PAUD Anak Ceria: Yang Sekarang Mencintai Anak Memiliki Masa Depan – A Sudarno OSC

15 12 2010

BERAWAL  DARI  PIKIRAN  YANG  POSITIF.

Kelompok ini berawal dari pikiran yang positif dan sederhana saja. Bahwa anak-anak berhak mendapatkan pendidikan, rasa iba dan kasihan melihat hidup dan masa depan mereka. Mungkinkah kami berbuat sesuatu bagi mereka itu? Dan ternyata sambutan anak-anak dan orang tua positif. Orang tua berpikir positif pula bahwa anak-anak mereka perlu memperoleh pendidikan sebelum mereka masuk SD. Gayung bersambut, maka terjadilah kelompok PAUD Anak Ceria. Pikiran positif bertemu dengan pikran positif, maka mampu melakukan karya bersama yang berguna bagi sesama.

Setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda, maka tidaklah heran kalau reaksi terhadap kegiatan ini pun bermacam-macam.  Bila pikiran positif mulai bekerja, maka ia akan membangkitkan perasaan-perasaan positif, dan tindakan-tindakan positif. Berjumpa dengan orang-orang yang berpikir positif, tiba-tiba kami merasa berdaya, punya tenaga bahkan penuh energi untuk melanjutkan karya ini. Pesan-pesan singkat yang kami terima dari Saudara-Saudari entah seiman, bahkan berbeda iman sekalipun semakin membakar semangat kami. Dari dukungan yang mengalir dari mana-mana, kami semakin menyadari bahwa pikiran positif, perasaan positif, tindakan positif akan menghasilkan sesuatu yang positif pula. Hal ini berlaku dalam bidang apapun, termasuk dalam bidang sosial. Berkarya dalam bidang sosial kalau kita tidak berpikir positif,maka akan mengalami hambatan. Hambatan itu dapat berasal dari diri kita sendiri, dan dapat pula datang dari luar diri kita.

Pikiran positif dan motivasi yang murni membuat seseorang bekerja seperti semut yang tak peduli dengan rintangan dan tantangan yang menghadang, karena percaya bahwa semuanya itu dapat diatasi. Kita dapat belajar dari semut yang bekerja tanpa mengenal lelah, mampu mengatasi hambatan dengan cara yang bijak. Dalam mengelola PAUD ini, kami juga menghadapi banyak tantangan dari mana-mana. Namun kami mencoba selalu bersandar pada Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki karya ini berlanjut, maka Tuhan pasti akan menunjukkan jalan pada kami. Pernah ada orang yang dengan keras akan menutup PAUD ini, karena belum memiliki Ijin Operasional. Kami hanya mampu membawa persoalan itu kepada Tuhan dan berkata,” Tuhan, kalau Engkau menghendaki kami memancarkan kasihMu lewat kelompok ini tunjukkan jalan yang harus kami tempuh.” Dan Tuhan sungguh memberikan jawaban tepat pada waktunya. Pada waktu itu ketika kami bertemu dengan seseorang dari Dinas, beliau berkata,” Jangan ditutup karya ini, tetapi lanjutkan.” Jawaban yang singkat, tetapi memberi energi yang dahsyat dan hebat. Kami bangkit dan menatap masa depan dengan penuh harapan.

Dalam hidup ini kita juga dapat belajar dari etos kerja semut. Kalau kita perhatikan, bahwa semut itu memiliki semangat Never Give Up. Filosofi hidup semut itu sungguh luar biasa, mari kita dalami bersama-sama hal tersebut di atas:

Semut mempunyai tujuan yang jelas. Semut itu gesit, lincah, mereka memiliki tujuan yang jelas, maka mereka mempunyai antusiasme yang tinggi. Tujuan yang jelas membuat semut-semut tak mudah menyerah dikala mengahadapi tantangan dan kegagalan sesaat. Kami yakin bahwa kami memiliki tujuan yang jelas yaitu mau menjadi “garam” dalam dunia pendidikan dan mau ikut ambil bagian dalam pencerdasan anak bangsa. Kami tidak mencari keuntungan pribadi, popularitas dan hal-hal yang duniawi. Kami hanya merasa terpanggil terjun dalam karya ini.

Semut tidak pernah kehabisan akal. Kita perhatikan adakah semut kehabisan akal dalam hidupnya?  Semut itu selalu saja menemukan jalan. Seandainya kita akan menghambat lajunya semut, ia pasti akan menemukan jalan keluarnya.Terinspirasi oleh etos kerja semut tersebut, ketika ada orang yang mau menghambat jalannya PAUD ini, maka kami segera bertanya ke Dinas Pendidikan, bahkan kami bertanya ke Dinas Sosial, kami mencari informasi ke mana-mana. Pikiran kami sederhana saja kalau jalur pendidikan tidak dapat kami lalui, kami akan menempuh jalur sosial.

Ada gula ada semut. Binatang ini penciumannya sangat tajam dan kalau ada gula cepat sekali mereka menemukan. Karena semut itu selalu bergerak dan bergerak. Ia tidak pernah berhenti, sehingga banyak kesempatan yang mereka raih. Dalam hidup ini banyak kesempatan untuk berbuat baik. Kesempatan di mana-mana dan kapan saja. Yang dituntut dari kita adalah kepekaan kita. Betapa sering kita kurang peka untuk menolong sesama yang memerlukan bantuan. Bagi kami anak-anak kurang mampu ini merupakan pancaran wajah Allah yang memerlukan uluran tangan sesama. Memang tidaklah mudah menghayati spiritualitas, “ Orang Samaria yang baik hati.” Orang Samaria, rela menolong sesama yang dirampok habis-habisan dengan tulus ikhlas. Ia menolong sampai tuntas. Apa yang kami lakukan ini masih jauh sekali dibandingkan dengan orang Samaria yang digambarkan dalam Kitab Suci. Namun kami harus melangkah,kendati langkah kami kecil agar wajah Gereja semakin tampak dan dikenal di Tatar Sunda ini.

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Semut itu termasuk binatang yang kecil, tetapi ia         mampu mengangkat benda atau barang yang besar sekali. Syaratnya semut-semut tersebut harus bekerja sama. Ternyata semut itu sangat akrab dan mengerti apa yang disebut team work. Hanya dengan kerja sama semut akan mampu mengangkat beban yang berat. Untuk menangani PAUD Anak Ceria, tak mungkin kami bekerja sendirian, kami harus bekerja sama dengan yang lain antara lain: mahasiswa Maranatha, RT, RW, Lingkungan, Dinas, dan siapapun yang peduli terhadap kegiatan ini. Kita dapat belajar pada semut yang mampu bersinergi tinggi, sehingga mampu menyelesaikan tugas-tugas yang luar biasa.

Dalam kelompok ini kami mencoba mengajak para guru dan anak-anak selalu berpikir positif, karena dengan berpikir positif kita akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Pernah ada orang yang marah-marah, kecewa, mencaci maki, jengkel bahkan benci sekali kepada kelompok ini, kami menyakinkan kepada para guru jangan dibalas. Ada nasihat agung yang harus kita teladani, “ Kalau ditampar pipi kirimu, berikanlah pipi kananmu.” Memang tak mudah melaksanakan ajaran ini. Tetapi kalau kita mengikuti pola pikir orang yang tidak benar kita terbawa menjadi orang yang tidak benar. Guru-guru kami mengerti, memahami dan mau menghayati ajaran ini, kendati tidak mudah. Maka tidaklah aneh pada saat sulit dan menyakitkan air mata mereka mengalir, tetapi pada saat suka air mata mereka pun mengalir dalam pipi mereka. Tetapi dari peristiwa ini kami semakin diyakinkan bahwa perbedaan antara sedih dan bahagia itu tipis sekali. Sehingga dalam hidup ini kita tidak boleh larut dan hanyut dalam kesedihan maupun kebahagiaan.

Pada suatu hari kami ditelpon oleh seseorang yang mengungkapkan perasaannya dengan meletup-letup emosinya, seperti gunung Merapi memuntahkan lahar panas yang mampu menghancurkan seluruh alam ciptaan. Sedih, pedih dan perih rasanya hati ini, seperti disayat-sayat, kami menangis, tetapi siang hari ketika kami mengantar anak-anak ke kantor Harian Pikiran Rakyat, kami merasa bahagia. Hari itu adalah hari Kamis tanggal 2 Desember 2010. Apa sih yang membuat para guru bahagia sampai berderai air mata?

Anak-anak kami memang sederhana, tidak berkelimpahan harta, tetapi mereka kaya akan kasih dan belaskasihan kepada sesama. Selama bulan November 2010, anak-anak dan guru mengadakan kenclengan, mengumpulkan uang receh demi receh untuk kami sumbangkan kepada saudara-saudara yang sedang tertimpa bencana alam. Terkumpul berapa? Kami kagum dan tercengang selama sebulan terkumpul dana Rp. 684.000,  Bagi orang kaya dana sebesar itu tidak ada artinya apa-apa, tetapi bagi kami itu sungguh luar biasa.

Mengamati apa yang dilakukan anak-anak, kita semua diingatkan kisah seorang janda miskin yang mempersembahkan seluruh miliknya  di bait Allah. Nilai-nilai apa yang mau kami tanamkan dalam pribadi anak-anak ini? Kami hanya mau meyakinkan dan menyadarkan bahwa hidup ini tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Kita tidak boleh terkurung dan dikungkung oleh penderitaan dan kesulitan diri sendiri. Dan hal ini sungguh terjadi, bahwa anak-anak masih mempunyai kepedulian terhadap sesama yang menderita dan kesulitan, kendati mereka sendiri dalam situasi yang pas-pasan. Mereka membagi dan memberi dari kekurangan mereka. Ternyata memberi dengan tulus dan ikhlas itu selalu membahagiakan. Buktinya anak-anak dan para guru pulang dengan penuh kegembiraan. Bahkan  dalam perjalanan pulang mereka menyanyikan lagu, “Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang.” Mereka tertawa dan gembira karena mampu memberi dari hati yang murni. Inilah hidup yang bermakna di mana orang tidak hanya memikirkan kesulitannya sendiri, tetapi masih tergerak hatinya bagi mereka yang menderita.

John D. Rockefeller. Jr. pernah berkata, “ Jangan anggap tindakan memberi sebagai kewajiban, tetapi sebagai keuntungan.” Siapapun yang mau dan berani memberi akan memperoleh keuntungan. Keuntungan itu bukan soal materi, tetapi juga bisa berupa kepuasan batin. Pada suatu ketika guru kami diminta untuk memberi ceramah di PAUD Al Inayah, maka kami beri ijin. Kenapa? Kami hanya berpikir positif, biarlah kasih Allah mengalir juga kepada siapa pun. Maka pada tanggal 8 Desember 2010, pada pesta Maria dikandung tak bernoda, guru kami memberi ceramah dan sharing bagaimana mengelola PAUD. Dengan cara demikian tambah sahabat, persaudaraan terjalin. Maka memberi itu menjadikan kita semakin kaya.

Kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Mgr. Johannes Pujasumarta, pada awal Adven, pada tanggal 27 November 2010, dalam Duc In Altum memuat perjalanan PAUD Anak Ceria ini. Pada masa Adven tersebut Bapak Uskup mengangkat tema: “Yang Sekarang Mencintai Anak Memiliki Masa Depan.” Kami mencintai anak-anak, bagaimanapun situasi keluarga dan ekonomi mereka, agar mereka memiliki masa depan. Dengan dimunculkannya PAUD Anak Ceria dalam internet oleh Bapak Uskup, maka banyak pastor dan umat yang menyambut dengan gembira karya kami yang kecil dan sederhana ini. Bahkan Propinsial SSCC, Romo Antun SSCC minta guru kami untuk memberi penataran di Pangkalpinang dan sekitarnya. Undangan demi undangan mengalir dari mana-mana, agar guru kami mau membagi dan memberi pengalaman tentang menangani PAUD ini, baik dari lingkungan Katolik, Kristen maupun saudara kita yang beragama Muslim. Bahkan Pendeta Gilbert langsung SMS ke guru kami kalau mau akan dijemput dari Bandung untuk berkarya di lingkungan mereka. Demikian komunitas insani mulai terjalin secara alami. Mengapa kami katakan alami? Karena secara alami proses kerja sama terjadi tanpa basa-basi. Tetapi kami tetap sadar bahwa apa yang kami lakukan ini hanyalah bagaikan setetes air yang jatuh di lautan. Tetapi kalau setetes air tersebut tidak jatuh  di lautan, maka air laut akan kehilangan setetes air tersebut. Maka kami tetap berusaha agar, tetesan air tersebut tetap jatuh di bumi pertiwi ini. Karena dengan memberi kita akan menerima. “ Berikan waktu, Anda akan mendapatkan waktu. Berikan produk, Anda akan mendapatkan produk. Berikan cinta, Anda akan mendapatkan cinta,” kata Joe Vitale.

Cinta dan dukungan yang kami terima dari Saudara-saudari sekalian  selama ini berdampak besar bagi karya dan usaha kami ini. Maka kami ucapkan terimaksih atas dukungan dan doa-doa tersebut.  Ketika semakin banyak orang yang SMS kepada kami,menelpon kami, kami lebih mencintai, lebih menghargai, bahkan kami lebih memaafkan mereka yang menentang kami dan mencaci- maki kami. Namun kami percaya bahwa tak selamanya mendung itu kelabu, pada suatu saat nanti pasti akan cerah. Sikap inilah yang menguatkan langkah perjuangan kami.

 

Ada ungkapan, “ Tak kenal maka tak sayang.” Kami tidak menyalahkan mereka yang kontra dengan kegiatan kami ini. Karena mereka belum mengenal apalagi memahami apa yang kami lakukan maka wajarlah kalau mereka tidak suka. Tetapi kami yakin bagi mereka yang sudah kenal, maka mereka akan menemukan pencerahan spiritual, kendati hanya kecil.

Dalam acara Seminar, “ Guru Menulis di Media Massa,” Bapak Wahyudin Zarkasyi, Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat, menyinggung PAUD Anak Ceria ini. Seminar ini diselenggarakan atas kerja sama antara Kompas dan Dinas Propinsi, Jawa Barat pada tanggal 9 Desember 2010. Kami yakin kalau beliau tidak mengenal dan tidak memahami tujuan kami, pasti beliau tidak akan membicarakan dalam seminar tersebut. Kepala Dinas menyampaikan apa yang beliau baca di internet demikian, “ Ada seorang penulis dengan bahasa sederhana, halus, sopan, namun mengandung pesan dan prinsip yang kuat dan dalam. Artikel tersebut membuat orang yang membacanya kagum campur haru dan penuh bangga. Artikel tersebut mengisahkan perjalanan sebuah lembaga pendidikan yang manangani anak-anak kurang mampu bahkan anak jalanan. Sekolah ini mampu berdiri tanpa bantuan dari Pemerintah. Di dalam kelompok ini siapa saja boleh masuk tanpa memandang ras, suku, agama, keyakinan dan status social orang tuannya. Namun dalam kelompok ini tumbuh dan berkembang nilai-nilai spiritualitas kerukunan hidup beragama. Pro dan kontra akan selalu ada, yang perlu diingat adalah prinsip hidup yang mereka lakukan sangatlah kuat dan bagus, sebaiknya kita harus mencoba dan mencontoh kelompok tersebut, terutama dengan seorang ibu yang punya hati tulus dan ikhlas.” Kepala Dinas mengajak para peserta seminar untuk menelusuri internet untuk menemukan artikel tersebut lewat Duc In Altum. Para peserta seminar mayoritas adalah guru-guru Muslim. Inilah makna menjadi garam dan terang dunia dengan cara yang sederhana pada jaman sekarang ini.

Pada saat Kepala Dinas menyampaikan hal tersebut di atas ada guru kami yang ikut seminar juga. Ibu itu hanya senyum-senyum, sambil berkata dalam hatinya, “ Pak, saya ada di sini. Saya peserta seminar, bapak tidak melihat saya ya, padahal badan saya besar lho” Dari peristiwa ini kita dapat merenungkan bahwa pada jaman modern ini memberi dan membagi itu bukan soal yang sulit lagi. Lewat dunia maya, yaitu lewat internet kita dapat memberi inspirasi bagi orang lain melalui apa yang kita lakukan. Kami juga merasa senang kalau tulisan dan karya kami yang kecil tersebut dapat memberi inspirasi bagi sesama yang berkehendak baik.

Pengalaman demi pengalaman mendidik dan mengajar kami, untuk menjawab ajakan Chrisye dalam lagunya, Lilin-lilin Kecil, “ Dan kau lilin-lilin kecil….. Sanggupkah kau mengganti? Sanggupkah kau memberi seberkas cahaya. Dan kau lilin-lilin kecil….  Sanggupkah kau berpijar. Sanggupkah kau menyengat seisi dunia.” Kami hanya ingin memberi seberkas cahaya dalam dunia pendidikan saat ini. Kami membayangkan kelompok kami ini hanyalah sebuah lilin kecil.

PAUD ini mencoba dan berusaha untuk menjadi pembawa damai. Karena damai itu sangat didambakan dan dirindukan oleh setiap orang di muka bumi ini. Kaya-miskin, pejabat – rakyat, dan agama apapun umatnya ingin menikmati damai. Kami ingin membangun budaya damai dan berusaha merajut persaudaraan universal dengan sesama, dengan alam semesta dan dengan Tuhan. Untuk membangun perdamaian dasarnya adalah kasih. Karena kasih itu bersifat personal sekaligus universal. Setiap orang ingin dicintai dan ingin pula mencintai. Allah menciptakan manusia agar saling mengasihi, bukan untuk saling memusuhi, membenci dan mencaci-maki. Kita semua dipanggil menjadi pembawa damai. Mari kita renungkan Madah Persaudaraan yang disampaikan oleh Santo Fransiskus.

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.

Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.

Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.

Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.

Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.

Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan.

Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan.

Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.

Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.

Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni.

Sebab dengan mati suci kami bangkit lagi. Untuk hidup selama-lamanya.

Doa Santo Fransiskus tersebut di atas mengajak kita semua untuk mempunyai sikap aktif dan proaktif dalam membangun perdamaian, persaudaraan serta membangun dunia baru. Untuk membangun damai kita tidak bisa hanya berpangku tangan, diam, menanti dan bersikap pasif. Kita harus berani mulai, melangkahkan kaki, membuka hati untuk menerima sesama tanpa takut. Kita akan menjadi pembawa damai dalam hidup bersama, kalau kita sendiri damai dengan diri sendiri. Apabila ada orang atau kelompok dalam hidupnya bermusuhan terus, karena mereka belum damai secara utuh dengan dirinya sendiri, bahkan mereka tidak memiliki damai dalam diri mereka.

Pastor A. Sudarno OSC


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: