Kisah Kak Delfi

21 05 2010

Siapa yang tidak tahu jika Kota Jakarta memiliki banyak kolong jembatan, di salah satu kawasan tepatnya di Papanggo Gang 24 Tanjung Priuk, terdapat sosok setia yang telah 10 tahun mengajar anak-anak. Berteman dengan aroma tidak sedap dan sampah, Kak Delfi biasa dia dipanggil oleh murid-muridnya tetap bertahan mengajar. Padahal bukan rahasia lagi jika kawasan itu riskan kriminalitas.

Delfi mengaku pernah dianggap gila oleh teman-temannya ketika memutuskan keluar dari pekerjaan lama dan mengajar di kolong jembatan. Sebelumnya tidak pernah terlintas dibenak perempuan asli Flores ini akan menjadi guru, apalagi guru tanpa kelas. Ya, Delfi mengajar di tempat seadanya di ruas Gang Papanggo dengan media belajar yang juga sangat terbatas. Namun, keluhan itu tak lantas membuat semangatnya luruh, karena setiap melihat senyuman anak-anak terpetik harapan jika suatu saat mereka akan jadi orang yang pintar. Pengaruh ajaran Santo Vincesius juga terasa di benak perempuan lajang ini. Menurutnya ajaran Santo menjadikan kaum miskin sebagai majikan dan bagian dari hidup.

Perlu diketahui, Delfi bukanlah tamatan Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP), melainkan lulusan diploma tiga Bina Sarana Informatika (BSI) Jakarta Pusat. Tapi kini, sepuluh tahun berlalu hatinya telah tertambat pada bidang pendidikan. Padahal semua terjadi begitu tiba-tiba. Semua berawal dari niatnya membantu Susteran Putri Kasih Pondok Ozanam, kebetulan waktu itu mereka mempunyai program pendidikan.
Ketika disinggung perihal keamanan, Delfi pun tersenyum seraya berkata “Kalau mau cari tempat yang aman, saya pikir tidak ada tempat yang benar-benar aman, semua kembali ke niat dalam hati,”. Jawaban Delfi lancar dan tanpa rasa was-was, seolah tak khawatir dengan kejadian buruk yang menimpanya saat mengajar. “Saya percaya pada warga di sini karena menitipkan anak-anak mereka untuk saya ajar,” lanjutnya.

Delfi memang sosok bersahaja yang mencoba melakukaan aktivitas luar biasa, Apa yang dilakukan perempuan berusia 28 tahun ini bahkan tak terlintas dalam benak kita. Cita-cita Delfi pun sederhana, dia hanya ingin anak-anak yang diajarnya bisa melanjutkan ke sekolah formal. Kebanyakan dari mereka memang tidak sekolah lantaran harus membantu orangtua bekerja menjadi pemulung. Meski mereka bekerja, mereka tetap harus belajar karena pada akhirnya mereka akan membantu orangtua dengan ilmu yang telah didapat.

Tidak Takut Resiko

Tak urung dirinya sempat mengeluh karena awalnya tidak mendapat restu dari orangtuanya. Bukan lantaran tidak digaji laiknya guru-guru di sekolah formal, tetapi karena begitu sayang pada Delfi dan khawatir jika jalan yang ditempuh Delfi sangat beresiko. Kawasan tempat Delfi mengajar rentan dengan gangguan preman, ajang permainan judi dan minuman keras, belum lagi prostitusi yang merebak. Bukan Delfi kalau dia menyerah begitu saja.

Seiring berjalannya waktu Delfi tak patah arang untuk meyakinkan orangtuanya bahwa apa yang saat ini ditempuh adalah jalan hidupnya. “Sekarang orangtua sudah tidak khawatir berlebihan seperti dulu,” ucapnya mantap. Benar, orangtua Delfi tidak perlu khawatir lagi sebab sekarang putri mereka telah membuktikan bahwa yang dilakukannya berbuah manfaat bagi anak-anak. Hal itu terbukti dengan perhatian dari pemerintah setempat yang berkenan mengunjungi sekolah alternatif itu. Belum lagi jumlah muridnya yang kian hari kian bertambah.

Tantangan tidak hanya berhenti sampai di situ, ada lagi yang jauh lebih berat. Kebanyakan orangtua anak-anak yang diajar oleh Delfi tidak percaya jika kegiatan belajar mengajar mereka murni belajar. Mereka khawatir akan diselipi oleh anjuran yang menyerempet pada keyakinan. “Sampai-sampai orangtua ikut mengawasi dari awal belajar sampai selesai. Dari situ terbukti bahwa tidak ada niat untuk berceramah mengenai keyakinan saya,” ungkap penikmat musik ini lirih. Delfi menegaskan bahwa apa yang dijalaninya murni untuk memberikan pengetahuan. Tak heran jika murid-murid Delfi berasal dari lintas agama dan suku.

Adakah Pendidikan Gratis?

Diakui Delfi, selama proses belajar mengajar yang sesekali hanya dibantu oleh satu orang suster dari Pondok Ozanam itu kerap menuai persoalan dana.Praktis biaya operasional selama ini hanya berasal dari donatur. Sekolah di kolong jembatan itu memang gratis, sebab tidak ada yang mampu membayar, jangankan untuk biaya pendidikan kebutuhan sehari-hari saja tidak mencukupi. Delfi tak bisa begitu saja mengandalkan bantuan dari pemerintah yang hingga kini belum pernah diberikan.

Adakah Delfi menyerah? Ternyata tidak dan masih bertahan hingga kini. Salah satu hal yang membuatnya semakin bersemangat ialah bahwa Delfi mengajar bukan sekadar simbol, tetapi dia benar-benar ingin mengajar dengan hati. Jika guru-guru yang mengajar di sekolah formal mayoritas mengajar sesuai dengan gaji atau jumlah jam sehingga perhatian kepada murid berkurang. Padahal, kata Delfi, anak-anak juga butuh dipahami apa yang mereka rasakan.

Anak-anak yang menjadi murid Delfi berusia mulai 3-12 tahun. Kegiatan belajar mengajar berlangsung di dua kawasan yakni gang 24 setiap hari Senin-Rabu pukul 10.00-11.30 dan gang 18 setiap Jum’at-Sabtu pukul 15.00-16.30. “Kami belajar sesuai dengan kurikulum nasional dan buku-buku sekolah yang diberikan oleh donatur, bahkan di gang 24 kami belajar di lesehan karena tidak ada meja dan kursi. Makanya saya lebih sering menyelipkan permainan agar mereka makin bersemangat,” ucapnya antusias.

Ketika ditanya mau sampai kapan mengajar, Delfi belum bisa menjawabnya. “Yang jelas jika saya masih dibutuhkan,” ungkapnya. Berpijak pada perjuangan yang akan terus dilakukan Delfi tersebut, sangat pantas jika Delfi mendapat julukan Mutiara. Meski berada di kolong jembatan, dirinya tetap bersinar indah dan cemerlang. Ada yang tidak setuju?


http://eckapunyacer ita.blogspot. com/2009_ 02_01_archive. html


Actions

Information

2 responses

31 03 2011
Beth

Saya berminat utk menjadi relawan. Bagaimana caranya?
Tolong reply ke email add sy di atas.
Terima kasih.

1 04 2011
ratna ariani

Terima kasih untuk kepedulian dan perhatiannya. Silahkan menghubungi Pondok Ozanam yang dikelola oleh Konggregasi Misi, Puteri Kasih di daerah warakas wilayah paroki Tnajung Priok St Fransiscus Xaverius. Mohon maaf saya tidak memiliki kontak lengkapnya, mungkin bisa menghubungi sekretariat paroki FX untuk alamat tepatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: