Tumbuh Bersama

24 07 2010

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai”

Sebagai orang tua kita bisa memperhatikan bahwa perkembangan anak-anak sungguh unik antara satu dan yang lainnya. Anak yang pendiam ternyata memiliki kelebihan lainnya dan baru terlihat saat ia besar. Anak yang waktu kecilnya begitu posesif, selalu memulai keributan dengan saudaranya ternyata setelah remaja bisa juga menjadi anak yang bertanggungjawab. Beruntunglah para orang tua yang dengan sabar dan penuh kasih bisa memahami dan mendampingi anak-anak, memberi kesempatan kepada mereka untuk tumbuh dan berkembang ke arah yang positif sejalan dengan kepribadiannya masing-masing. Salut juga buat orang tua yang dengan sabar mencoba berbagai macam cara untuk menggali benih-benih talenta yang ada serta menumbuhkannya sehingga anak-anak berprestasi saat remaja.

Seorang rekan guru di daerah pedalaman mengeluh karena keinginan anak-anak  disekolahnya setelah lulus hanya untuk jadi PNS. Karena hanya itulah menurut mereka satu-satunya cara yang bisa merubah kemiskinan yang ada  dengan korupsi. Ia merasa pesimis sebagai guru – apakah dengan demikian ia hanya membesarkan serigala dikemudian hari.  Tapi saya sampaikan untuk tetap tulus mengabdi bagi masa depan yang lebih baik bagi mereka, siapa tahu satu diantara dua puluh anak menjadi martir dan pemimpin atau pengusaha yang berhasil bagi orang sekampungnya. Kesempatan untuk menumbuhkan kebaikan harus tetap ada ditengah segala ancaman.

Dunia disekitar kita rasanya juga semakin tidak membaik. Silahkan sebutkan wilayah apa yang membaik, pendidikan, kebebasan beragama, politik/pemerintahan, olahraga, kesenian dan hiburan. Wah…. sudah tidak ada yang ideal. Tetapi menumbuhkan yang baik tetap harus diupayakan mulai dari diri sendiri. Maka tidak bisa lagi kita hidup eksklusif seperti katak dalam tempurung, hanya bergaul dengan kalangan sendiri. Hanya mau berteman dengan orang-orang yang kita pandang ‘selevel’ untuk menghindari ‘resiko’. Kita harus berani menyatakan diri dan mengatakan kebenaran kalau tidak ingin terhimpit diantara ilalang kehidupan. Kita harus berani juga keluar menebarkan benih diantara tiadanya harapan. Justru ditempat yang ganas seperti itulah dibutuhkan benih-benih kebaikan, semakin banyak akan memberikan perbedaan dan kebaikan pada akhirnya. Itulah hakekat kebebasan yang Tuhan berikan. Tuhan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kita, apakah kita memilih kebenaran ataupun memilih menyimpang dari jalan-jalannya.

Injil hari ini menjelaskan benih dan ilalang yang tumbuh bersama. Para pekerja tentu juga punya pertimbangan ekonomi dengan mengusulkan perlunya membuang ilalang dan bunga rumput yang ada disekitar gandum. Jangan sampai pemilik lahan gandum rugi akibat lalang yang menghambat pertumbuhan gandumnya. Disisi lain pemilik ladang gandum juga cukup kontroversial, ia tidak mau mengambil resiko akan tercabutnya gandum yang sedang bertumbuh atau terganggu pertumbuhannya. Ia tahu sekali bahwa gandum tersebut juga rapuh. Maka ia memilih mengijinkan ilalang tetap tumbuh bersama dengan gandum.

Kita diingatkan agar dalam setiap pengambilan keputusan, terutama bila melibatkan banyak pihak, selalu mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang. Tidak hanya memperhatikan hal-hal yang prinsip tapi juga hal-hal yang kecil sekalipun perlu diperhitungkan dan jangan diremehkan. Memang sulit mendapatkan hal yang sempurna dan ideal dalam pengambilan keputusan, tapi Yesus telah memilih yang terbaik dengan mengambil resiko terkecil. Ia tidak mau gandum ikut tercabut, dan tetap memberi kesempatan gandum untuk bertumbuh dan berbuah diantara ilalang. Siapa tahu nantinya tetap bisa menghasilkan banyak juga.

Apakah kita juga memberi kesempatan kepada orang lain terutama mereka yang tersisih dan miskin kesempatan untuk berkembang dengan mengambil resiko paling sedikit, sehingga hal yang baik pun bisa terus berkembang dengan penyertaan Ilahi? Atau kita memilih tidak berbuat apa-apa sehingga sang ilalang akan melibas benih yang sebenarnya baik? Lebih baik kita tetap berusaha menumbuhkan kebaikan dimana-mana, walau kejahatan rasanya mengurung kita. Siapa tahu panenan nanti juga menghasilkan kebaikan yang berlipatganda karena dilakukan bersama-sama. Lebih baik memilih bertindak mengambil satu langkah positif, dari pada tidak bertindak sama sekali dan hanya merasa kasihan atau berkeluh kesah melihat keadaan yang buruk dengan ilalang disekitar kita.

===============================================================================================

Bacaan Injil Mat 13:24-30

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: