Damai di Bumi, Damai di Surga

21 10 2010

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!”

Perikop hari ini terkesan menjadi kontroversial, kehadiran Yesus justru membawa pertentangan, padahal dalam perikop lain Yesus sendiri mengajarkan murid-muridNya untuk saling mengasihi. Disini dikatakan bahwa ajaran Yesus bisa menjadi pertentangan antara anggota keluarga yang tentunya memiliki relasi sangat dekat, padahal di bagian lain bahkan dalam kitab Taurat diajarkan bahwa kita harus menghormati orang tua. Lalu mana yang benar?  Atau jangan-jangan kita salah menangkap maksud perkataan Tuhan?

Pertentangan yang timbul dimana-mana termasuk diantara sanak keluarga, biasanya disebabkan adanya perbedaan prinsip. Orang tua maunya A, si anak maunya yang lain. Demikian juga dengan antara saudara bahkan antara ipar dan mertua. Padahal mereka semua tinggal dalam satu rumah yang sama, yang setiap harinya berjumpa dan berinteraksi. Maka bisa dibayangkan apa yang terjadi setiap harinya bila terjadi pertentangan termasuk antara suami istri, tidak ada yang tahan dan betah untuk tinggal di rumah. Katanya rumah seperti neraka, bawaannya panas hati terus. Banyak sekali anak-anak yang lari dari rumah sebagai akibat keluarga yang terpecah belah. Apakah ini karena ajaran Yesus?

Ada hal-hal prinsip yang diajarkan Yesus pada kita. Diatas semua perbedaan prinsip yang timbul dalam keluarga, maka kasih ada di atas segalanya. Yang diajarkan Yesus pun juga merupakan hal yang mendasar dan harus dipegang teguh, yaitu Allah mengasihi dunia dan Allah sangat mencintai manusia. Tapi Allah tidak bisa kompromi dengan dosa karena Allah itu kudus adanya, maka tidak mungkin dosa berada bersama-sama dengan yang kudus dan suci. Tidak ada kompromi dengan dosa, ini sudah pasti tidak bisa ditawar  bahkan bila itu dilakukan diantara anggota keluarga sekalipun.

Maka bisa saja kita tidak menyukai seseorang karena apa yang telah dilakukannya, kita tidak bisa kompromi dan membenarkan perbuatan-perbuatan salah yang melanggar FirmanNya. Tetapi kita bisa tetap mengasihi orang-orang ini dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Beranikah kita tetap memegang teguh prinsip ini dan tidak kompromi sekalipun dengan orang yang kita kasihi??  Tidak mudah memang, tetapi percayalah Roh Kudus sendiri pasti memberikan hikmat kebijaksanaan untuk bertindak dan berkata-kata dengan kasih.

Maka bila orang-orang yang kita kasihi melanggar Firman Allah, beranikah kita menegurnya, dan dengan kasih mengajaknya kembali bertobat dan menerima kasih  Allah? Kalau saja setiap orang bisa tetap memelihara kasih tanpa kompromi dengan dosa, tentu setiap pertentangan dan perbedaan pendapat dapat diatasi untuk dicarikan jalan keluar terbaik sehingga tidak perlu menimbulkan perpecahan satu sama lain.Kalau saja ini dilakukan dalam setiap keluarga, tentunya tidak perlu ada perceraian yang timbul karenanya.

Karena kasih Yesus pada kita, maka Ia rela mengorbankan diriNya untuk mendamaikan kita dengan Allah Bapa. Sehingga kita memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan kembali kepada Sang Pencipta. Maka setiap saat sebelum komuni kita berkata ” Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”, ingatlah juga bahwa Yesus pun berkata “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk” (Yoh 5:14)

Yesus begitu mengasihi kita, Ia ingin kita kembali menikmati kasih Tuhan dan tidak terjerumus lagi kepada hal yang lebih buruk karena kebebalan kita sendiri. Marilah menanggapi cintaNya dengan tidak kompromi lagi dengan dosa.

===============================================================================================

Bacaan Injil Luk 12:49-53
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: