Ibadah Tanpa Pamrih

4 04 2011

Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.”

Seorang teman yang menyatakan dirinya Atheis menyindir kami, “Saya tidak habis mengerti dengan sikap kalian yang terlihat demikian percaya dengan Tuhan ketika berdoa dan tekun dalam ritual agama, tetapi begitu ragu berbuat baik bagi sesama dan tidak bertanggung jawab dalam menjalani hidup, takut dan cenderung mencari jalan pintas, bahkan menghujat Tuhan yang kalian sembah disaat gagal. Saya tidak bertuhan, tetapi demikian yakin dan percaya dengan langkah pilihan dan jalan hidup ini, dan tidak pernah menghujat siapapun serta menghargai kehidupan dan manusia, karena yang bertanggung jawab akan akibatnya adalah saya sendiri.”

Kalimat tersebut itu diucapkan demikian gamblang dan menohok perasaan kami sebagai pengikut Kristus yang seharusnya tidak perlu takut dan menolak bertanggung jawab akan jalan hidup yang kita terima, apalagi dipercaya bahwa semua itu kehendak Ilahi dan telah berserah seutuhnya, tetapi kenyataannya relasi kita dengan Tuhan tidak lebih seperti pedagang kakilima dan pelanggannya saja, yaitu berdasarkan hubungan yang saling menguntungkan saja, bukan seperti relasi ayah dan anak yang saling melindungi, menghargai, menjaga, menghormati, bahkan kita selalu memaklumi kerugian atau akibat yang ditimbulkan oleh prilaku anak atau orang tua dan berbagi ketika untung, sebisa mungkin saling membela dan mencari solusi untuk terhindar dari masalah yang lebih besar jadi bukan semata-mata berdasar pertimbangan ekonomi.

Kita bisa saja mengelak dari sindiran diatas, dengan banyak alasan atau mengingat pelayanan yang telah kita lakukan terhadap Tuhan, tetapi coba kita sadari dan refleksikan lebih dalam, benarkah semua itu tanpa pamrih? Semoga saja tidak, karena tidak sedikit diantara kita yang berdoa kepada Tuhan karena sudah kehabisan solusi, rajin beribadat karena berharap Tuhan berbelas kasih atau melayani untuk keuntungan pribadi, kesenangan, pelarian atau bahkan untuk mencari kesibukan agar terlihat baik oleh sesama. Ingatlah, Tuhan tahu semua maksud hati kita yang mungkin bisa membohongi sesama, tetapi saat mengalami musibah atau bencana atas perbuatan tersebut, dapatkah kita bersyukur dan tidak berkata: “Tuhan tidak adil terhadapku.”

Saya tersadar akan bacaan diatas dan sindiran teman Atheis tersebut, yang ingin menyampaikan bahwa, jika kamu percaya akan Tuhan libatkanlah Dia sejak awal rencanamu, bahkan jauh sebelum kamu melangkah dan berbuat, hendaknya semua itu dengan selalu diiringi doa dan disertai rasa syukur. Tidak perlu mengeluh atau putus asa, karena ikhlas berserah adalah menerima segala akibat akan kehendakNya yang kita percaya itu, jangan mudah menghujat, menghakimi dan menimpakan kesalahan/kegagalan tersebut pada subjek lain, tetapi koreksi dulu dan refleksikan lebih jauh perbuatan kita dengan mengingat sindiran Yesus, “Siapa yang merasa dirinya tidak berdosa hendaknya melempar batu yang pertama” – Samsi Darmawan

==============================================================================================

Bacaan Injil Yohanes 4:43-54

Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.

Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”

Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.”

Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: