Sakit Tapi Tidak Sakit

21 09 2010

“Bukan orang sehat yang membutuhkan tabib tetapi orang sakit”

Menghadapi anak-anak yang sedang ‘sakit’ memang gampang-gampang susah. Dari yang kecil usia balita, usia SD sampai mahasiswa punya cara penanganan sendiri bila mereka sakit. Waktu anak masih kecil seorang ibu sulit mengetahui kalau anaknya sedang sakit, tahunya rewel terus dari pagi dan tiba-tiba suhu badannya panas. Nanti waktu anak di usia sekolah, sakitpun bisa dimanipulasi. Pagi-pagi si anak bilang perutnya sakit atau kepala pusing, ujung-ujungnya minta ‘dirumahkan’.  Dan akhirnya ketahuan bahwa ‘morning sickness’ itu tadi hanyalah usaha untuk menghindari guru karena tugasnya lupa dikerjakan. Usia SMA mulai bandel, surat orang tua dibuat dengan tandatangan palsu agar mereka bisa bolos dengan alasan ‘sakit’. Saat mereka sudah mahasiswa, kitalah yang memaksa mereka ke dokter karena melihat ada yang ‘tidak beres’ sementara si anak menyangkal bahwa mereka sakit. Namanya juga anak-anak…..Kejujuran dan kerendahan hati perlu diajarkan sedari kecil agar anak-anak menyadari dan mau mengakui bahwa diri mereka sakit dan membutuhkan pertolongan.

Bukan hanya anak-anak, orang dewasapun juga sama susahnya diberitahu bahwa mereka tidak sehat, bahwa mereka perlu perawatan. Kalau kita mau teliti hal ini bisa dilihat dari gaya hidupnya, pola makan tidak beraturan dan pola istirahatnya kacau ….sudah pasti terlihat  tanda-tandanya  bagi kelompok  pekerja keras. Walaupun usia masih muda, masih usia produktif pasti ada tanda-tanda tidak sehat dan tidak seimbang dalam metabolisme tubuhnya. Tapi justru setengah mati kita memaksa mengajak mereka ke dokter, karena mereka merasa ‘fine-fine’ aja.  Tidak merasa sakit, masih bisa bekerja dan beraktivitas. Nanti kalau tiba-tiba pingsan, blackout… naaah, baru ‘nyadar’ kalau sudah lampu kuning  bahkan sudah akut keadaannya baru mau diajak periksa diri ke dokter.

Cara terbaik sebelum terlanjur sakit parah adalah dengan memiliki gaya hidup sehat dan melakukan tindakan preventif secara periodik memeriksakan diri. Disalah satu lingkungan di paroki kami diadakan kegiatan penimbangan badan dan pengukuran tensi yang dilakukan sebulan sekali. Kegiatan ini tidak hanya untuk anggota lingkungan (kring) tetapi juga masyarakat yang tinggal disekitarnya. Sambil menunggu acara timbang badan, baik balita sampai dewasa, diadakan penyuluhan kesehatan. Pesan apa saja disampaikan disini, terutama tentang pola hidup sehat dan berbagai info penyakit masa kini, terutama di perkotaan. Awalnya yang datang hanya anggota lingkungan, tapi lama kelamaan tetangga kiri-kanan juga ikut hadir. Setelah berjalan beberapa waktu, hasilnya mulai terasa. Selain kesehatan diri terpelihara, para lansia juga menjaga pola makan, yang mudapun berhati-hati dalam menjaga jam kerjanya. Mereka sadar kalau sebulan itu kegiatan tubuhnya meningkat dan makan tidak teratur maka tensinya bisa meningkat dan sering pusing. Begitu pola makan dan kegiatan diubah, maka hasilnya bisa terlihat bulan berikutnya. Ternyata dampak dari kegiatan ini bukan hanya meningkatkan kesadaran akan kesehatan diri tetapi juga  mengakrabkan anggota rukun tetangga dan rukun warga disekitarnya. Mereka keluar rumah sebulan sekali bukan lagi untuk menimbang badan saja, tapi juga bersilaturahmi. Walhasil badan sehat, lingkungan sehat, tetanggapun akrab.

Inilah justru penyakit yang harus diperangi bersama. Penyakit yang membuat kita menjadi individualis, memikirkan diri sendiri dan tidak perduli komunitas disekitarnya. Sibuk dengan ‘kalangan sendiri’. Repotnya lagi, jenis penyakit seperti ini paling sulit disadarkan bahwa mereka itu ‘sakit’ dan menyakiti masyarakat dengan menularkan virus ‘eksklusivisme’ – menjadi pribadi tak tersentuh di menara gadingnya. Sekali lagi menyadarkan orang sakit itu memang sulit, apalagi kalau yang menyadarkan sendiri ‘gak nyadar’ kalau dia juga sakit :D

Dibutuhkan kerendahan hati dan keterbukaan serta kesetiaan untuk senantiasa mengukur setiap hari dan setiap saat, apakah parameter ‘sehat’ dan ‘bersih’ masih dalam batas normal. Kita perlu juga mawas diri bahwa kitapun perlu mendengarkan saran orang lain yang mengingatkan bahwa kita menderita ‘sakit’ – bisa sakit jasmani maupun sakit rohani yang bisa menulari sekitar kita bahkan komunitas kita. Marilah kita  memeriksa kesehatan batin kita dan berani mengakui  bahwa ada bagian-bagian tertentu yang sebenarnya kita sembunyikan. Tanpa sadar kita tidak ingin orang lain tahu bahwa kita sakit. Kita pura-pura sehat padahal kita sedang sakit dan memerlukan pertolongan.  Tuhan ingin kita terbuka dan mengakui bahwa kita sakit, kita tidak sempurna. Untuk itu kita mau datang dengan kerendahan hati serta mohon kemurahanNya untuk menyembuhkan kita dari segala kekurangan kita. Sehingga dengan penuh kesadaran kita mampu setiap kali mempersiapkan diri sebelum menerima Tubuh Kristus dengan menjawab ” Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, Tapi bersabdalah saja maka saya PASTI sembuh!” Tubuh Kristus memang hanya berarti bagi mereka yang sungguh merasa membutuhkan pertolongan, yang selalu merendahkan hati bersedia mengakui kekurangan serta kelemahannya dan karenanya mereka memerlukan kasih Tuhan.

===============================================================================================

Bacaan Injil Mat 9:9-13

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku.” Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: