Rasul Zaman Digital

28 10 2010

“Yesus memilih dari antara murid-murid-Nya dua belas orang yang disebut-Nya rasul.”

Anak-anak modern menghabiskan banyak waktu mengakses media baru seperti internet, smart phones (ponsel pintar), 3G, dan perangkat berbasis komputer, serta jaringan-jaringan sosial seperti Facebook.

Facebook Thai memiliki 3.057.000 pemakai —sehingga secara global menempati peringat ke-23. Menurut Young Asians Survey 2010 yang dilakukan oleh Synovate, orang muda Thailand menghabiskan 1,7 jam per hari untuk berbicara lewat ponsel mereka—ini merupakan waktu terlama di Asia.

Sementara media teknologi merupakan pintu gerbang yang sangat baik untuk mengeksplorasi ilmu pengetahuan, banyak juga orang muda yang terpengaruh oleh konsumerisme, seks, kekerasan, dan model peran mengerikan dari tokoh-tokoh masyarakat tertentu.

Kini, isu-isu ini menantang berbagai lembaga keagamaan di Thailand. Tidaklah berlebihan bahwa banyak orang dari berbagai agama berharap bahwa Gereja Katolik Thailand secara khusus menjadi konselor dalam bidang etika.

Meskipun Gereja Katolik Thailand kurang dari satu persen dari 65 juta total penduduk Thailand, Gereja menghadapi kesulitan untuk beroperasi secara aman jika menghadapi isu-isu sosial yang kompleks. Gereja harus menjadi komunikator yang proaktif yang membela keadilan dan kebenaran di era digital.

Walaupun tidak memiliki banyak dana, Gereja dapat mengubah berbagai ancaman sosial yang kritis menjadi peluang. Kita harus menggunakan teknologi komunikasi dalam mewartakan Kabar Baik kepada masyarakat, dengan menargetkan anak-anak muda.

Gereja pasca-Vatikan II sudah berulang kali menyoroti peran teknologi komunikasi dalam evangelisasi. Paus, dalam pesan Hari Komunikasi se-Dunia tahun ini meminta para imam sedunia untuk menggunakan media baru dalam pelayanan pastoral dan pendidikan moral.

Menggunakan media baru untuk evangelisasi dan untuk peneguhan moral merupakan misi segenap umat Katolik. Konferensi Waligereja Thailand juga sudah menekankan hal ini dalam rencana pastoral lima tahun mereka.

Panduan mingguan atau bulanan untuk Misa Minggu saja belum cukup dalam menanggapi isu-isu sosial sekarang ini. Kita memerlukan cara baru, seperti penyebaran bimbingan rohani melalui media digital.

Gereja harus memainkan peran penting sebagai nabi cyber atau nabi digital dengan menjadi monitor sosial yang aktif terhadap isu-isu moral.

Gereja-gereja lokal, Dewan Pendidikan Katolik Thailand, dan sekolah-sekolah Katolik harus mendukung pendidikan media di kalangan para siswa.

Dengan paradigma “user-generated content” dan “citizen jurnalism” dalam komunikasi baru ini, Gereja harus mendorong orang muda Katolik untuk membuat dan berbagi konten yang mendukung nilai-nilai.

Seminari, pusat pelatihan pastoral, dan Komisi Katekese Nasional harus merumuskan strategi-strategi untuk menyampaikan pesan mereka kepada suatu generasi baru yang sangat sadar media.

Gembala (pastor) modern dapat menggunakan media digital untuk menciptakan konten visual yang bermutu dan menarik dalam pengajaran iman Katolik.

Selain menyatukan berbagai jaringan internal kita, Gereja harus bergabung dengan jaringan dari berbagai agama lain serta berbagai gerakan sipil.

Anak-anak Thailand kini sedang bertumbuh dengan model peran yang patut dipertanyakan seperti bintang film dan politisi tertentu. Sebenarnya ada banyak model peran yang layak namun tidak diketahui padahal dapat dipromosikan melalui platform media baru. Ini bukan masalah hubungan pribadi, tapi masalah pewartaan Kabar Baik.

Komunikasi Katolik Thailand menyaksikan berbagai perubahan dengan adanya banyak perintis baru di bidang media seperti Udomsarn Fanclub on Facebook, jaringan radio Katolik Thailand, serta berbagai jaringan siswa Katolik, dan berbagai situs milik keuskupan.

Semua ini pertanda baik, meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan apakah ini efektif dan akan berlanjut.

Tugas semua pihak dalam Gereja sekarang ini adalah menemukan landasan bersama dalam menggunakan media baru untuk meningkatkan moralitas dan iman umat.

Oleh Sikares Sirakan, ucanews.com, Bangkok, Thailand. Beliau adalah sarjana media Katolik dan anggota dewan Komunikasi Sosial Katolik Thailand. http://www.cathnewsindonesia.com/2010/10/25/nabi-digital

===============================================================================================

Bacaan Injil Lukas (6:12-19)

Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Mereka itu ialah: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, Andreas saudara Simon, Yohanes dan Yakobus, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya, dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena dari pada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: