In Memoriam: Romo Slamet Lasmunadi Pr (di mata seorang bruder dan rekan imam)

16 08 2010

Romo Slamet sudah sejak di SMP Susteran Purwokerto berniat menjadi imam. Kemudian ia mendaftar ke seminari menengah, tetapi entah karena apa, ia pindah sekolah ke SMA Bruderan Purwokerto.
Tamat SMA, saya ketahui ia masuk Ordo Carmelit, tetapi rupanya di sana ia kurang pas. Dan beberapa waktu ia mencari panggilannya.
Ternyata ia masuk Fakultas Teologi Wedabakti – Kentungan sebagai calon imam untuk keuskupan Purwokerto.
Pada waktu Frater Slamet menjalani TOP di Paroki St. Perawan Maria Purworejo, setelah lama tidak berjumpa dengan saya, saat itu kita berjumpa. Pada waktu saya tanya: Lho, masih terus mau jadi imam? Dan dengan rendah hati Fr. Slamet menjawab: Iya,der. Dan saya pesan kepadanya: Kalau mau jadi Romo harus bersungguh-sungguh jadi Romo yang baik, jangan menambah barisan Romo yang bikin masalah. Dan Fr. Slamet menjawab: iya, der.

Itulah hal mengesan dengan pribadi Romo Blasius Slamet Lasmunandi Pr.
Dan saya bangga dengan Romo Slamet yang setia dan penuh perhatian kepada orang kecil, khususnya petani. Dan ia setia sampai dipanggil Tuhan.

Romo Slamet, selamat jalan karena Yesus sudah menyiapkan tempat di sorga.

Kami juga menyampaikan ikut berbelasungkawa kepada Mgr. J. Sunarka SJ, dan juga segenap umat Keuskupan Purwokerto yang kehilangan seorang Gembala Umat yang baik.

Salam
Br. Yoanes FC
Komunitas Bruder-bruder Karitas

=============================================================================================

Saya kenal Romo Slamet sejak Seminari Mertoyudan. Teman seangkatan. Perjuangan menuju imamat luar biasa, justru karena asma yang dideritanya, namun diterimanya pula sebagai rahmat! Pribadi yang suci, tekun dan tabah nan penuh semangat! Senyuman dalam penderitaan fisik merupakan sebentuk kesaksian indah bagi saya dan teman-teman. Kalau sudah kambuh asmanya, tidur malam di tengah silentium magnum, nafasnya yang berat terdengar di seluruh ruang tidur yang berisi 92 seminaris saat di Medan Pratama (kelas 0), maupun di Medan Madya (kelas 1); membuat saya dan teman-teman berdoa, semoga sang sahabat baik-baik saja.

Kini dia adalah imam dalam keabadian, kerinduan setiap imam. Sekali lagi, sugenG tindak Romo, sowan Gusti ing swarga! Berkah Dalem! – Aloys Budi Purnomo Pr, salah satu teman seangkatan di Mertoyudan

==============================================================================================

Pada Hari Senin 16 Agustus 2010 pk. 10.00 gedung Gereja Katedral Purwokerto dipenuhi umat untuk merayakan Ekaristi Requiem Rm Blasius Slamet Lasmunadi yang dipanggil Tuhan pada Hari Jumat 13 Agustus 2010 sekitar pukul 21.30-an. Umat berdatangan bukan saja dari wilayah keuskupan Purwokerto tetapi juga dari Surabaya, Jakarta, Bogor, Jogjakarta, Magelang, Pekanbaru, Solo dan lainnya. Perayaan Ekaristi Requiem dipimpin oleh Mgr Julianus Sunarka dan dengan konselebran hampir seluruh imam yang bekerja di wilayah keuskupan Purwokerto plus.

Adik-adik dari SD Bruderan Purwokerto, SMP Susteran Purwokerto dan SMA Bruderan Purwoketo juga turut merayakan ekaristi itu. Sekolah-sekolah itu adalah almamater Rm Slamet yang dibaptis dan dibesarkan di Purwokerto. Meski banyak anak hadir, misa nampak khusuk dan tenang.

Setelah salam pembuka, dibacakan riwayat hidup Rm Slamet oleh Rm M. Ngarlan, teman seangkatan tahbisan. Rm Slamet selama 9 tahun menjadi imam telah melaksanakan berbagai macam tugas perutusan. Dalam homilinya Mgr Julianus Sunarka mengulas tentang semangat hidup Rm Slamet yang menghayati kejujuran, kesederhanaan, kerelaannya untuk melayani dan kesetiaannya untuk memanggul salib.

Setelah homili dilanjut dengan pemberkatan jenazah oleh Rm Boni Abbas, deken dekenat tengah. Sesudahnya misa berlangusng seperti biasa sampai doa penutup. Ada dua sambutan sebelum berkat penutup yang disampaikan oleh wakil keluarga Rm Slamet yang diwakili oleh adiknya sendiri dan oleh ketua UNIO Rm Parjono.

Pemberangkatan jenazah dari Gereja katedral menuju ke Pemakaman Para Rama di kaliori, dipimpin oleh Rm Siswantoko, pastor paroki katedral. Lalu upacara pemakaman di kaliori dipimpin oleh Rm Vikjen, Rm Puryatno.

Semua rangkaian upacara pemakaman berakhir sekitar pk 14.30, termasuk tabur bunga dari umat dan penutupan lubang makam dengan semen. Rm Vikjen, Rm Ngarlan dan rombongan keluarga Rm Slamet adalah kelompok yang paling terakhir yang keluar dari kompleks makam kaliori.

Kehadiran umat untuk menghantar Rm Slamet ke rumah Bapa baik di Pemakaman kaliori maupun dalam tirakatan I pada hari sabtu malam dan tirakatan II pada Minggu malam, luar biasa banyaknya. Hal ini tanda bahwa Rm Slamet sungguh dicintai oleh umat dan memberikan kenangan indah bagi umat.

“Rm Slamet, temenku, meski usiamu sebagai imam baru 9 tahun, namun engkau telah menghadirkan berkatNya secara berlimpah. Aku dan banyak orang yang telah berjumpa denganmu telah merasakannya. Selamat jalan ke rumah Bapa di sorga. Doakan aku dan umatmu, agar mencontoh kesetiaan, kesederhanaan, kejujuran, pelayanan, ide-ide inspiratif dan kebaikanmu itu”.

ratman pr


Actions

Information

One response

21 10 2010
yosephinne

romo ..
romo sedang ap ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: