yang dikenal oleh sang biarawati. Tetapi baru di tahun 1992, tiga tahun setelah jatuhnya komunisme, biarawati tersebut bisa melakukan perjalanan kesana dan mengorganisasikan pertemuan antara para orang yang selamat dari Stare Swieciany.

Ketika seorang penjahit disebutkan, orang-orang yang selamat dari perang tersebut segera mengenalinya sebagai Jakub Weksler, yang dikenal oleh orang-orang sebagai “Jankel.” Istrinya – ibu kandung sang imam – bernama Batia.

Tampak Mirip Seperti Semua Orang

Weksler-Waszkinel segera melakukan perjalanan ke Israel. “Sepanjang hidup saya,” dia berkata sambil tertawa, “Saya telah mencari orang-orang yang mirip dengan saya, dan tiba-tiba semua orang tampak mirip.” Di lapangan terbang, dia disambut oleh Svi Weksler, saudara kandung ayahnya, yang telah kehilangan istrinya dan kedua putrinya pada Perang Dunia II tetapi berhasil menyelamatkan dirinya sendiri ke Russia dan bahkan selamat juga dari perkampungan konsentrasi Soviet.

Sungguh suatu reuni yang emosional. Sang imam mengetahui bahwa ayahnya nyaris bisa dipastikan telah ditembak mati pada tahun 1943 ketika ghetto tempat tinggalnya dikosongkan, dan ibundanya bersama kakak laki-lakinya, Samuel, dibawa ke Vilnius, Lithuania. Dari sana, mereka mungkin dipindahkan ke Majdanek di musim gugur 1943, dimana mereka dibunuh oleh Nazi. Samuel baru berumur 4 tahun.

“Paman saya, yang baru-baru ini telah meninggal dunia, sungguh tidak dapat mengerti mengapa saya tetap menjadi seorang imam Katolik,” Weksler-Waszkinel berkata. “Hal ini sungguh membuatnya sangat marah. Dia mengatakan bahwa saya telah menjadikan diri saya wakil dari 2000 tahun kebencian terhadap Yahudi.”

Sang imam berhenti sejenak, lantas menambahkan, “Tetapi saya tahu bahwa meskipun ada sementara orang-orang yang menyebut dirinya Kristen tetapi tega menjebloskan seorang ibu beserta puteranya ke dalam kamar gas, ada juga seorang wanita Katolik Polandia, yang membahayakan jiwanya sendiri demi menyelamatkan diri saya.”

Disadur dari koran San Francisco Examiner, edisi 10 Oktober 1999
Diterjemahkan oleh: Jeffry Komala  sumber: www. katolisitas.org


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: