Isi Mulut = Isi Pikiran

27 09 2010

“Timbullah pertengkaran di antara para murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka”

Memang isi kepala setiap orang tidak dapat diketahui siapapun. Mungkin hanya orang-orang yang memiliki kemampuan telepati bahkan yang sekarang sedang trend – hypnotherapy bisa membuat seseorang mengeluarkan apa isi kepalanya, apa yang ada di pikirannya.  Sulit sekali mengatur apa yang diucapkan agar bisa menutupi apa yang sebenarnya ada didalam pikiran seseorang. Kebiasaan berbohong, atau munafik merupakan salah satu upaya mengelabui apa yang sebenarnya ada didalam pikiran. Terkadang demi sopan santun, kita mengatakan ‘tidak’ padahal kita lapar saat ditawari makanan seseorang… atau bisa jadi kita melakukannya karena gengsi atau malu.

Bagi mereka yang sudah sangat akrab satu sama lain, semakin sulit menutupi apa yang ada di pikiran – tingkat hubungan yang sudah sangat erat mampu membawa kita mengenali apa kebiasaan dan jalan pikiran teman baik kita. Tidak jarang justru karena perbedaan pola pandang kita bisa beradu argumen bahkan bertengkar satu sama lain mempertahankan pendapatnya. Jarang sekali pertengkaran terjadi diantara orang yang belum saling mengenal – kecuali kalau sudah keterlaluan misalnya mobilnya diserempet motor yang ngebut ugal-ugalan.

Maka semakin dekat hubungan kita dengan para teman dan sahabat kita, semakin kita mengenali kelemahan dan kekuatan seseorang. Hubungan yang kuat dalam komunitas justru bisa saling membangun iman dan karakter satu sama lain. Demikianlah yang terjadi dalam komunitas orang beriman. Saat masih ada Jesus ditengah mereka, satu sama lain bertengkar tentang ‘posisi’ mereka – siapa lebih penting dari siapa. Saat Jesus sudah tidak berada di tengah merekapun masih ada pertengkaran diantara para murid … bahkan sampai sekarang masih ada kelompok yang merasa saya lebih ‘benar’ dari aliran kristen yang lain.

Lalu bagaimana kita menghadapi perbedaan pola pandang yang pasti selalu dijumpai dalam berkomunitas? Rahasianya ada pada kerendahan hati kita, kemampuan untuk mengakui kita tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Kita lebih membutuhkan orang lain – kita juga perlu memurnikan hati kita seperti seorang anak. Tidak ada tujuan apapun selain meninggikan nama Tuhan dalam setiap perkataan dan tindakan kita. Tidak perlu melarang, membantah atau memprotes setiap tindakan yang masih bertujuan baik – walaupun mereka bukan seiman bahkan tidak beriman sekalipun. Semua yang baik pasti berasal dari Allah. Ialah yang menanamkan segala yang baik pada diri setiap manusia.

Sebaliknya segala yang jahat, pikiran yang culas, mau menang sendiri pasti bukan berasal dari Allah.  Benih yang jahat inilah yang harus dicabut dari hati kita, dibersihkan dari pikiran kita. Dengan demikian kita memiliki pikiran terbuka untuk berdialog tanpa harus bertengkar. Mampu memahami jalan pikiran orang lain tanpa ikut menjadi emosi. Mampu menerima kelebihan orang lain tanpa harus menonjolkan diri. Kerendahan hati membawa kita pada kebesaran jiwa, mengakui kelebihan orang lain dan juga menerima kekurangan diri sendiri – serta selalu bersedia untuk menyempurnakannya dari hari ke hari.

Proses ini sulit sekali dilakukan sendiri, kita membutuhkan bantuan orang lain. Kita perlu tumbuh dalam komunitas orang beriman yang saling mendoakan saling membimbing satu sama lain. Tumbuh bersama seperti para murid, saling memperhatikan – walau pastinya pernah juga bisa berbeda pendapat – tapi tidak berakhir dengan perpecahan. Para murid yang saling ingin menonjolkan diri pada awalnya, akhirnya semuanya mengambil bagian dalam pekabaran Injil. Mereka tetap bersatu dalam pelayanan. Semua murid-murid Kristus menjadi pewarta Kabar Baik sampai keseluruh Asia kecil, sehingga Injil tersebar sampai keujung bumi. Perbedaan pendapat perlu terus diasah sambil memperbaiki isi hati dan pikiran selaras dengan Sang Sabda itu sendiri dan akhirnya berbuah kerendahan hati – semua bertujuan baik bagi kebesaran nama Tuhan saja. Bukan bagi kebesaran diri kita sendiri.

==============================================================================================

Bacaan Injil Luk 9:46-50

“Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka.Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.”Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: