Meditasi Kristiani: Sebuah Kesaksian

14 05 2010

Dari: Ibu Maudy Sidharta (salah satu peserta Meditasi Kristiani) http://www.meditasikristiani.com

Surabaya, 31 Agustus 2007

Ibu, Bapa dan saudara2 sekalian,

Perkenankanlah saya membagi sedikit pengalaman saya selama saya ikut dalam kelompok Meditasi Kristiani ini.

Saya mulai ikut dalam kelompok Meditasi Kristiani ini sejak bulan Maret 2007, jadi baru 6 bulan saja. Sampai sekarang, saya masih bersyukur pada Tuhan, yang memungkinkan saya untuk dibimbing oleh Romo2 Karmelit dalam doa hening atau doa kontemplatip ini. Mengapa saya tertarik dengan Meditasi Kristiani ini? Ya, saya memang suka dengan doa hening. Jadi dengan terbentuknya kelompok  Meditasi Kristiani di kota Surabaya ini, saya merasa sungguh beruntung. Lalu apa yang saya cari dengan mengikuti kelompok Meditasi Kristiani ( http://www.meditasikristiani.com ) ini? Bukan kesaktian, bukan penyembuhan, bukan kesucian, atau yang lain2. Yang saya cari hanya satu, yaitu Tuhan Yesus.

Waktu baru mulai, saya tersandung dengan kata “MANTRA”. Kata itu menurut hemat saya mengandung “bau mistik” yang berkaitan dengan dukun2. Dan saya tidak suka dengan dukun2. Tetapi lama kelamaan, dengan diperbolehkannya mengganti kata “MANTRA” dengan “KATA SUCI” atau “KATA DOA”, maka saya tidak ambil pusing lagi. What is in a name? Mau disebut MANTRA, KATA SUCI, KATA DOA, itu tidak penting. Itu hanya suatu istilah. Mengapa saya harus tersandung karena satu istilah?!

Maka mulailah saya berlatih, 2x sehari selama 30 menit, pagi dan sore. Duduk dengan tenang, posisi punggung tegak, duduk serileks mungkin supaya bertahan selama 30 menit dan ucapkan dengan lembut mantramu: Ma-ra-na-tha. Dengarkan gemanya, jangan memikirkan apa2, hal2 sucipun tidak boleh. Saya pikir seperti orang ‘tolol’ dan bodoh. Namun saudara2, baru kemudian, saya mengerti bahwa itu semua ada maksudnya. Saya pikir memang, saya harus menjadi tolol dan bodoh, supaya saya dapat menjadi rendah hati. Dan dengan terus bertekun, dan hanya mengandalkan Tuhan saja yang luar biasa, lama2 saya insyaf bahwa saya ini sombong, selalu mau mengerti, selalu mau tahu, karena saya anggap saya ini tidak tolol atau bodoh tetapi pintar. Jadi disini saya belajar dengan latihan ini saya dilatih untuk menjadi rendah hati.

Dengan berlatih pagi dan sore, maka, mau tidak mau, dalam diri saya timbul suatu kerinduan, kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan. Kerinduan untuk duduk tenang bersama Tuhan dengan mengucapkan mantra. Kerinduan itu timbul meskipun saya belum dapat berlatih dengan penuh 2x sehari.

Tiap hari kamis pk 6 sore kelompok saya berkumpul bersama di Pendopo Susteran RKZ untuk bermeditasi bersama. Ini menjadi suatu titik terang bagi saya. Disitu saya menimba kekuatan. Kita saling mendukung, kita saling membagi pengalaman, apalagi sebelumnya kita selalu mendapat suatu permenungan yang memperkaya diri saya dalam hal spiritual. Seperti hal ‘kesederhanaan’, ‘kerendahan hati’, ‘kemurnian hati’, ‘kekosongan diri’, dll. Pada suatu saat saya berlibur selama 3 minggu. Acara liburan penuh, tidak ada waktu untuk bermeditasi, suasanapun tidak mendukung, kalau malam mau tidur, sudah capai, maka langsung tidur. Rasa rindu ada, tetapi suasana tidak mendukung dan waktu tidak ada badanpun terasa letih. Dari pengalaman ini saya simpulkan, bahwa pertemuan kelompok seminggu sekali itu sangat penting bagi saya. Tanpa itu saya tidak dapat bertahan, saya akan luntur dan mungkin akhirnya akan meninggalkan kelompok ini. Saya bayangkan, saya ini seperti sepotong arang, kalau berada dalam angklo dimana arang2 lain berpijar, saya akan dihangatkan bahkan ikut berpijar. Kalau sendirian diluar angklo, lama2 saya akan mati.

Saya juga menemukan bahwa Keheningan itu akhirnya adalah Tuhan. Jadi kalau saya melakukan meditasi sendiri dirumah, saya berada dekat dengan Tuhan. Saya merasa diselubungi oleh Tuhan karena keheningan itu menyelubungi saya.

Bagaimana dengan buah2 Roh ? Saya yakin bahwa buah2 Roh, lama kelamaan akan ditularkan pada saya. Dalam bahasa Belanda ada pepatah yang mengatakan: “Wie met pek omgaat wordt ermee besmet” Bisa diterjemahkan sbg berikut: “Siapa yang bergaul dengan orang tidak baik, lama2 tertular menjadi tidak baik pula.” Jadi menurut saya kalau saya 2x sehari mencari berada dekat pada Tuhan Yesus, niscaya lama kelamaan saya akan mirip denganNya. Itu doa saya.

Sekian Ibu, Bapa dan saudara2 , pengalaman saya selama ini.
Terima kasih.

Th. Maudy Sidharta
http://www.meditasikristiani.com

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: