Tuhan Tidak Pernah Libur

16 07 2010

“Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”

Alangkah senangnya kalau hari-hari sudah mendekati weekend, terutama kami kaum profesional dan pekerja yang setiap harinya berpacu dengan waktu. Segala rencana dikepala di test dan di analisa mana yang lebih menghasilkan kenikmatan dan kenyamanan selama 2 hari sabtu dan minggu nanti ini.  Nothing wrong with that.

Tapi ada hal yang terlupakan bahwa sebenarnya satu hari sudah seharusnya disediakan untuk beristirahat dari kesibukan dan untuk memuliakan Tuhan. Itu sudah ditetapkan sejak jaman penciptaan dimana Tuhan dipercaya dengan kaca mata iman, beristirahat di hari ketujuh, bukan hari keenam. Hari yang khusus digunakan untuk berhenti dari segala kesibukan pekerjaan dan kembali merenungkan kasih dan rahmat Tuhan.  Kita justru dapat bonus 2 hari istirahat setiap minggunya. Saudara kita yang muslim memilih hari Jum’at sebagai hari berdoa berjamaah, sedangkan kelompok kristiani memilih hari Minggu karena hari Minggu adalah hari kebangkitan Jesus Kristus. Saudara kita dari Gereja Adven memilih hari Sabtu sebagai hari untuk memuja Tuhan. Hari dimana tidak diadakan kegiatan apapun termasuk pesta dan arisan kecuali ke gereja.

Kenyataannya masih banyak dari kita tidak sungguh-sungguh menyisihkan saat-saat memuliakan dan mensyukuri rahmat Tuhan. Tidak semua melaksanakan kewajibannya berjamaah. Bahkan hari Jum’at menjadi hari macet Jakarta karena orang kantoran memanfaatkan wira-wiri Jakarta di saat istirahat siang yang ekstra panjang. Hari Minggu gereja-gereja juga tidak penuh dengan umat yang datang ke Misa seminggu sekali.  Coba anda hitung umat paroki anda dibandingkan dengan kapasitas tempat duduk yang ada. Kalau betul semua umat mengikuti Sakramen Ekaristi setiap minggu dengan ajeg, pasti jumlah misa, kursi dan tenda  harus ditambah. Lalu apa lagi yang dilakukan saat weekend  kalau tidak memanjakan diri sendiri, mengijinkan menikmati hari libur untuk bersenang-senang dan lupa siapakah yang menyelenggarakan ini semua bagi hidup kita?

Mungkin kita menyalahkan Farisi yang menegur Yesus yang wira wiri di hari Sabat, jelas-jelas Yesus melanggar aturan hari sabat. Saat Yesus bekerja kita ikut bekerja, dan sayangnya sampai sekarang Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, buktinya bumi masih berputar dan manusia masih banyak yang lahir dan harus mati. Sibuk sekali trafik di Surga antara yang harus datang dan harus berangkat. Doa siapa yang didengarkan… wuih.. pasti riuh rendah 24 jam ya? Kok kita boleh istirahat sementara Tuhan tidak pernah berhenti bekerja melimpahkan rahmat?

Aturan manusia dibuat untuk beristirahat dan merenungkan rahmat Tuhan, agar manusia – kita-kita ini , tidak lupa akan asalnya. Bahkan mereka yang tidak percaya pada Tuhan pun tetap dapat menghirup udara segar dan menikmati hari-hari kehidupannya. Nah kalau aturan itu sendiri dilanggar, yang rugi ya manusia sendiri. Ia cenderung merusak dirinya karena tidak memelihara kesehatan imannya. Iman yang sehat membawa fisik yang kuat. Kesenangan diri hanya membuat manusia tamak tidak pernah puas akan dirinya, termasuk sampai merusakkan hidupnya sendiri.

Kalau murid-murid yang sedang setia melayani bersama Yesus dianggap melanggar aturan Sabat, padahal mereka sedang bersama Tuhan Yesus; lalu bagaimana kita yang tidak juga memuliakan Tuhan tapi juga tidak mengikuti Yesus setiap harinya? Kita termasuk pencuri hari Sabat dong? Mari kita mulai dengan komitmen diri untuk berhenti sejenak setiap jamnya, hanya untuk beberapa saat mengucap syukur betapa baiknya Tuhan memberikan kesempatan hidup dan memberikan teman-teman dan keluarga yang ada disekitar kita. Tuhan adalah pemilik hari Sabat, juga pemilik hari-hari lainnya, Dialah yang layak diagungkan dan disembah sepanjang hari kehidupan kita. Bukan hanya sekali seminggu, bahkan bukan hanya sejam sekali setiap minggunya. Biarlah setiap nafas hidup kita memuliakan Tuhan.

===============================================================================================

Bacaan Injil Mat 12:1-8

“Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: