Upacara Pengusiran Setan

1 12 2010

Sebagai umat katolik kita tidak cukup berpegang pada Kitab Suci tetapi juga penting memahami tradisi Gereja serta magisterum kuasa mengajarnya. Berikut saya posting  kata pengantar dalam buku Exorcist 1998 serta link doa resmi ajaran Gereja melalui Malaekat Agung Santo Mikhael. Magisterium Gereja adalah kuasa mengajar yang satu dari para Uskup dan Kardinal dalam membimbing kita para umat mengenali berbagai ajaran-ajaran serta menghadapi tantangan jaman terutama dalam memahami tafsir Kitab Suci. Sedangkan tradisi berisi berbagai ajaran-ajaran sebelum jaman para rasul (Deuterokanonika) sampai kesaksian para rasul dan pengikut-pengikutnya yang dikumpulkan para Uskup dari berbagai sumber sejak jaman gereja perdana dimana tidak selalu semua tertulis di Kitab Suci.

Sebaiknya kita lebih berusaha mengenal ajaran Gereja serta mengamalkannya agar menjadi contoh bagi keturunan dan generasi berikutnya. Kalau bukan kita yang menerapkannya serta memperlengkapi diri dengan berbagai persenjataan rohani, maka media telah berhasil mendidik anak-cucu kita untuk lebih takut pada setan melalui berbagai wujud dan manifestasinya daripada kepada Tuhan yang telah begitu mengasihi kita, bahkan menebus kita dari kuasa si jahat. Simpel aja deh, si jahat lebih senang kalau kita tidak berdoa. maka kita dibuatnya terlena dan tergoda dengan berbagai hal sehingga kita malas berdoa. Padahal kalau kita lebih cinta pada Tuhan, kita bisa berdoa kapaaaaaan saja, sama seperti kalau kita jatuh cinta maunya telpooooon aja … Dunia serasa milik berdua, yang lain indekos, termasuk si jahat. So, dengan kehendak bebas yang kita miliki, jangan beri ruang sedikitpun bagi segala godaan yang menjauhkan kita dari Allah Tri Tunggal.

Teks Ini disajikan oleh kardinal Jorge Arturo Estevez pada 26 Januari 1999, di ruangan pers Takhta Suci.

Untuk memahami Upacara Pengusiran setan / eksorcisme, kita harus bertitik-tolak dari Yesus Kristus dan dari ayat-ayat Sabda-Nya sendiri. Yesus Kristus telah datang untuk mewartakan Khabar Gembira dan meresmikan Kerajaan Allah di atas bumi, ke dalam hati semua orang. Manusia memiliki kemampuan untuk menerima Allah di dalam hatinya (Rom 5,5). Namun kemampuan ini telah digelapkan oleh dosa dan kejahatan dengan menduduki tempat yang akan didiami oleh Allah. Untuk itu Yesus Kristus telah datang untuk membebaskan manusia dari kuasa kejahatan dan dosa, dan juga dari segala bentuk penguasaan terkutuk oleh setan dengan segala roh-roh sesat yang disebut iblis, yang mau melenyapkan/ membasmi makna kehidupan manusia.

Yesus Kristus telah mengusir segala iblis dan membebaskan manusia dari keterikatan pada roh- roh yang menyesatkan itu. Ia menyiapkan tempat dalam diri manusia untuk mengalami dan menikmati kebebasan dalam Allah yang menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada setiap orang yang dipanggil untuk menjadi kenisah-Nya (1Kor 6,19; 1Ptr 2,5) agar membimbing langkah-langkah mereka (Rom 8,1-17; 1Kor 12,1-11; Gal 5,16-26) menuju kedamaian dan keselamatan. Dengan ini kita masuk ke dalam pembicaraan mengenai Gereja dan tugas-tugas pelayanannya.

Gereja didirikan oleh Kristus dan terpanggil untuk mengikuti-Nya. Gereja telah menerima kuasa dari Kristus untuk melanjutkan tugas perutusan-Nya dalam nama-Nya. Karena itu kegiatan Kristus untuk membebaskan manusia dari belenggu kejahatan dilaksanakan selanjutnya melalui pelayanan Gereja dengan petugas-petugasnya yang tertahbis, mewakili Uskup untuk melakukan Upacara-upacara suci bagi pembebasan manusia dari belenggu kejahatan.

Exorcisme sejak awal mula adalah bentuk doa khusus Gereja melawan kekuatan  setan. Dalam dilihat sendiri dalam Katekismus Gereja Katolik dimana dijelaskan apa itu exorcisme dan bagaimana menyelenggaran tata perayaannya.

Apabila Gereja secara resmi dengan kewibawaannya memohon dalam nama Tuhan Yesus Kristus agar seseorang atau barang tertentu terlindungi dari pengaruh setan dan dilepaskan dari kekuasaannya maka inilah disebut exorcisme. Yesus sendiri telah melaksanakannya (Mk 3,25); daripada-Nyalah Gereja menerima wewenang dan tugas untuk mengusir setan (bdk. Mk 3,15; 6,7.13; 16,17). Dalam bentuk sederhana exorcisme dipraktekkan selama tahapan perayaan Pembaptisan. Exorcisme sollemnior, yang disebut “Exorcisme meriah”, dapat  dilakukan hanya oleh seorang imam dan seizin Uskup. Hal ini haruslah disikapi secara bijaksana seraya memperhatikan dengan teliti norma-norma yang telah ditetapkan oleh Gereja. Exorcisme dimaksudkan untuk mengusir setan-setan atau untuk membebaskan orang dari pengaruh iblis melalui kewibawaan rohani yang telah dipercayakan Yesus kepada Gereja-Nya. Pengaruh setan ini harus dibedakan dari kasus penyakit terutama psikis. Penyakit psikis sudah termasuk dalam urusan ilmu kedokteran. Adalah penting bahwa sebelum merayakan exorcisme, sudah diyakini bahwa kasus tertentu bukan penyakit tetapi ulah setan (bdk. CIC, can. 1172; Katekismus GK n. 1673).

Kitab Suci mengajarkan kita bahwa roh-roh jahat, musuh Allah dan musuh manusia, melaksanakan kegiatannya dalam berbagai macam cara, al. yang dinamakan kerasukan setan atau kemasukkan setan. Namun kerasukan setan bukanlah satu-satunya cara yang dipakai setan untuk memasukkan pengaruh roh kegelapannya. Kerasukan memiliki karakteristik sensasional. Si setan masuk dengan cara keras, dengan aktivitas fisik pada pribadi tertentu. Akan tetapi setan tidak mampu menguasai kehendak bebas si subyek dan dengan demikian tidak dapat memperoleh dari pribadi yang dimasukinya suatu keterlibatan kehendak bebas untuk berdosa. Meskipun begitu kekejaman fisik yang dilakukan si setan terhadap si penderita adalah suatu gertakan untuk berbuat dosa dan inilah cara si setan untuk mencapai tujuannya.

Upacara Pengusiran setan mengisyaratkan berbagai kriteria dan petunjuk yang memudahkan pertimbangan yang bijak dan lebih meyakinkan bahwa kini sedang berhadapan dengan suatu peristiwa kerasukan setan. Dan selanjutnya si pengusir setan yang diberi wewenang oleh Uskup dapat menyelenggarakan upacara pengusiran secara meriah. Kriteria-kriteria itu a.l.: banyak bicara dengan kata-kata dari bahasa yang tidak dikenal atau yang dimengerti; mengingatkan hal-hal yang jauh atau tersembunyi; mempertunjukkan kekuatan-kekuatan istimewa di luar kemampuan pribadi yang sebenarnya dan bersamaan dengan itu melontarkan secara dasyat kebenciannya terhadap Allah, Maria, para kudus, Salib dan lukisan-lukisan suci.

Perlu digarisbawahi bahwa untuk melaksanakan Pengusiran setan diperlukan pelimpahan wewenang dari Uskup diocesan untuk kasus-kasus khusus, atau pelimpahan wewenang secara umum dan tetap kepada imam yang melakukan pelayanan exorcis dalam keuskupannya.

Rituale romanum yang lama pada bab khusus memuat penjelasan-penjelasan dan teks liturgis Upacara Pengusiran setan; merupakan bab terakhir tanpa di-revisi setelah konsili Vatikan II. Dalam proses pemugaran sepuluh tahun terakhir ini terlihat jelas bahwa Upacara ini menuntut banyak studi, perbaikan, pembaruan dan penyelarasan sambil berkonsultasi dengan berbagai konferensi para Uskup sesudah suatu analisis dari pihak Kongregasi Ibadat Suci.

Dalam Rituale yang kini kami sajikan terdapat pula Upacara pengusiran setan seperti yang telah kami uraikan diatas yakni untuk dilaksanakan terhadap seseorang yang kerasukan setan. Dimuat pula rumusan doa-doa yang diucapkan secara resmi oleh seorang imam, dengan izin Uskup, apabila dengan bijak dinilai bahwa ada pengaruh setan di tempat-tempat tertentu, barang tertentu atau pribadi tertentu tanpa harus sampai ke stadium kerasukan terang-terangan. Selanjutnya terdapat kumpulan doa-doa untuk diucapkan secara pribadi oleh umat beriman apabila mereka bersikap curiga secara beralasan bahwa dirinya dirasuki oleh pengaruh-pengaruh setan.

Exorcisme adalah tindakan yang didasari oleh iman Gereja karena melihat kenyataan bahwa umat beriman dijauhkan dari arah-jalan menuju Keselamatan/ Pembebasan  oleh upaya-upaya setan dan roh-roh jahat lainnya. Ajaran resmi Gereja menjelaskan bahwa setan-setan adalah malekat-malekat yang terjerumus akibat dosa mereka sendiri. Mereka adalah roh dengan kelicikan dan pengaruh yang besar. “Tetapi kekuasaan setan bukan tanpa batas. Ia hanya ciptaan belaka. Walau pun kuat, karena ia adalah roh murni, namun ia tetap saja makluk; ia tidak dapat menghindarkan pembangunan Kerajaan Allah. Setan ada di dunia karena kebenciannya kepada Allah dan bekerja melawan Kerajaan-Nya yang berlandaskan Yesus Kristus. Usahanya membawakan kerugian fisik bagi tiap manusia dan setiap masyarakat. Meskipun demikian, usahanya itu dibiarkan oleh penyelenggaraan ilahi, yang mengatur sejarah manusia dan dunia dengan penuh kekuatan dan sekaligus dengan lemah lembut. Bahwa Allah membiarkan usaha setan merupakan suatu rahasia besar, tetapi ‘kita tahu, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia’ (Rom 8,28)”. (bdk. Katekismus Gereja Katolik n. 395).

Dapatlah digarisbawahi bahwa pengaruh busuk si setan dengan pengikut-pengikutnya biasanya dilaksanakan melalui tipu daya yang licik, dusta, pemutarbalikkan kebenaran dan kekalutan. Kalau Yesus adalah Kebenaran (Yoh 8,44), maka setan adalah ketidak-benaran. Sejak awal mula dan seterusnya tipu muslihat adalah strategi utamanya. Tak dapat disangkal bahwa setan muncul keluar untuk menjerat banyak orang dalam perangkap logika yang sesat, penipuan kecil-kecilan atau yang menggemparkan. Setan menipu manusia dengan membuat mereka begitu yakin dan percaya bahwa kebahagiaan hidup terletak pada uang, kuasa dan kenikmatan daging. Ia menipu dengan meyakinkan manusia bahwa mereka tidak memerlukan Allah lagi sebab sudah mampu mencukupi diri sendiri. Manusia tidak membutuhkan rahmat dan Keselamatan.

Setan memperdayakan manusia dengan mengurangi, bahkan menghilangkan perasaan berdosa, seraya menggantikan Hukum Allah dengan ukuran penilaian moral, kebiasaan atau kesepakatan mayoritas. Ia menghasut anak-anak dan meyakinkan mereka bahwa berbohong adalah cara yang pas/ tepat untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Dengan demikian perlahan-lahan menciptakan di tengah manusia suatu atmosfir curiga dan rasa kurang percaya.

Dibelakang tipu muslihat dan kebohongan, berkembanglah ketidak-pastian, kebimbangan, perasaan tidak tenang dan selalu gelisah; dalam suatu dunia dimana tak ada lagi Kebenaran dan sebaliknya dimana merajalela relativisme dan pemahaman bahwa kebebasan artinya bertindak sesukanya menurut kehendak sendiri. Dengan demikian, orang dijauhkan dari kesadaran bahwa kebebasan yang sejati merupakan penyelarasan diri dengan kehendak Allah, satu-satunya sumber kebaikan dan kebahagiaan sejati.

Kehadiran setan dengan segala ulah kegiatannya merupakan ‘situasi dramatis seluruh dunia ini yang berada dibawah kekuasaan si jahat’ (Yoh 5,19). Kehadiran setan membuat hidup manusia menjadi arena perjuangan. Memang seluruh sejarah manusia menjadi syarat dengan perjuangan sengit melawan kekuasaan kegelapan. Pergulatan itu mulai sejak awal dunia, dan menurut amanat Tuhan, akan tetap berlangsung hingga hari kiamat. Terjebak dalam pergumulan itu, manusia tiada hentinya harus berjuang untuk tetap berpegang teguh pada yang baik. Dan hanya melalui banyak jerih-payah, berkat bantuan rahmat Allah, ia mampu mencapai kesatuan dalam dirinya’ (GS 37,2; Katekismus GK n. 409).

Gereja yakin akan kemenangan akhir dalam Kristus. Oleh karena itu Gereja tidak takut dan gentar, tiada pesimisme dan putus asa, karena menyadari bahwa tindakan-tindakan jahat itu hanya merupakan upaya untuk memperlemah kesetiaan manusia akan Allah dan menabur kekacauan. Kristus bersabda: ‘Percayalah, Aku telah mengalahkan dunia’ (Yoh 16,33). Dalam bingkai ini Upacara Pengusiran setan menemukan tempatnya, suatu ungkapan penting perjuangan melawan kejahatan, tetapi bukan satu-satunya.

Vatikan, 26 Januari 1998

PS: Silahkan disimak doa pengusiran setan melalui Malaekat Agung Santo Mikhael di https://ratnaariani.wordpress.com/2010/04/30/doa-pengusiran-setan/


Actions

Information

4 responses

2 12 2010
Yohanes Sonny WIjayanto

Bu ratna, bisakah melakukan exorcisme untuk diri sendiri?

3 12 2010
ratna ariani

Terima kasih pak/mas Yohanes sudah mampir disini.
Ada beberapa tingkatan exorcistme atau tahapan dalam penolakan atau pengusiran setan. Yang paling sederhana adalah pengulangan janji baptis dimana kita menolak kuasa jahat. Cara lain adalah semakin sering mengakui dosa dan kelemahan melalui Sakramen Pengampunan Dosa dan Sakramen Ekaristi. Semakin mendekatkan diri kepada Allah Tri Tunggal membuat kita menjauh dari kuasa iblis.
Tetapi adakalanya kita tidak berdaya, malah kita mengundang kuasa gelap masuk dalam diri kita. Nah dalam posisi seperti ini kita seperti lumpuh tak berdaya seperti pesakitan yang membutuhkan 4 orang untuk menandunya kehadapan Tuhan Yesus. Kita memerlukan dukungan dan bantuan orang lain. Umumnya memang disarankan tidak dilakukan sendiri (1 orang). Perlu beberapa orang yang membantu, baik dalam hal mendukung dalam doa-doa dan juga memegangi sang korban. Kalau korbannya perempuan ya dipegang oleh yang wanita. Intinya setan itu memang ada, yang penting tidak dibesar-besarkan. Yang harus tumbuh justru kecintaan kita pada Tuhan, bukan ketakutan kita pada setan.

AMDG
RA

8 10 2011
benictus benny

maaf kata aq hanhya menanggapi melengkapi kata2 diatas yaitu lengkap serta tak pernah aq jumpai di kelompok pengusiran apapun dikatolik yaitu buka di google hky priok dan pengusiran stn hanya yg dikarunia tentang pengusira setan dan tidak sembarangan orang pengusiran klo caranya salah bisa2 yg dilayani maupun yg dilayani tidak sejahrea sehabis pengusiran.

8 10 2011
benictus benny

maksud aq buka di google tentang pelayanan kasih hati kudus yesus dan pantekosta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: