Waras Yang Tidak Waras

22 01 2011

“Orang-orang mengatakan Yesus tidak waras lagi.”

Soal standar waras dan tidak waras kelihatannya relatif, bisa berbeda antar masing-masing pribadi. Waras menurut saya belum tentu waras menurut orang lain. Saat saya memutuskan mengundurkan diri dari dunia kerja menjadi ‘jobless’, semua orang bilang saya tidak waras. Sudah dapat posisi bagus, gaji baik, fasilitas oke, bisa keluar negeri dibayar kantor, punya network bagus kok malah memlih jadi ‘ibu RT’. Padahal waktu menjadi ibu RT saya tidak pernah menyesali pilihan saya. Saya bisa menikmati keseharian dengan menemani bapak yang semakin lanjut dan menderita  parkinson sampai akhir hayatnya.  Hari-hari bersamanya tidak tergantikan dengan uang, fasilitas dan jabatan. Akhirnya orang memahami pilihan yang saya ambil.

Saat saya masuk ke dunia politik, sama juga dibilang tidak waras oleh keluarga besar.  Tentu saja mereka bermaksud baik untuk melindungi saya, tidak ingin saya ‘tercemar’ dengan berbagai virus yang ada disana. Akhirnya setelah sekian lama semakin parahnya dunia politik, melalui berbagai cara yang jelas komunikasi yag semakin intens, akhirnya keluarga dapat memahami  bahkan mendukung agar tetap berpijak pada kesejahteraan rakyat. Siapa sih yang tidak butuh dukungan keluarga? Setiap pilihan pasti ada resiko termasuk resiko untuk tidak menjadi populis, melawan apa yang ‘umum’ – nyeleneh dari praktek yang biasa dilakukan orang banyak.

Sampai sekarang saya masih sering mendapat pertanyaan ‘ketidakwarasan’ para pasutri katolik. Kok bisa sih mbak menikah dan tidak boleh bercerai sampai mati – gimana kalau ditengah jalan gak ‘cocok’ atau ada yang ‘selingkuh’?  Ada lagi yang mempertanyakan apakah selibat itu masih perlu saat ini mengingat banyaknya skandal seks dikalangan rohaniwan/ti? Gimana caranya meredam gejolak manusiawi bagi para rohaniwan/ti itu?

Saat saya menjadi prodiakon wanita pertama di paroki juga dinilai tidak ‘umum’ karena umumnya prodiakon di paroki selalu laki-laki dan pasti sudah ‘lansia’. Saat saya masuk jajaran pengurus Dewan Paroki pun dinilai tidak umum sebagai pengurus partai juga pengurus di paroki. Itulah sekedar contoh ketidakwarasan yang sering ditemui para pengikut Kristus. Kita juga dinilai aneh, nyeleneh, kalau gak nyogok urusan SIM/KTP bahkan gak mau nerobos lampu kuning. Well… everybody does it wajarnya kan begitu? Apakah yang wajar dan yang waras itu benar-benar ‘benar’? Nyamankah kita melakukannya tanpa terusik hati nurani kita? Kalau kita bertindak hanya mengikuti yang ‘umum’ apa kata orang .. bakalan ‘cape’ deeeh…

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa saat Yesus memulai pelayanannyapun sudah dinilai tidak wajar, tidak umum dilakukan, melawan arus adat istiadat Yahudi. Mana bisa sih ada orang mau ‘menyembuhkan’ orang sakit tanpa bayaran? Mana ada orang bisa mengampuni kesalahan orang lain kalau tidak membawa persembahan di bait Allah? Kok bisa tahan pelayanan berjam-jam tanpa rasa lapar (jangan-jangan mereka juga puasa saat pelayanan).

Mengikuti Yesus memang memerlukan pengalaman iman yang sungguh-sungguh membuat kita memiliki energi extra untuk bertahan bahkan berani melawan ‘kewajaran’. Tuhan memberikan karunia discernment, dengan bimbingan Roh Kudus, kita belajar mengenali mana kehendak Tuhan dan mana kehendak manusia termasuk kehendak diri sendiri. Tuhan memperbarui visi dan misi pribadi kita, sehingga kita menjadi tidak mudah goyang dan goncang terombang-ambing dengan kata orang (apalagi kalau sudah keluarga dekat).  Semoga kita semakin berani mengasah kedalaman hati dan ketajaman pikiran kita semakin dekat dengan kehendakNya, walaupun orang lain bilang kita kurang ‘waras’ pada setiap pilihan dan keputusan yang kita ambil. Oh ya satu hal lagi, orang-orang yang suka menghakimi kewarasan kita, biasanya memang cuma ‘omdo’ tidak pernah melakukan apa-apa (memang tidak berani bertindak apa-apa karena tidak siap menerima kritikan orang lain) apalagi membantu dan menolong  kita saat berkarya.

=================================================================================

Bacaan Injil Mrk 3:20-21

Sekali peristiwa Yesus bersama murid-murid-Nya masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: