Musuh Terbesar

3 11 2010

“yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Mengikuti kegiatan SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia) di Wisma Kinasih dihari ketiga, tema hari ini adalah mengenali wajah Yesus diantara keberagaman agama dan aliran kepercayaan di Indonesia. Menyimak penuturan Kang Sobary dan Bhikku Panyavaro, yang menjelaskan pengalamannya bersinggungan dengan masyarakat katolik, peserta seperti disadarkan sejauhmana dialog yang sebenarnya yang telah dibangun oleh kawan-kawan mereka yang menyandang identitas ‘katolik’. Kang Sobary yang cukup dekat dengan almarhum romo mangun menjelaskan bahwa terang iman harus tampil dalam setiap tindakan kita saat berinteraksi dengan beragam manusia disekitar kita. Bawalah Tuhan Yesus ke ‘pasar’ , jangan ke altar. Artinya iman harus diterjemahkan sampai kepada tindakan yang mengena dalam hayat hidup orang disekitar kita. Beranilah untuk bertindak dan bertutur kata seperti seharusnya orang katolik berlaku – dengan kata lain kita harus berani berkata ” Kulu namung katolik” – Saya cuma katolik.

Sementara Bhiku Panyavaro menjelaskan bahwa  iman harus menjiwai keseharian kita. meskipun iman diantara kita berbeda. Dengan demikian iman harus tampak dan egonya akan menjadi kecil karena  mengurangi ke-aku-an.  Semakin teguh iman kita  maka semakin kecil kita karena menyadari segala keberadaan termasuk kekurangan kita. Pada akhirnya kita semua dipanggil untuk   membuat semua mahluk berbahagia dan berani dengan rendah hati berkata ” Saya cuma manusia biasa “

Narasi kelompok dilakukan terpencar oleh 37 kelompok dimana masing-masing anggota kelompok berbagi pengalaman tentang sejauhmana kita  mengalami pergaulan dengan teman2 beriman lain. Pada akhirnya dialog karya yang dilakukan dengan tulus dalam prinsip kesetaraan sungguh telah dibuktikan yang paling berhasil. Penghalang terbesar adalah bilamana salah satu pihak merasa paling benar, paling berkuasa dan menganggap yang lain tidak penting dan lebih rendah. Ini semua berakar pada egoisme pribadi, dimana kita sulit untuk mendengar dan membuka mata atas apa yang dimiliki oleh mereka yang berbeda iman.

Salib terbesar kita dalam mengenali dan mengikuti Yesus adalah mengikatkan egoisme kita, menanggalkan segala keakuan kita  sehingga  kita bisa menempatkan diri sebagai pihak yang setara dengan pihak-pihak yang berinteraksi dengan kita. Tidak lebih tinggi, tidak lebih rendah. Semua ini memungkinkan kita memiliki pandangan yang lebih terbuka untuk menerima orang lain, untuk memahami kebutuhan orang lain dan yang paling penting menunjukkan kepedulian akan mereka yang terpinggirkan. Kalau kita tidak menyalibkan ego kita sendiri, maka yang akan ditampilkan kemana-mana hanyalah diri kita sendiri. Bukan lagi Jesus Kristus yang diwartakan, bukan lagi Kabar Baik yang disampaikan. Tetapi kita sendiri malah menggantikan wajah Yesus yang penuh kasih, yang menggembalakan dengan sabar, yang mencari domba yang terluka dengan wajah kita yang egois dan maunya hanya dilayani dan didengarkan. Weleh…..capek deeeh…

=============================================================================================

Bacaan Injil Lukas (14:25-33)

Pada suatu ketika orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Yesus berkata kepada mereka, “Jika seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudarinya, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antaramu, yang mau membangun sebuah menara, tidak duduk membuat anggaran belanja dahulu, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Jangan-jangan sesudah meletakkan dasar ia tidak dapat menyelesaikannya. Lalu semua orang yang melihat itu akan mengejek dengan berkata, ’Orang itu mulai membangun tetapi tidak dapat menyelesaikan’.Atau raja manakah yang hendak berperang melawan raja lain, tidak duduk mempertimbangkan dulu apakah dengan sepuluh ribu orang ia dapat melawan musuh yang datang menyerang dengan duapuluh ribu orang? Jika tidak dapat, ia akan mengirim utusan selama musuh masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikianlah setiap orang di antaramu yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: