Mendengar dengan hati

18 09 2010

“Berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan”

Umumnya orang-orang yang senang membaca adalah orang-orang yang mudah diajak berdiskusi dan tukar pendapat. Mereka bisa memahami pendapat orang lain walau belum tentu harus setuju. You are what you read adalah prinsip membangun diri serta mengoreksi diri laksana ranting yang siap dipotong kalau kurang subur. Kita bisa lihat kok gaya pembicaraan orang-orang yang doyannya nonton sinetron dan baca majalah gosip jadinya juga bigos (biang gosip).Demikian pula saya jumpai teman-teman saya  sejak kecil yang mudah bergaul akhirnya sebagian besar, atau kalau boleh dikatakan rata-rata  jadi pengusaha. Orang-orang yang fleksibel, lentur dan mudah beradaptasi ini bisa menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan baru. Umumnya mereka juga tahan banting, tetap bisa tertawa tidak terlihat hidupnya tertekan, walaupun saya tahu pasti mereka punya masalah yang cukup rumit. Ini semua adalah hasil tempaan bertahun-tahun karya orang tua mereka saat mereka ini masih kecil, masih bisa dibentuk.

Saat saya berkonsultasi dengan seorang Psikolog tentang masalah anak, ia mengatakan bentuklah anak-anak dengan kebiasaan baik hingga mereka mencapai usia 21 tahun. Karena setelah itu kepribadiannya sudah mulai menjadi lebih sulit untuk diubahkan. Maka saya tak bosan-bosannya mengingatkan, memuji segala yang baik yang mereka lakukan, mengoreksi dan memberi solusi langsung bila ada hal-hal yang harus diluruskan. Saya ingat juga bagaimana bapak dan ibu memberikan banyaknya aturan buat saya, sebagai anak tertua perempuan lagi.  Rasanya gak adil dibandingkan adik-adik yang sebagian besar laki-laki. Tapi untunglah waktu itu saya kok juga takut  banget melawan mereka. Bisanya cuma mendongkol dan mengomel di diary, tapi gak pernah keluar sepatah kata protes sekalipun. Aturan yang berlaku puluhan tahun lalu saya dapatkan buahnya sekarang.

Demikianlah Injil hari ini, kita perlu memahami segala hal yang tersirat dari yang tersurat. Mencoba mengambil waktu untuk membuat refleksi kehidupan dari setiap kejadian. What is God trying to say to me? Kira-kira apa yang harus saya pahami dari pertemuan ini, kejadian ini, dari semua masalah yang ada. Adakah yang harus kita perbaiki?  Semua perumpamaan yang diberikan Yesus perlu dipahami dan direnungkan konteksnya bagi kita sendiri, termasuk semua kejadian yang kita alami dalam hidup penziarahan ini. Yesus berbicara dengan perumpamaan yang bisa ditangkap dengan bahasa yang dipahami orang-orang saat itu, tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka para petani. Tuhan kita juga berbicara lewat kejadian sehari-hari yang hanya bisa dipahami dengan hati, bisa didengarkan dengan roh kita karena Tuhan adalah Roh. Kita perlu menggunakan bahasa yang sama, bahasa kasih, bahasa yang dipahami oleh semua orang.

Maka bila kita terus mengolah mata batiniah kita, apa yang kita lakukan ini akan membuat hati kita seperti tanah yang siap untuk dicangkul menjadi lebih lembut. Hati kita tidak seperti tanah yang keras, tetapi sudah mudah ditanami karena sudah diolah setiap kali. bahkan setiap hari melalui permenungan diri Kita bisa menerima segala masukan bahkan kritik yang bagi orang lain menyakitkan hati, tetapi kita tetap melihatnya secara positif.  Kita mau mendengarkan dengan hati dan mengoreksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik mengarah kepada karakter Kristus. Kita mau mengasah mata batin melihat  manusia disekeliling kita dengan mata seperti mata milik Kristus. Dengan mengasah mata batin, kita belajar membedakan mana yang baik dan mana yang harus dijauhi sehingga iblis tidak bisa menanamkan benih irihati, cemburu dan kesombongan serta ketamakan. Hati yang lembut membuat kita mudah bersyukur dan tersenyum walau hati teriris karena disakiti.

Demikian juga apa yang kita lihat yang kita pelajari adalah segala yang baik, yang menumbuhkan semangat, membangun iman. Maka  apapun kata-kata yang kita ucapkan dan kita sampaikan juga adalah hal yang baik dan meneguhkan orang lain. Kebiasaan yang baik yang kita ajarkan pada anak-anak, hal simpel seperti mengucapkan salam, terima kasih, maaf dan tolong serta tidak pernah berkata yang menyakitkan hati, kelihatannya memang harus senantiasa dibudidayakan. Kita bisa melihat apa yang terjadi di televisi, perkataan kasar pejabat, caci maki di sinetron, bahkan kelakuan para artis merupakan buah dari masyarakat yang sakit. Tapi juga bisa jadi racun bagi kita juga bahkan racun bagi anak-anak kita bilamana mereka tidak diberitahu apa yang baik dan seharusnya dilakukan.

Btw… kalau kita sudah diatas 21 tahun gimana ya? Gak mudah katanya untuk berubah, tapi bisa kok kalau ada niatnya. Marilah bangun kebiasaan baik seperti membaca buku yang positif dan bersiap memperbaiki karakter yang kurang baik. Pilihlah buku tentang kiat dan kisah sukses orang ternama. Pilih juga acara tivi yang mendidik dan membangun paradigma yang luas. Termasuk juga biasakan membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, karena disitulah kita belajar tunduk pada Roh Tuhan.

Marilah kita saling mengasah mata batiniah kita, sambil tidak bosan-bosannya  mengajak anak-anak melihat  dan mendiskusikan berbagai kejadian disekeliling kita agar mereka juga belajar semakin arif dan mengenali apa yang Tuhan ingin kita lakukan dan sampaikan kepada dunia di sekitar kita. Dengan demikian diharapkan kehidupan kita bahkan anak-anak kita berbuah kebajikan bisa 30 x lipat bahkan seratus kali lipat dan bisa dinikmati banyak orang.

==============================================================================================

Bacaan Injil Luk 8:4-15

“Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: