Melihat dan Mengenal Tuhan

22 07 2010

“Aku telah melihat Tuhan!”

Semenjak dipercaya menduduki beberapa posisi dalam kepengurusan harian di beberapa organisasi, saya berkesempatan untuk lebih sering bertemu dan akhirnya mengenal beberapa pengurus yang sering disebut ‘tokoh’ atau setingkat ‘seleb’ lah. Bahkan beberapa orang teman meledek juga wah… sudah masuk ‘elit’. Jengah juga rasanya mendengar sebutan itu, sepertinya tidak ada yang berubah dari saya. Seperti judul lagu “Aku masih seperti yang dulu”, saya masih suka jahil becanda ganggu teman; kalau ketawa suka lupa tempat bisa cewawakan… saru kata orang jawa, gak boleh anak perempuan begitu katanya. Wah syusyah dong, capek kalau harus ja’im dan kata ‘ja’im’ gak ada dalam uraian tugas tanggungjawab pengurus harian. Apalagi dalam kamus saya, apa adanyalah – mungkin ja’im kelihatannya kalau baru bertemu dan belum kenal dekat. Bukannya jaga image (ja’im) tapi justru memperhatikan apakah lawan bicara saya dan sekitar saya punya ‘chemistry’ yang sama, punya orbit serupa serta visi yang sama. Kalau sudah cocok, yuuuuk mareeeee….

Mungkin inilah yang membedakan orang-orang yang sekedar bertemu dan melihat satu sama lain, dengan orang-orang yang bertemu dan bisa saling mengenal. Kalau hanya sekedar bertemu pandang sekali dua kali, agak sulit kita mengenal seseorang. Tetapi dengan berjalannya waktu, frekwensi pertemuan lebih tinggi, sering bercakap-cakap akhirnya bisa bercanda, membuat satu sama lain menjadi lebih dekat. Dan akhirnya bisa mengenal kebiasaan-kebiasaan satu sama lain. Si ini sukanya makan kacang pilus, si anu suka ngomong jorok, si inu kalau datang pasti terlambat dan duduk dekat pintu keluar biar bisa menyelinap keluar duluan. Belum lagi si itu yang kalau datang pasti bawa makanan dan harus dihabiskan didepan dia, padahal kita-kita barusan makan. Yah macem-macem deh karakter manusia. Ternyata seleb dan para tokoh pun manusia juga kok, ada kekuatan dan kelemahannya juga. Bisa meledak-ledak tapi bisa becanda juga. Saya hanya bisa bersyukur kalau berada diantara mereka, paling tidak saya bisa belajar dari kepiawaian mereka, tukar pikiran dan lebih mengasah ketajaman analisa saya. Gak ada yang ‘kebetulan’ kan kalau kita adalah umat yang percaya bahwa Tuhan pencipta segalanya, termasuk kesempatan-kesempatan seperti itu?

Buat sementara orang, banyak yang memilih untuk menjadi ‘nobody’ tidak terlibat apa-apa dan memilih ‘dibelakang layar’. Dengan kata lain mereka tidak siap untuk menerima tanggungjawab lebih besar untuk maju kedepan dan menjadi ‘somebody”. Padahal dalam dirinya pasti ada kekuatan seperti intan yang belum terasah oleh berbagai keadaan. Kita sendiri yang menghindari berbagai kesempatan untuk menjadi ‘somebody’ karena kita takut, kita khawatir tidak bisa melakukannya.

Maria dalam Injil hari ini, sama sekali tidak mengenali kesempatan istimewa dimana ia bertemu dengan Tuhan Yesus sendiri. Seharusnya ia mengenal Yesus karena telah bertahun-tahun berinteraksi dan terlibat dalam pelayannanNya. Tapi kemungkinan wujud fisiknya tidak dikenali Maria. Tetapi begitu Yesus menyapa dengan namanya, Ia menyapa secara personal secara pribadi, Maria tersentak kaget. Hanya Yesus yang bisa menyentuh sanubarinya, yang bisa memanggilnya dengan cara tertentu. Kalau bukan karena hubungan yang begitu dekat, tidak mungkin Maria mengenali Tuhan Yesus saat itu.

Kedekatan kita pada Tuhan tergantung dari frekwensi perjumpaan dan intensitas kedalaman hubungan itu sendiri. Bukan hanya dari seringnya kita berdoa atau membaca Kitab Suci, tetapi sejauhmana kita membangun hubungan yang intim, menjaga relasi yang semakin dekat sehingga kitapun menjadi semakin peka. Dalam tiap kesempatan kita bisa bertanya, kira-kira apa yang Tuhan ingin aku lakukan dalam keadaan demikian? Kalau Tuhan jadi saya apa yang harus saya lakukan? apa jawaban saya kepada orang ini? As if He is beside you, seperti layaknya soulmate kita sendiri. Kalau hubungan kita dengan Tuhan sudah demikian akrab, mana sempat sih kita bikin dosa? Rasa bersalah sedikit saja bisa membuat kita tidak bisa tidur tanpa memohon ampun. Apalagi kalau sampai tidak bisa berdoa dan tidak berani komuni, waaaah…  ini tanda bahwa saya perlu Sakramen Pengampunan dosa.

Seseorang yang masih bertanya kira-kira kalau begini dosa gak ya? kalau begini caranya salah gak ibadat saya? Hal ini menandakan bahwa hubungan kita dengan Tuhan masih dalam tahap permukaan, masih dikulit belum mendalam. Masih takut begini dan begitu, karena memang belum mengenal siapa Sang Kasih itu sendiri. Tuhan Yesus itu bukan seperti seorang tokoh atau seleb yang jauh dari jangkauan kita, Ia begitu dekat dan ada didalam hati kita. Ia menyebut kita dengan nama kita sendiri, Ia mengenal kita jauh lebih banyak dari kita mengenal Dia, asal saja kita mau membuka hati menerima kehadiranNya dalam kehidupan kita.

Marilah kita tingkatkan relasi kita dengan Dia yang memberikan kehidupan dan menjanjikan kehidupan kekal bagi kita. Sehingga dalam setiap kesempatan kita tidak saja “melihat” Tuhan tapi kita juga tahu apa yang Tuhan inginkan apa yang kita lakukan dan katakan – karena kita mengenal Dia, Sang Juru Selamat – Immanuel.

==============================================================================================
Bacaan Injil Yoh 20:1.11-18
“Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: