Cangkul ….Cangkul…Cangkul Yang Dalam

2 09 2010

“Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”

Saya tidak tahu berapa banyak dari anda begitu membaca judul renungan ini otomatis teringat lagu jadulnya Ibu Sud, bahkan ikut menyanyi lagu “Menanam Jagung”. Gak yakin juga apakah anak-anak sekarang masih mengenali lagu tersebut. Begitu sederhana kata-katanya, mudah dipahami, mudah dicerna dan dibayangkan… tapi jangan suruh mengerjakannya. Gak banyak dari kita pernah melakukannya – menanam benih jagung bukan pekerjaan mudah. Apalagi disuruh mencangkul yang dalam, mungkin kita otomatis menyuruh ‘ajudan’ saja yang mengerjakannya. Kok bisa begitu? Tentu karena profesi kita tidak bersinggungan dengan urusan cangkul-mencangkul, dan untuk sementara orang pekerjaan mencangkul adalah pekerjaan ‘kasar’ – bukan yang ‘halus’ yang membutuhkan ‘otak’ – cuma butuh ‘urat’ alias kuat tenaga.

Setiap profesi membutuhkan keduanya, otak atau pemikiran untuk merancang dan mengatur strategi terbaik, dan juga tenaga untuk melakukannya. Ada yang bisa dikerjakan sendiri, ada yang harus dibantu banyak orang. Tidak ada profesi yang lebih rendah, atau lebih tinggi satu dengan yang lainnya. Semua dibutuhkan demi kepentingan orang banyak. Kalau tidak ada petani menanam jagung, mana bisa kita makan sayur asem. Bahkan dihotel sekalipun, jagung pun dihidangkan sebagai temannya steak.

Kata siapa petani tidak perlu ‘otak’? Para petani juga memutar otak mencari benih varietas jagung terbaik yang bisa dipanen 3 kali setahun, produksinya banya, tidak perlu pupuk banyak tapi tahan hama. Mereka harus pandai-pandai memanfaatkan lahannya juga agar produktivitasnya tinggi dengan memilih tanaman tumpangsari. Petani juga perlu karyawan banyak kalau lahannya luas, seringsekali mereka juga pakai tenaga ‘outsourcing’. Petani juga perlu modal seperti pengusaha lainnya, dan harus pinter2 putar otak mengatur keuangan agar diakhir panen ia juga bisa untung. Untuk apa jadi petani kalau jadi buntung – tidak beruntung?

Injil hari ini mengingatkan kita, apapun profesi kita, kita sering sekali menggunakan otak dan logika sendiri – berupaya sekeras mungkin bekerja semaksimal mungkin. Tapi yang paling penting sering kita lupakan – menyertakan Tuhan didalamnya. Mau tahu buktinya? Action speak louder than words. Coba perhatikan tindakan-tindakan orang-orang disekitar kita, perhatikan juga ucapan-ucapannya. Masih banyak orang berkata ” Sudahlah, urusan bisnis jangan dicampur aduk sama urusan Tuhan.” Tidak banyak orang yang berdoa dulu sebelum bekerja. Tidak banyak orang berdoa dulu sebelum bertemu rekan bisnis untuk negosiasi.

Bukankah Tuhan yang kita agungkan adalah pemilik seluruh ladang, daratan, laut bahkan bumi yang kita tinggali? Mengapa kita merasa kita lebih ‘tahu’ tentang bisnis dan pekerjaan kita daripada Tuhan sendiri?  Semua ini diperlukan untuk kesejahteraan bersama, untuk terselenggaranya kehidupan kita juga. Coba bayangkan kalau setiap orang melakukan pekerjaannya dengan melibatkan Tuhan, mereka akan bekerja layaknya seperti beribadah. Mana ada pekerja dan pejabat yang korupsi? mana ada pebisnis yang kotor dan main ‘dibawah meja’ (sekarang prakteknya semeja-mejanya pun dikorupsi).

Kita diingatkan untuk siap menerima tantangan, sekalipun diluar akal sehat – lakukan yang tidak mungkin bagi manusia tetapi selalu mungkin didalam Tuhan. Bekerjalah bukan hanya semaksimal mungkin, tapi bekerja ikhlas dan bekerja cerdas. Bekerja ikhlas menunjukkan bahwa segala profesi dan pekerjaan kita tidak lepas dari penyertaan Allah senantiasa. Bekerja cerdas mengundang kreativitas, dan yang paling kreativ diatas semua adalah Tuhan yang punya hak paten atas segala ciptaanNya.

Diatas segalanya, selain profesi dan pekerjaan yang dipercayakan kepada kita untuk dikelola, masih ada yang lebih penting lagi – yaitu menjadi penjala manusia. Hanya itu yang menjadi penting dan berharga dimata Tuhan. Kalau saja diantara pekerjaan dan profesi kita, kita berhubungan dengan berbagai ragam manusia. Ada yang ‘nyangkut’ di jaring kehidupan kita, lalu ia bertobat meninggalkan kehidupan yang lama dan kembali memuliakan Tuhan…. wow… you are doing business with God ! Hanya itu yang penting bagiNya. Satu orang saja bertobat, ada pesta besar di Surga. Luk 15:10 “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”Cobalah kita renungkan kira-kira kenapa ya Tuhan memberikan kita profesi dan pekerjaan seperti yang kita lakukan, untuk siapa dan untuk apa? Siapa saja yang Tuhan ingin kita temui dalam kehidupan pekerjaan kita sehari-hari. We are all dealing with people, yesss.. manusialah yang juga paling berharga dimata Tuhan. Apakah manusia disekitar kita tidak berharga di mata kita? Why we are not  dealing biz w/ God?

Semoga kita mau merendahkan diri seperti Simon Petrus, menyerahkan segala kehidupannya untuk ‘doing the right business with God” – mengarahkan apa yang penting dalam hidup kita sejalan dengan rencana Tuhan – menjadi penjala manusia. Kalau Petrus berprofesi sebagai nelayan tentu tidak bisa memahami kata-kata lagunya ibu Sud ini. Kitapun tidak tahu bagaimana cara terbaik menanam jagung, tapi kita mau belajar dan melangkah bersama Tuhan untuk menjadi penjala manusia melalui profesi dan pekerjaan kita. Yang kita tahu tidak ada seseorang berhasil dengan usaha sendiri, harus ada kerjasama dari banyak orang, tapi terlebih lagi kita menyertakan Tuhan didalamnya… apalagi kalau kita bekerja demi terselenggaranya rencanaNya. Nyanyi yuuk…

ayo kawan kita bersama

menanam jagung di kebun kita

ambil cangkulmu, ambil pangkurmu

kita bekerja tak jemu-jemu

cangkul, cangkul, cangkul yang dalam

tanah yang longgar jagung kutanam

beri pupuk supaya subur

tanamkan benih dengan teratur

jagungnya besar lebat buahnya

tentu berguna bagi semua

cangkul, cangkul, aku gembira

menanam jagung di kebun kita

===============================================================================================

Bacaan Injil Luk 5:1-11

“Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahun ya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.”


Actions

Information

One response

30 11 2011
poberson naibaho

Bukan lautan hanya kolam susu, tapi petani dan nelayan masih miskin

http://pobersonaibaho.wordpress.com/2011/11/15/indonesia-kolam-susu-tapi-nelayan-dan-petani-miskin/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: