Semangkuk Mie

28 03 2011

Pada malam itu, Ina bertengkar  dengan  ibunya. Karena sangat marah,   Ina segera meninggalkan rumah  tanpa  membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru  menyadari bahwa ia sama  sekali tdk membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia  melewati sebuah kedai  bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin  sekali memesan  semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang. Pemilik  kedai melihat Ina  berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona,  apakah  engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
“Ya, tetapi, aku tdk membawa  uang” jawab Ina  dengan malu-malu.
“Tidak apa-apa, aku akan  mentraktirmu,” jawab  si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan  bakmi  untukmu.”

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan   semangkuk bakmi. Ina segera makan beberapa suap, kemudian air matanya  mulai  berlinang. “Ada apa nona?” tanya si  pemilik kedai.
“Tidak apa-apa,” aku hanya terharu jawab Ina sambil   mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi  aku  semangkuk bakmi,  tetapi,  ibuku sendiri, setelah bertengkar  denganku,  mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan  kembali lagi ke  rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu  peduli denganku  dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri,” katanya  kepada pemilik  kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ina, menarik  nafas  panjang dan berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti itu?
Renungkanlah hal  ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu  terharu. Ibumu telah  memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai  saat ini, mengapa kau  tidak berterima kasih kepadanya?  Dan kau malah  bertengkar dengannya?”

Ina, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk  berpikir ttg hal tsb? Utk  semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku  begitu berterima kasih, tetapi  kepada ibuku yg memasak untukku selama  bertahun-tahun, aku bahkan tidak  memperlihatkan kepedulianku kepadanya.  Dan hanya karena persoalan sepele,  aku bertengkar dengannya.”
Ina, segera menghabiskan bakminya, lalu ia  menguatkan  dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke  rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs  diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya  dengan  wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ina, kalimat pertama yang   keluar dari mulutnya adalah “Ina  kau sudah pulang, cepat masuklah,  aku telah menyiapkan makan malam dan  makanlah dahulu sebelum kau tidur,  makanan akan menjadi dingin jika kau tdk  memakannya sekarang”. Pada  saat itu Ina tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat  berterima kasih  kpd org lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil  yang diberikan  kepada
kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita  (keluarga),  khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima  kasih
kepada mereka seumur hidup kita.


Actions

Information

One response

1 04 2011
antoniuspandu

Terima kasih atas tulisannya yang begitu menyentuh. Membuat saya sadar untuk lebih banyak bersyukur atas cinta orang tua kepada saya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: